Category Archives: Artikel

PERTEMUAN KLUB JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 9 JANUARI 2016

9jan20160111190556

Pada Sabtu, 9 Januari 2016 kembali digelar pertemuan rutin Klub Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT) untuk mengawali Tahun 2016, di Ruang Papua Lantai F2 Menara Kuningan (Seberang Kedutaan Besar Australia), Jakarta Pusat, 10.00 – 12.00 WIB.

Tema pertemuan hari itu adalah “Merancang Masa Depan dengan Ilham Baru”, dengan kata acuan “Gagasan”. Tema ini dipilih oleh Harlina sebagai Pembawa Acara sehubungan dengan akan berlangsungnya Toastmasters District 87 Annual Conference 2016, 20 s/d 22 Mei 2016 di Hotel Santika Primiere Hayam Wuruk Jakarta dengan tema “be Inspired, be magical, be you”.

Read the rest of this entry

PERTEMUAN KLUB JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 19 DESEMBER 2015

IMG-20151219-WA0007.jpg

Pertemuan terakhir Klub Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT) di Tahun 2015 digelar pada Sabtu, 19 Desember 2015, di Ruang Kalimantan Lantai F2 Menara Kuningan (Seberang Kedutaan Besar Australia), Jakarta Pusat, pukul 10.00 – 12.00 WIB.

Read the rest of this entry

PERTEMUAN KLUB JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 12 DESEMBER 2015

IMG-20151213-WA0003-1

Pada Sabtu, 12 Desember 2015 kembali digelar pertemuan rutin Klub Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT), di Ruang Sumatera Lantai F2 Menara Kuningan (Seberang Kedutaan Besar Australia), Jakarta Pusat, 10.00 – 12.00 WIB.

Tema pertemuan hari itu adalah “Tempo Doeloe”, dengan kata acuan “Lawas”. Tema ini dipilih oleh Fauzan sebagai Pembawa Acara lantaran anak muda ini memerhatikan banyak hal lawas yang tidak terkikis oleh zaman.

Cephi yang menjadi Penilai Umum bertugas untuk menilai semua aspek dalam pertemuan tsb, dari awal sampai akhir. Sementara Pembicara yang tampil hanya dua orang yaitu Fazar dan Phipien.

Read the rest of this entry

PERTEMUAN KLUB JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 5 DESEMBER 2015

IMG-20151205-WA0004-1

Pada Sabtu, 5 Desember 2015 kembali digelar pertemuan rutin Klub Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT), di Rempah Iting, Jl. Sunda 7 (sebelah Bakmi GM/ Seberang Sarinah Dept. Store), Jakarta Pusat, 10.00 – 12.00 WIB.

Read the rest of this entry

PERTEMUAN KLUB JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 28 NOVEMBER 2015

IMG-20151130-WA0012_resized

Pada Sabtu, 28 November 2015 kembali digelar pertemuan rutin Klub Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT), di Ruang VIP Lt. F3 Menara Kuningan, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan, 10.00 – 12.00 WIB.

Tema pertemuan hari itu adalah “Selamat Hari Ayah”, dengan kata acuan “Erak”. Tema ini diangkat berkaitan dengan Hari Ayah Nasional jatuh pada 19 November 2015 yang lalu sebagai hari untuk menghormati Ayah yang selama ini erak (kata lain dari lelah) dalam perjuangannya memenuhi kebutuhan keluarga.

Read the rest of this entry

PERTEMUAN KLUB JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 21 NOVEMBER 2015

IMG-20151122-WA0008-1

Pada Sabtu, 21 November 2015 kembali digelar pertemuan rutin Klub Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT), di Ruang Sumatra Lt. F2 Menara Kuningan, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan, 10.00 – 12.00 WIB.

Tema pertemuan hari itu adalah “Investasi”, dengan kata acuan “Terukur”, karena investasi menurut Hans sudah menjadi trend saat ini dan hangat dibicarakan, sedangkan kata terukur adalah mengajak kita agar mengerti segala sesuatu tentang investasi.

Sebagai Pengarah Acara adalah Hans dan Penilai Umumnya Raja, yang bertugas menilai semua aspek dalam pertemuan tsb, dari awal sampai akhir. Sementara itu Pembicara yang ambil bagian adalah Iin Mae, Phipien,  Fauzan, dan Yudha.

Read the rest of this entry

PERTEMUAN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 31 OKTOBER 2015

IMG-20151031-WA0002

Pada Sabtu, 31 Oktober 2015 kembali berlangsung pertemuan rutin Klub Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT), di Ruang VIP Lt. F3 Menara Kuningan, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan, 10.00 – 12.00 WIB.

Tema pertemuan rapat Jabat hari itu adalah “Kewirausahaan”, dengan kata acuan “Bahang”. Bahang  dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti antara lain adalah hawa panas yang terjadi karena nyala api atau dari panas tubuh.

Sebagai Pengarah Acara adalah Iin, sedangkan Penilai Umumnya Ucok yang bertugas menilai semua aspek dalam pertemuan tsb, dari awal sampai akhir pertemuan. Sementara Pembicara yang tampil Yosephine, Nila, Chepi, dan Ade.

***

Sebagai Pembicara pertama, Yosephine mengambil tema dari Buku Panduan Dasar 1 atau BPD#1, tentang “Mencairkan Kekakuan”, dengan judul “Harta Paling Berharga”.

Gadis manis ini mengatakan bahwa harta yang paling berharga baginya adalah keluarga. Pipin begitu nama kesayangannya, bercerita tentang 3 hal penting dalam keluarganya, yaitu kasih sayang, dukungan dan waktu.

Di akhir pidatonya Pipin mengatakan bahwa keluarga bahagia bukanlah keluarga yang kaya raya, tapi adalah keluarga yang senantiasa bersyukur dan saling menghargai satu sama lain.

Nila yang tampil pada pidato ketiga, mengangkat tema pada BPD#3 “Langsung ke Inti Masalah” dengan judul “Saatnya Melakukan Perubahan”.

Nila membahas tentang pemanasan global, yaitu suatu proses meningkatnya suhu rata-rata udara di permukaan bumi secara signifikan yang disebabkan oleh gas-gas rumah kaca, hasil aktivitas manusia seperti gas carbondioksida (CO2), gas metana (CH4), dsb dalam jumlah yang berlebihan. Selanjutnya Nila juga menguraikan tentang 3 aktivitas utama manusia yang menghasilkan gas rumah kaca, yaitu peternakan, bahan bakar fosil, dan listrik.

Dalam pidatonya tidak lupa Nila mengutip kata-kata bijak seorang Leo Tolstoy, bahwa “Semua orang berpikir tentang mengubah dunia, tapi tidak ada yang berpikir untuk mengubah dirinya sendiri”.

Sebagai Pembicara berikutnya Cephi, membahas tema pada BPD#4 “Ucapkan dengan Benar” dengan judul “Nostalgia Masa Kecil”.

Bankir muda ini berkisah tentang masa kecilnya ketika bermain pesawat dari kertas, main kelereng, main engklek atau sondah, baik yang dimainkan secara perorangan atau kelompok, bahkan ada juga permainan yang diiringi dengