Category Archives: Event

PERTEMUAN KLUB JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 14 NOVEMBER 2015

wpid-img-20151114-wa0006.jpg

Pada Sabtu, 14 November 2015 kembali digelar pertemuan rutin Klub Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT), di Ruang Kalimantan Lt. F2 Menara Kuningan, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan, 10.00 – 12.00 WIB.

Tema pertemuan hari itu adalah “Bukan Lagi Perjuangan Menggunakan Bambu Runcing”, dengan kata acuan “Gempur” yang mencoba mengingatkan kepada para peserta bahwa pola perjuangan di era globalisasi ini telah mengalami perubahan , antara lain dengan menumbuhkan semangat kebangsaan dan jiwa nasionalisme, memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan.

Sebagai Pengarah Acara adalah Iin dan Penilai Umumnya Fauzan, yang bertugas menilai semua aspek dalam pertemuan tsb, dari awal sampai akhir. Sementara itu Pembicara yang ambil bagian adalah Hariadi, Indri dan Diella.

***
Sebagai Pembicara pertama Hariadi membahas tema pada Buku Panduan Dasar 10 (BPD #10) yaitu “Mengilhami Pendengar” dengan judul “Mutiara Terpendam”.
Pria kharismatik ini mengawali pidatonya dengan memperagakan cara dirinya membaca sebuah buku.

Hariadi mengatakan bahwa sejak lahir sudah mengalami gangguan penglihatan permanen, akibatnya dirinya hanya dapat melihat tulisan berukuran cukup besar dan dari jarak sangat dekat. Namun semangat belajar pria tangguh ini tak pernah luntur sehingga ketika lulus SMA, Haridi menggondol predikat sebagai lulusan kedua terbaik, bahkan selanjutnya Hariadi berhasil meraih gelar pascasarjana di sebuah Perguruan Tinggi bergengsi di Indonesia.

Hariadi juga merasa bersyukur dapat mengasah kemampuan berbicara di depan umum dan kepemimpinan di Toastmasters.

Sebelum menutup pidatonya Pria ini berpesan “Jangan berputus asa meski ditawan oleh ketidaksempurnaan dan kekurangan, kita juga dianugerahi kelebihan. Mari kita gali potensi diri sampai menemukan mutiara-mutiara terpendam yang membuat hidup lebih berwarna, bermakna, dan mempesona.

Pembicara berikutnya adalah Indri yang membahas tema pada Buku Panduan Lanjutan (BPL) yaitu “Pidato Pihak Manajemen”,  Proyek #2 tentang “Menilai Melalui Pujian” dengan judul “Kita Bisa”.

Dalam hal ini Indri sebagai Menejer Penjualan memilik 5 tips untuk memberi masukan kepada stafnya, yaitu fokus pada hal-hal yang positif, berbicara singkat dan tepat, memuji kemajuan yang diperoleh, membuat ringkasan, dan membagi informasi. Di sisi lain Indri juga bertugas memberi masukan kepada staf yang kurang memenuhi target agar mereka membuat skala prioritas dari pelanggan supaya lebih efektif dan tepat sasaran.

Sebagai Pembicara terakhir Diella membahas tema pada BPL “Interpretasi Bacaan” yaitu Proyek #2 “Interpretasi Puisi”dengan judul “Pesan Suara”

Puisi yang dipilih Diella untuk diinterpretasi dan dibacakan adalah karya Paulus Bonniek Renggo dari buku kumpulan puisi “Tapak-Tapak Tak Bermakna”, yang diterbitkan pada Festival Ladelero 2005-2006, memuat karya penyair-penyair muda di Pulau Flores dan Lembata yang masih duduk di bangku SMA dan kuliah.

Meskipun sosok lembut yang punya hobby lari ini mengatakan bahwa membaca puisi di depan umum seperti ini adalah yang pertama dalam hidupnya, namun Yosephine (salah seorang audience) memujinya bahwa pembacaan puisi Diella keren dan penuh penjiwaan….

Dalam sebuah grup komunitas di jejaring sosial Diella mengungkapkan rasa terima kasih atas masukan-masukan dari Anggota Jabat yang mampu “menendangnya” dari zona nyaman bersuara datar.

***
Sesi selanjutnya adalah Sesi Pidato Dadakan yang dipandu oleh Phipien, sesi ini berguna untuk melatih kemampuan kita dalam memberi respon secara cepat, tepat, dan dalam kalimat yang struktur dan tatabahasanya baik dan benar untuk situasi-situasi, misalnya jika atasan meminta pendapat kita tentang satu hal, atau jika kita diminta memberi pendapat dalam suatu forum, atau dalam wawancara kerja.
Sementara Ucok sebagai Pemerhati Tata Bahasa mencatat pembicara yang menggunakan bahasa asing, bahasa daerah, kalimat yang rancu/ambigu, kata percakapan tak baku seperti‘nggak’, ‘cuma’, ‘aja’, ‘oke’, dsb, dalam pidato-pidato mereka.
Disamping itu Fazar sebagai “Penghitung Bunyi Tanpa Makna” pun masih menemukan penggunaan kata tanpa makna seperti ‘e’, ‘em’, ‘dong’, ‘deh’, ‘sih’, dan kata dari bahasa asing dan bahasa daerah dari beberapa pembicara.
Sebuah tugas yang tidak bisa diabaikan, diperankan oleh Fazar sebagai “Pencatat Waktu”, karena dalam berbagai pertemuan Klub Toastmasters, setiap pidato memiliki waktu yang sudah ditetapkan. Disisi lain Raja sebagai Pengumpul Kertas Suara bertugas mengumpulkan kertas suara serta memberi penjelasan cara menuliskan nama pembicara favorit pada setiap sesi, serta cara memberi komentar/ saran kepada pembicara yang bersangkutan.

Sebelum acara ditutup, Presiden Jabat menyematkan pin kepada Hariadi sebagai penghargaan atas prestasinya telah menyelesaikan pidato dari BPD#10, sehingga pantas mendapat predikat “CC” (Competent Communicator).

wpid-img-20151114-wa0011.jpg

Pin untuk Hariadi

***
Demikianlah pertemuan yang berlangsung di Menara Kuningan Sabtu, 14 November 2015 yang lalu, terasa sangat menyenangkan. Karena itu bagi yang berminat, ajak teman, keluarga atau pasangan Anda untuk ikut hadir di pertemuan JABAT berikutnya.

Mari kita isi akhir pekan dengan kegiatan yang bermanfaat dan mendidik.

PERTEMUAN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 31 OKTOBER 2015

IMG-20151031-WA0002

Pada Sabtu, 31 Oktober 2015 kembali berlangsung pertemuan rutin Klub Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT), di Ruang VIP Lt. F3 Menara Kuningan, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan, 10.00 – 12.00 WIB.

Tema pertemuan rapat Jabat hari itu adalah “Kewirausahaan”, dengan kata acuan “Bahang”. Bahang  dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti antara lain adalah hawa panas yang terjadi karena nyala api atau dari panas tubuh.

Sebagai Pengarah Acara adalah Iin, sedangkan Penilai Umumnya Ucok yang bertugas menilai semua aspek dalam pertemuan tsb, dari awal sampai akhir pertemuan. Sementara Pembicara yang tampil Yosephine, Nila, Chepi, dan Ade.

***

Sebagai Pembicara pertama, Yosephine mengambil tema dari Buku Panduan Dasar 1 atau BPD#1, tentang “Mencairkan Kekakuan”, dengan judul “Harta Paling Berharga”.

Gadis manis ini mengatakan bahwa harta yang paling berharga baginya adalah keluarga. Pipin begitu nama kesayangannya, bercerita tentang 3 hal penting dalam keluarganya, yaitu kasih sayang, dukungan dan waktu.

Di akhir pidatonya Pipin mengatakan bahwa keluarga bahagia bukanlah keluarga yang kaya raya, tapi adalah keluarga yang senantiasa bersyukur dan saling menghargai satu sama lain.

Nila yang tampil pada pidato ketiga, mengangkat tema pada BPD#3 “Langsung ke Inti Masalah” dengan judul “Saatnya Melakukan Perubahan”.

Nila membahas tentang pemanasan global, yaitu suatu proses meningkatnya suhu rata-rata udara di permukaan bumi secara signifikan yang disebabkan oleh gas-gas rumah kaca, hasil aktivitas manusia seperti gas carbondioksida (CO2), gas metana (CH4), dsb dalam jumlah yang berlebihan. Selanjutnya Nila juga menguraikan tentang 3 aktivitas utama manusia yang menghasilkan gas rumah kaca, yaitu peternakan, bahan bakar fosil, dan listrik.

Dalam pidatonya tidak lupa Nila mengutip kata-kata bijak seorang Leo Tolstoy, bahwa “Semua orang berpikir tentang mengubah dunia, tapi tidak ada yang berpikir untuk mengubah dirinya sendiri”.

Sebagai Pembicara berikutnya Cephi, membahas tema pada BPD#4 “Ucapkan dengan Benar” dengan judul “Nostalgia Masa Kecil”.

Bankir muda ini berkisah tentang masa kecilnya ketika bermain pesawat dari kertas, main kelereng, main engklek atau sondah, baik yang dimainkan secara perorangan atau kelompok, bahkan ada juga permainan yang diiringi dengan nyanyian.

Beberapa manfaat dari permainan-permainan tradisional di atas antara lain untuk mengembangkan kecerdasan intelektual dan emosional, kreatifitas, bersosialisi serta melatih kemampuan motorik.

Sebagai penutup Cephi berpesan, agar membiarkan anak-anak bermain meluapkan kebahagian, seperti slogan teranyar dari sebuah produk yaitu “Tidak kotor tidak belajar”.

Terakhir, yang berpidato adalah Ade dengan mengambil tema pada Buku Panduan Lanjutan (BPL) “Humas” proyek “Pidato untuk Memberikan Citra Positif” berjudul “Seni Berbicara”.

Anak muda enerjik ini berpidato sambil berlatih melaksanakan rencana kerjanya sebagai Kepala Bidang Pendidikan Jabat. Ade yang akan tampil dihadapan para Mahasiswa sebuah Universitas ternama di negeri ini, ingin meyakinkan bahwa mahasiswa harus menyadari bahwa seni berbicara merupakan keterampilan penting yang harus dimiliki oleh seseorang apabila ingin sukses, karena dengan kemampuan komunikasi yang baik, pesan kita dapat dipahami oleh orang lain.

Ade yang juga seorang Bankir sebuah Bank terbesar di negeri ini, menyimpulkan bahwa Toastmasters merupakan organisasi yang tepat untuk meningkatkan seni berbicara yang kita miliki, mengasah kecakapan berkomunikasi dan kepemimpinan , untuk mempertebal rasa percaya diri dan meningkatkan kualitas pribadi.

***

Sesi selanjutnya adalah Sesi Pidato Dadakan yang dipandu oleh Aji, Sesi ini berguna untuk melatih kemampuan kita dalam memberi respon secara cepat, tepat, dan dalam kalimat yang struktur dan tatabahasanya baik dan benar untuk situasi-situasi, misalnya jika atasan meminta pendapat kita tentang satu hal, atau jika kita diminta memberi pendapat dalam suatu forum, atau dalam wawancara kerja.

Sementara Fauzan sebagai Pemerhati Tata Bahasa mencatat pembicara yang menggunakan bahasa asing, bahasa daerah, kalimat yang rancu/ambigu, kata percakapan tak baku seperti‘nggak’, ‘cuma’, ‘aja’, ‘oke’, dsb, dalam pidato-pidato mereka.

Satu lagi Bankir Jabat yaitu Dwiana sebagai “Penghitung Bunyi Tanpa Makna” pun masih menemukan penggunaan kata tanpa makna seperti ‘e’, ‘em’, ‘dong’, ‘deh’, ‘sih’, dan kata dari bahasa asing dan bahasa daerah dari beberapa pembicara.

Sebuah peran yang cukup penting dilakukan oleh Bopha sebagai Pencatat Waktu, karena dalam pertemuan-pertemuan Klub Toastmaster, setiap pidato memiliki waktu yang sudah ditetapkan. Sementara Hans sebagai Pengumpul Kertas Suara bertugas mengumpulkan kertas suara serta memberi penjelasan cara menuliskan nama pembicara favorit pada setiap sesi serta cara memberi komentar/ saran kepada pembicara yang bersangkutan.

IMG-20151031-WA0006

***

Demikianlah pertemuan yang berlangsung di Menara Kuningan Sabtu, 31 Oktober 2015 yang lalu, begitu hangat dan menyenangkan. Karena itu bagi yang berminat, ajak teman, keluarga atau pasangan Anda untuk ikut hadir di pertemuan JABAT berikutnya.

Mari kita isi akhir pekan dengan kegiatan yang bermanfaat dan mendidik.

PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 24 OKTOBER 2015

Para Juara

Para Juara

Pada Sabtu, 24 Oktober 2015 kembali berlangsung pertemuan rutin Jakarta Bahasa Toastmasters Klub (JABAT), di Ruang VIP Lt. F3 Menara Kuningan, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan, dari pukul 10.00 – 12.00 WIB.

Tema pertemuan adalah “Persaudaraan”, dengan kata acuan “Lekat”.

Kali ini yang bertugas sebagai Pengarah Acara adalah Indri sedangkan Penilai Umumnya Aji yang bertugas menilai semua aspek dalam pertemuan tsb, dari awal sampai akhir pertemuan.

Pembicara yang tampil yaitu Fauzan dan Harlina.

***

Sebagai Pembicara pertama, Fauzan mengambil tema dari Buku Panduan Dasar 4 atau BPD#4, tentang “Ucapkan dengan Benar” berjudul “Berfikir Positif”.

Pemuda dengan latar belakang Teknologi Informasi (TI) ini, bercerita tentang kekuatan dan makna berfikiran positif yang intinya mengatakan bahwa kita semua menjadi apa yang kita pikirkan, karena pikiran kitalah yang memberikan energy pada semua sistem di tubuh kita.

Sementara itu Hariadi sebagai penilai Fauzan, mengatakan bahwa pidato tersebut singkat, jelas dan mudah dipahami, namun demikian akan lebih menarik lagi jika Fauzan bias menyisipkan pengalaman pribadi di dalamnya.

Selanjutnya Harlina sebagai pembicara berikutnya mengambil tema dari Buku Panduan Lanjutan atau BPL, tentang “Pidato Khusus”, proyek “Membaca dengan Lantang”, berjudul “Hang Tuah”.

Harly begitu sapaan akrab beliau, bercerita tentang seorang kesatria Melayu yang dikenal sebagai Laksamana terhebat yaitu Hang Tuah bersama empat orang sahabatnya Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir dan Hang Lekiu.

Sosok mereka sangat ditakuti oleh para perompak di seantero Selat Malaka. Hikayat tsb diangkat dari sebuah Cerita Rakyat Nusantara yang dikisahkan kembali oleh Harly dengan cara yang luar biasa, wanita hebat ini ternyata sangat piawai dalam bercerita, sehingga membuat penonton terbuai, bahkan Johan sebagai penilai Harly juga sependapat, bahwa cara Harly berpidato sangat baik dan penuh penghayatan.

***

Sesi selanjutnya adalah Sesi Pidato Dadakan yang berguna untuk melatih kemampuan kita dalam member respon secara cepat, tepat, dan dalam kalimat yang struktur dan tatabahasanya baik dan benar untuk situasi-situasi, misalnya jika atasan meminta pendapat kita tentang satu hal, atau jika kita diminta memberi pendapat dalam suatu forum, atau dalam wawancara kerja.

Sesi yang dipandu oleh Wiwin ini mampu mengajak hampir semua tamu untuk ikut terlibat dan berperan dalam menjawab 10 pertanyaan dan pernyataan yang sangat menarik darinya.

Sementara Dedy sebagai Pemerhati Tata Bahasa mencatat bahwa cukup banyak pembicara yang masih menggunakan bahasa asing, bahasa daerah, kalimat yang rancu/ambigu, kata percakapan tak baku seperti‘nggak’, ‘cuma’, ‘aja’, ‘oke’, dsb, dalam pidato-pidato mereka.

Harus diingat, kalau bukan kita yang menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Siapa lagi ?

Sejalan dengan Nila yang bertugas sebagai “Penghitung Bunyi Tanpa Makna”, Nila masih menemukan penggunaan kata tanpa makna seperti ‘e’, ‘em’, ‘dong’, ‘deh’, ‘sih’, dan kata dari bahasa asing dan bahasa daerah dari beberapa pembicara.

Yang tidak bisa dilupakan juga adalah peran Martie sebagai Petugas Pencatat Waktu, karena dalam pertemuan-pertemuan Klub Toastmaster, setiap pidato memiliki waktu yang sudah ditetapkan, demikian juga dengan Pipin sebagai Pengumpul Kertas Suara yang bertugas mengumpulkan kertas suara serta memberi penjelasan cara menuliskan nama pembicara favorit pada setiap sesi serta cara memberi komentar/ saran kepada pembicara yang bersangkutan.

***

Kehadiran tamu yang cukup banyak menjadi suatu kebahagian tersendiri bagi anggota Jabat hari itu, apalagi juga dihadiri oleh dua orang petinggi Toastmasters, seperti Fransiska Purnamasari (Direktur Area J Distrik 87) dan Samoati Siringgoringo (Asisten Direktur Area J Bidang Program Kualitas).

IMG-20151024-WA0012

PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 17 OKTOBER 2015

IMG-20151018-WA0007

Pada Sabtu, 17 Oktober 2015 berlangsung pertemuan rutin Jakarta Bahasa Toastmasters Klub (JABAT), di Ruang VIP Lt. F3 Menara Kuningan, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan (seberang Kedutaan Besar Australia), dari Pukul 10.00-12.00 WIB.

Tema pertemuan adalah “Hijrah Menuju Kebaikan”, dengan kata acuan “Eksodus”.

Tentu saja pemilihan tema tsb sehubungan dengan Tahun Baru Islam, 1 Muharram yang jatuh pada 14 Oktober 2015. Sementara itu yang bertugas sebagai Pengarah Acara adalah Harly.

Pengarah Acara kali ini, dibantu oleh Penilai Umum Bopha yang bertugas menilai semua aspek dalam pertemuan tsb, dari awal sampai akhir pertemuan.

Pembicara yang tampil yaitu Dedy, Indri dan Iin.

***

Sebagai Pembicara pertama, Dedy mengambil tema dari Buku Panduan Dasar 4 atau BPD#4, tentang “Ucapkan dengan Benar” berjudul “Kenangan Masa Kecil”.

Baoak dari dua orang anak ini menceritakan tentang kenangan masa kecilnya ketika setiap pagi berangkat ke sekolah, berjalan, berlari bahkan berlompatan di pematang sawah dan parit-parit kecil, memandangi sawah yang menghijau dan merasakan amisnya aroma lumpur.

Sementara itu Aji sebagai penilai pidato di atas, menyukai pembukaan dan penutupan pidato Dedy diantaranya adalah “Masa kecil adalah masa yang paling indah, masa – masa yang tidak akan penah ulang lagi”, dan “Saya rindu dengan sawah, saya rindu dengan bau lumpur, dan saya rindu dengan Ibu, mahkluk ciptaan Tuhan yang sangat sempurna buat saya”.

Pembicara berikutnya adalah Indri yang mengambil tema dari Buku Panduan Lanjutan atau BPL, tentang “Public Relation” yang berjudul “Pelajaran Mahal”. Gadis berkult putih ini bertindak sebagai Humas di sebuah perusahaan yang ditimpa prahara, karena kecelakaan kerja mengakibatkan dua orang pekerja tewas. Indril ditugaskan untuk memberikan penjelasan kepada pekerja yang lain sekaligus menjawab pertanyaa para wartawan dari berbagai media cetak maupun elektronik.

Kali ini yang bertidak sebagai evaluator adalah Hariadi, yang menyatakan bahwa Indri telah berhasil melaksanakan tugas sebagai Humas di perusahaannya, mencarikan jalan penyelesaian terbaik dan berhasil menjaga citra serta reputasi perusahaan.

Sebagai pembicara penutup, Iin mengambil tema BPL tentang “Pidato Persuasif”, Proyek#1 “Wiraniaga yang Efektif”, berjudul “Menjual dengan Persuasif”. Kali ini Sang Ibu Presiden Jabat berakting sebagai seorang Wiraniaga yang profesional ketika menawarkan sebuah barang kepada pengunjung, sehingga membuat orang tertarik bahkan membeli barang tersebut.

Sementara Ade sebagai Penilai pidato terakhir ini, mengatakan bahwa Iin telah mampu melakukan pendekatan yang baik kepada pelanggan, sekaligus peduli terhadap kebutuhan mereka. Namun satu hal yang tidak boleh dilupakan yaitu memberikan informasi harga barang yang ditawarkan.

***

Sesi selanjutnya adalah Sesi Pidato Dadakan yang berguna untuk melatih kemampuan kita dalam memberi respon secara cepat, tepat, dan dalam kalimat yang struktur dan tata bahasanya baik dan benar untuk situasi-situasi, misalnya jika atasan meminta pendapat kita tentang satu hal, atau jika kita diminta memberi pendapat dalam suatu forum, atau dalam wawancara kerja.

Sesi ini dibawakan dengan sangat baik oleh Hariadi yang memandu acara dengan format yang sedikit berbeda dari yang biasa, namun sangat menarik. Hariadi sekaligus menampilkan dua peserta, keduanya harus menjawab satu pernyataan darinya, sedangkan jawaban yang satu pro dan yang lainya kontra.

Sementara Johan sebagai Pemerhati Tata Bahasa mengingatkan kita bahwa masih banyak yang perlu ditingkatkan dalam ber-Bahasa Indonesia yang baik dan benar, seperti struktur kalimat, kalimat yang rancu/ambigu, kata percakapan tak baku (misalnya ‘nggak’, ‘cuma’, ‘aja’, ‘oke’, dsb), kata dari bahasa asing dan kata dari bahasa daerah.

Sedangkan Bopha sebagai Penghitung bunyi tanpa makna juga masih mencatat penggunaan kata tanpa makna seperti ‘e’, ‘em’, ‘dong’, ‘deh’, ‘sih’, dan kata dari bahasa asing dan bahasa daerah dari beberapa pembicara.

Sesi selanjutnya adalah Sesi Berbagi sebagai acara spesial yang hanya ada di Jabat, disampaikan oleh Thomas dengan judul “Kepemimpinan yang Efektif”. Pria enerjik ini bercerita tentang pengalamannya pertama kali datang ke Toasmasters khususnya Jabat, hingga dirinya mempunyai kemampuan yang baik dalam berkomunikasi.
***

Sebelum rapat ditutup, Iin sebagai Pemimpin tertinggi di Jabat mengumumkan bahwa dari 10 poin yang ditargetkan setiap klub di Toastmasters untuk mencapai Distinguished Club Program (DCP), saat ini Jabat sudah mendapatkan tiga poin yaitu dari: 1) Prestasi anggota Jabat atas nama Indri yang berhasil memperoleh predikat Compotent Leader (CL); 2) Penambahan empat orang Anggota baru Jabat; 3) Perpanjangan keanggotaan dan Laporan Pengurus baru yang tepat waktu.

Sementara itu anggota Jabat atas nama Indri juga telah mencapai predikat Advanced Communicator Bronze (ACB) yang belum sempat dilaporkan juga mendapatkan satu poin lagi, dan jika satu anggota lagi dapat menyelesaikan 10 proyek (baru 8 proyek yang dilakukan) akan mendapat satu poin lagi. Sehingga total memperoleh 5 dari 10 poin yang ditargetkan, dengan demikian Jabat sudah mendapat penghargaan sebagai Distinguished Club Award (DCA).

***

Acara Rapat dihadiri oleh beberapa orang tamu bahkan ada yang dari luar Jakarta, juga hadir diantaranya anggota lama yang ingin kembali berkiprah di Jabat.

IMG-20151018-WA0015

Penyematan Pin kepada Indri yang meraih gelar ACB (Advanced Communicator Bronze)

IMG-20151018-WA0014

Ade sebagai Penilai Individu Terfavorit dan Pipin sebagai Pembicara Pidato Dadakan Terfavorit

UNDANGAN PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 17 OKTOBER 2015

FB_IMG_1444950068218

Klub Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT) kembali mengundang Anda untuk hadir dan melihat bagaimana metode belajar pidato ber-Bahasa Indonesia yang dibawakan dengan cara menyenangkan. Acara akan diadakan pada Sabtu, 17 Oktober 2015, di Ruang VIP Lt. F3 Menara Kuningan, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan (seberang Kedutaan Besar Australia), Pukul 10.00-12.00 WIB.

Jangan lupa, ajak teman, keluarga atau pasangan Anda ya….. untuk ikut hadir di pertemuan seru JABAT. Yuk…..kita isi akhir pekan dengan kegiatan yang bermanfaat dan mendidik.

Silahkan hubungi Aji (Kabid Humas JABAT) di nomor 0899-8950-490 atau Cephi (Seksi Logistik JABAT) di nomor 0813-1063-4803, sampai ketemu di Menara Kuningan…..!!!

Ingat, Sabtu, 17 Oktober 2015 …….!!!

PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 10 OKTOBER 2015

IMG-20151010-WA0006

Pada Sabtu, 10 Oktober 2015 berlangsung pertemuan rutin Jakarta Bahasa Toastmasters Klub (JABAT), di Ruang VIP Lt. F3 Menara Kuningan, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan (seberang Kedutaan Besar Australia), dari Pukul 10.00-12.00 WIB.

Tema pertemuan adalah “Angkatan Bersenjata, Sang Pembela Negara”, dengan kata acuan “Pejuang”.

Pemilihan tema tsb sehubungan dengan ulang tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang jatuh pada 5 Oktober 2015. Oleh sebab itu Pengarah Acara Eni, sebagai seorang anak Veteran dengan percaya diri memakai kaos berwarna hijau loreng ala Prajurit TNI.

Pengarah Acara Eni, dibantu oleh Penilai Umum Iin yang bertugas menilai semua aspek dalam pertemuan hari itu, dari awal sampai akhir pertemuan.

Pembicara yang tampil yaitu Thomas, Fauzan dan Ucok.

***

Sebagai Pembicara pertama Thomas, mengambil tema dari Buku Panduan Dasar atau BPD#2, tentang “Menyusun Naskah Pidato” dengan “E-commerce”.

Pria berpenampilan rapi ini memperkenalkan e-commerce sebagai perdagangan secara elektronik, komponen pembeli yg mendukungnya, aturan main, serta perkembangan e-commerce di Indonesia.

Sementara itu Ade sebagai penilai pidato Thomas memuji kemampuan pria ini dalam menyampaikan pidatonya, meskipun masih diperbolehkan menggunakan catatan, namun hal itu tidak dilakukan oleh Thomas.

Pembicara berikutnya adalah Fauzan yang mengambil tema dari BPD #3, tentang “Langsung ke Tujuan”, berjudul “Benda Antik”.

Pada kesempatan tsb anak muda ini becerita tentang benda kesayangannya Vespa produksi 1965 yang diberi nama “Si Imut”. Benda antik ini telah menemaninya sejak kuliah hingga saat ini, dengan berbagai kenangan yang telah dilalui bersama.

Menurut Fauzan terdapat tiga keuntungan memiliki kendaraan seperti Vespa ini yaitu solidaritas, hemat, dan awet. Sebagai penutup Fauzan mengatakan bahwa benda antik tak selamanya terlihat murahan atau kurang gaya, semakin lama umur benda tersebut maka semakin tinggi nilainya.

Indri sebagai penilai pidato Fauzan merasa sangat senang dan terhibur, karena anak muda ini bisa membuat para penonton bahagia dan tertawa ceria.

Sebagai pembicara terakhir Abdul Manap Pulungan mengambil tema BPD #6, tentang “Teknik Vokal”, berjudul “Perjuangan Haru Biru”. Kali ini Sang Peneliti muda ini bercerita tentang perjuangan seorang Ibu hingga menjual barang yang paling berharga miliknya yaitu mahar pernikahan untk membiayai sekolah anak-anaknya.

Sementara Harlina sebagai Penilai pidato Pulungan mengatakan bahwa anak muda ini sudah mampu menjadi Evaluator untuk pembicara-pembicara yang akan datang di Toastmasters.

**

Sesi selanjutnya adalah Sesi Pidato Dadakan yang berguna untuk melatih kemampuan kita dalam memberi respon secara cepat, tepat, dan dalam kalimat yang struktur dan tata bahasanya baik dan benar untuk situasi-situasi, misalnya jika atasan meminta pendapat kita tentang satu hal, atau jika kita diminta memberi pendapat dalam suatu forum, atau dalam wawancara kerja.

Sesi ini dipandu oleh Ucok yang banyak menanyakan tentang hal-hal yang berhubungan dengan perjuangan sesuai dengan kata acuan hari itu.

Sementara Cephi sebagai Pemerhati Tata Bahasa mengingatkan kita bahwa masih banyak yang perlu ditingkatkan dalam ber-Bahasa Indonesia yg baik dan benar, seperti struktur kalimat, kalimat yang rancu/ambigu, kata percakapan tak baku (misalnya ‘nggak’, ‘cuma’, ‘aja’, ‘oke’, dsb), kata dari bahasa asing dan kata dari bahasa daerah.

Sedangkan Bopha sebagai Penghitung bunyi tanpa makna mengingatkan pembicara agar mengurangi penggunaan kata tanpa makna seperti ‘e’, ‘em’, ‘dong’, ‘deh’, ‘sih’, dan kata dari bahasa asing dan bahasa daerah.

***

Acara Rapat dihadiri juga oleh beberapa orang tamu, yang sebagian besar sangat tertarik dengan cara dan sistem belajar berpidato di JABAT apalagi dilakukan dalam suasana yang menyenangkan dan penuh persahabatan.

Terfavorit

Terfavorit

PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 26 SEPTEMBER 2015

IMG-20150926-WA0014

Pada 26 September 2015 berlangsung pertemuan rutin Jakarta Bahasa Toastmasters Klub (JABAT), di Ruang VIP Lt. F3 Menara Kuningan, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan (seberang Kedutaan Besar Australia), dari Pukul 10.00-12.00 WIB.

Tema pertemuan adalah “Teknologi” dengan kata acuan “Gawai” , dan yang tampil terdiri dari 5 pembicara, yaitu Hariadi, Iin, Ade, Indri, dan Lesmana.

62811918303

Hariadi

Sebagai pembicara pertama Hariadi mengangkat topik tentang “Waspadalah terhadap Penyakit Alzheimer” dari Buku Panduan Dasar 9 (BPD#9) – “Kemampuan Mempengaruhi”. Pria yang kharismatik ini menjelaskan bahwa Alzheimer adalah penurunan fungsi otak yang mempengaruhi daya ingat, emosi, perilaku, dan fungsi otak lainnya. Alzheimer diklaim belum dapat disembuhkan, adapun obat yang ada hanya memperlambat progresifitas dan gejala penyakit ini.

Untuk mengurangi risiko terkena Alzheimer dapat dilakukan dengan melatih otak secara berkala, salah satunya dengan rajin mengisi Teka-teki Silang (TTS). Menurut Direktur UCLA Center on Aging Alzheimer, dokter Gary Small, yang juga professor psikiatri di UCLA’s Neuropsychiatric Institute, dengan mengisi teka-teki silang dapat menjadi sarana rekreasi bagi otak, sehingga dapat mengurangi stres, karena saat mengisi teka-teki silang kita melakukannya tanpa beban, melainkan semata-mata demi kesenangan. Selain itu, mengisi TTS juga memiliki manfaat lainnya, yakni menambah pengetahuan, dan mengasah otak.

Hariadi menambahkan bahwa semakin kaya perbendaharaan kata, semakin mudah bagi kita untuk mengemukakan gagasan secara lisan maupun tulisan. Pengetahuan yang luas, otak yang tajam, dan perbendaharaan kata yang kaya adalah modal kita meraih sukses.

***

Iin

Iin

Sebagai pembicara ke-2, Iin berpidato tentang “Etalase Jabat” dari BPL (Buku Panduan Lanjutan) seri “Pidato Informatif”, proyek nomor 1, yaitu ”Untuk Memberi Informasi” yang intinya mengajak anggota Jabat segera memperpanjang keanggotaannya.

***

Ade sebagai pembicara ke-3 mengangkat tema “Secangkir Kopi Perubahan” dari BPL seri “Pembicara Profesional”, menyinggung mengenai konsep perubahan yang telah menjadi kodrat dan tidak dapat disangkal.

Ade

Ade

Terdapat 3 alasan mengapa seseorang harus berubah, diantaranya untuk bertahan hidup, untuk menjadi lebih baik dan untuk belajar dari kesalahan.

Anak muda yang enerjik ini menekankan bagaimana dirinya mengambil hikmah dari setiap kesalahan, seperti yang dialaminya ketika mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional beberapa tahun lalu, hanya karena keterlambatan waktu beberapa saat saja akhirnya dewan juri mendiskualifikasi dirinya, kesalahan tersebut menjadikan pelajaran berharga untuk tidak mengulang hal yang sama dan semakin menghargai waktu.

***

IMG-20150926-WA0007-1

Indri

Indri, sebagai pembicara berikutnya yang mengangkat tema “Badai Pasti Berlalu” dari BPL seri “Humas”, proyek nomor 4, menunjukkan makna segala penderitaan atau permasalahan pasti ada akhirnya.

Dara ayu ini menjelaskan bahwa dalam dinamika kehidupan kita akan mengalami badai atau masalah, dan hendaknya kita harus yakin semuanya pasti akan berakhir. Demikan pula dengan kondisi perusahaan/ organisasi yang saat ini sedang mengalami badai atau masalah.

Contohnya adalah kemerosotan nilai tukar mata uang (depresiasi). Fenomena terdepresiasinya nilai tukar rupiah berdampak pada ekspor dan impor Nasional. Dengan kondisi ekonomi yang memburuk dimana harga barang-barang naik, daya beli masyarakat yang menurun, nilai rupiah yang terus anjlok, tentu saja mempengaruhi kondisi perusahaan.

Dengan sangat terpaksa pihak manajemen mengambil keputusan untuk tidak menaikkan gaji ataupun memberikan bonus, keputusan yang sangat berat ini terpaksa dilakukan untuk mempertahankan jumlah tenaga kerja yang ada.

Indri menghimbau agar semua pihak baik dari level yang paling atas maupun yang paling rendah sama-sama mengencangkan ikat pinggang dan melakukan penghematan untuk mengurangi biaya produksi.

***

Lesmana

Lesmana

Dalam kesempatannya sebagai narasumber terakhir, Lesmana bercerita mengenai “Kelinci yang Cerdik” yang bekerjasama dengan macan, sehingga kelinci tersebut dapat terhindar dari bahaya diterkam serta dimakan oleh binatang yang lebih kuat. Pidatonya ini diambil dari BPL seri “Bercerita”, proyek nomor 1, “Dogeng”.

Cerita tersebut memberikan makna bahwa setiap kita pasti mempunyai kelebihan/ kekuatan dan sekaligus kelemahan. Untuk menjadi sukses, kita harus tau apa kekuatan dan kelemahan kita serta harus bersinergi dengan orang lain yang dapat menutupi kelemahan tersebut. Demikian pula dalam suatu komunitas seperti JABAT, kita dapat memilih dengan siapa kita bisa berpartner dan bersinergi menuju sukses bersama, kata pria berkaca mata ini mengakhiri pidatonya.

***

Acara rapat yang menyenangkan ini, dibawakan dengan sangat baik oleh seorang anak muda tampan bernama Fauzan, istimewanya lagi rapat juga dihadiri oleh para senior Toasmaster diantaranya Bapak Prof DR Ing Wardiman Djojonegoro, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI periode 1993-1998.

PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 19 SEPTEMBER 2015

J1443077369365

Pada 19 September 2015 di Jakarta, berlangsung pertemuan rutin Jakarta Bahasa Toastmasters Klub (JABAT), Ruang VIP Lt. F3 Menara Kuningan, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan (seberang Kedutaan Besar Australia), dari Pukul 10.00-12.00 WIB.
Tema pertemuan adalah “Tujuan Hidup” dengan kata acuan “Resolusi” , dan yang tampil terdiri dari 4 pembicara, yaitu Reva, Fauzan, Ucok dan Yudha.

***
Sebagai pembicara pertama, Reva memulai pidatonya yang berjudul “Produk Masa Lalu” dari Buku Panduan Dasar Pertama (BPD#1- Mencairkan Kekakuan).
Menurut Reva kita adalah produk masa lalu, Reva memiliki tiga benda yang dapat menggambarkan perjalan hidupnya yaitu buku fisika, netbook dan Kartu Identitas Mahasiswa.

Karena menyukai fisika, ketika itu Reva memilih Jurusan Pendidikan Fisika di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Lampung, meskipun akhirnya Reva memutuskan untuk keluar dan masuk ke dunia kerja, kemudian pindah ke Yogya dan bekerja di sana,

Saat berada di dunia kerja inilah yang dilambangkan oleh Reva sebagai netbook. Reva menambahkan bahwa ternyata dunia kerja tidak membuatnya merasa nyaman akhirnya kembali ke Lampung dan mempersiapkan diri menghadapi ujian masuk Perguruan Tinggi (PT).

Berbekal pengalamannya di dunia kerja, gadis ini merasa pentingnya komunikasi, yang memberi keyakinan kepadanya untuk kuliah di Jurusan Komunikasi. Suatu kali atas ajakan temannya Reva mengikuti pertemuan rutin Toastmasters, yang membuatnya sangat terkesan untuk bergabung.

Mulai saat itu Reva membuat resolusi bahwa dirinya harus kuliah di Jakarta dan belajar dengan Toastmasters. Keinginannya terkabulkan karena diterima di Universitas Indonesia (UI) pada Jurusan Komunikasi Periklanan yang dilambangkannya dengan Kartu Identitas Mahasiswa, serta bergabung dengan JABAT.

Reva mengatakan bahwa keputusannya mengundurkan diri dari PT, membuatnya belajar memperbaiki kapasitas diri dan mampu membuat keputusan sendiri.

Sebagai penutup dari pidatonya Reva menyampaikan serangkaian kata-kata bijak “Masa lalu adalah pengalaman, masa depan adalah misteri, dan masa kini masa yang harus dijalani”.

***
Pembicara selanjutnya adalah Fauzan, pidatonya dari BPD#2 – Menyusun Naskah Pidato dengan judul “Kampung Inggris”.
Fauzan menceritakan pengalamannya selama dua bulan di Pare, Kediri, Jawa Timur. dan alasannya datang ke sini antara lain karena biaya hidup murah, baik harga makanan, sewa kos maupun biaya kursus. Namun, meskipun murah tapi kualitasnya tidak murahan, disamping udara yang segar berbeda dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Setiap hari, aktivitas anak muda ini hanyalah belajar, belajar, dan belajar, berangkat ke tempat kursus dengan bersepeda, mulai dari terbit matahari hingga senja di tempat kursus yang berbeda beda. Jika libur tiba, Fauzan adalah menikmati senja di tengah hamparan sawah yang luas nan hijau sembari berdiskusi tentang kehidupan dengan sahabat-sahabat barunya, bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang budaya, misalnya dari Papua, Lombok, Makassar, bahkan Malaysia, dan Thailand. Mereka berkumpul di sana untuk tujuan yang sama, yaitu meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris sehingga atmosfirnya sangat mendukung.

Fauzan mengatakan bahwa terdapat 3 hal penting yang harus dimiliki para “pejuang mimpi” kampung Inggris yaitu mempunyai tujuan hidup yang jelas, Komitmen dan Lingkungan. Fauzan mengajak rekan-rekan JABAT untuk berkunjung ke kampung Inggris di Pare, Kediri sebagai tempat yang sangat cocok untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris.

Menurut Fauzan “Impian tinggi itu gratis, namun untuk mewujudkannya harus dibayar dengan proses atau tindakan, karena impian dan tindakan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan”.

***
Pembicara selanjutnya adalah Ucok yang berpidato dengan judul “Itulah Jodoh” dari BPD#5 . Menurut Ucok “Siapa pun itu, dialah yang terbaik untuk kita. Sayangi, pahami, dan berbahagialah….!!!”
Menemukan tambatan hati bukan merupakan hal yang mudah, banyak proses yang menyulut emosi, baik tawa maupun air mata.

Ada beberapa proses yang membutuhkan perjuangan dalam mencari pasangan hidup, yaitu tahap mencari pasangan, proses meyakinkan dan tahap eksekusi, yang merupakan titik kulminasi dari tujuan anda mendapatkan pasangan.

Sebagai seorang Peneliti di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ucok mengatakan bahwa proses mencari pasangan memang melelahkan, tetapi itu adalah proses alami yang harus dinikmati. Perlu perjuangan untuk menemukan pasangan hebat sehingga menghasilkan keturunan hebat.  Namun demikian, harus disadari bahwa “Jodoh itu tidak bisa dikejar saat dia belum datang, dan tidak bisa ditolak saat dia datang. Layaknya ajal...,” demikian Bapak seorang anak ini mengakhiri pidatonya.

***
Sebagai pembicara penutup Yudha berpidato dengan judul “Alasan yang membuat Anda Datang ke Yogya” dari Buku Panduan Dasar ke-8 (BPD#8) – Penggunaan Alat Bantu.
Menurut Yudha, Yogyakarta terkenal sebagai kota tujuan wisata di negeri ini, apa sebenarnya yg menjadikan kota ini menarik bagi wisatawan domestik dan mancanegara untuk datang? Ada 3 alasan diataranya adalah obyek wisata lengkap, akses mudah dan biaya hidup murah.

Yogyakarta selain sebagai kota wisata juga terkenal sebagai kota pelajar, hal ini membuat biaya hidup di sini jauh lebih murah dibandingkan dengan kota tujuan wisata lainnya. Biaya obyek wisata di Yogyakart relatif murah sekitar Rp 3.000 bahkan ada yang gratis.

Pada akhir pidatonya anak muda berkacamata ini menyatakan bahwa Yogyakarta adalah kota istimewa, kota wisata yang menawarkan variasi obyek wisata yang lengkap, ditambah dengan keramah tamahan warganya yang siap menyambut Anda.

UNDANGAN PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 19 SEPTEMBER 2015

IMG-19 September 2015-WA0000

Klub Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT) kembali mengundang Anda untuk hadir dan melihat bagaimana metode belajar pidato ber-Bahasa Indonesia yang dibawakan dengan cara menyenangkan. Acara akan diadakan pada Sabtu, 19 September  2015, di Ruang VIP Lt. F3 Menara Kuningan, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan (seberang Kedutaan Besar Australia),  Pukul 10.00-12.00 WIB.

Jangan lupa, ajak teman, keluarga atau pasangan Anda ya….. untuk ikut hadir di pertemuan seru JABAT. Yuk…..kita isi akhir pekan dengan kegiatan yang bermanfaat dan mendidik.

Kontak Aji di 089989504901, sampai ketemu di Menara Kuningan…..!!!

Ingat, Sabtu, 19 September 2015 …….!!!

LOMBA PIDATO HUMOR DAN EVALUASI

FB_IMG_1440559023575Pada 22 Agustus 2015 pukul 10.00 sd 14.00 WIB, di Restoran Rempah Iting, Jl. Sunda No. 7, Jakarta Pusat (belakang The Harvest atau samping Sarinah Thamrin) telah berlangsung Acara Lomba Gabungan antara Klub Jakarta Bahasa Toastmasters (Jabat) dan Excellence Toastmasters Club yaitu “Lomba Pidato Humor dan Evaluasi”.

Untuk Sesi Evaluasi, pidato diawali oleh TM Pande yang bercerita tentang pengalamannya sebagai penjaga gawang dengan prinsip-prinsip yang bisa dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, yaitu responsif, komitmen dan koordinasi, sedangkan yang melakukan evaluasi terhadap pidato tersebut adalah TM Diana Anggraini, TM Hariadi dan TM Ade Herawan.

Sesi berikutnya adalah Pidato Humor yang diikuti oleh dua orang kontestan dari Jabat yaitu TM Safrudiningsih (Ning) dan TM Diana Angaraini (Diana). Dalam pidatonya, TM Ning becerita tentang “Benda Kenangan” yaitu suatu barang yang bisa membangkitkan kembali kenangan indah maupun pahit pada masa lalu yaitu sebuah kain panjang yang sampai saat ini masih disimpannya, bahkan dipamerkan ketika pidato.

Sedangkan TM Diana bercerita tentang perbedaan karakter kedua orang tua yang membuatnya belajar memahami arti perbedaan, meskipun berbeda karakter orang tua tetap dapat mendidiknya hingga menjadi seperti sekarang ini. TM Diana mengajak kita agar selalu memberikan waktu dan mencurahkan perhatian kepada orang tua.

Secara keseluruhan acara berlangsung dengan lancar dan sangat menyenangkan, terlihat juga beberapa orang tamu yang menyatakan berminat untuk menghadiri pertemuan-pertemuan Toastmasters berikutnya.

Acara diakhiri dengan pembagian Piala bagi pemenang Pidato Evaluasi dan Pidato Humor, serta penyerahan Piagam kepada para Panitia acara tersebut.

Terlaksananya acara Lomba Pidato Humor dan Evaluasi ini dengan baik, tentu saja tidak terlepas dari kerja keras semua Panitia yang diketuai bersama oleh TM. Indri Lesamana (Jabat) dan TM. Maria Lintong (Excellence), para pengambil peran serta para senior Toastmasters yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Terima kasih untuk semua dan sukses selalu…!!!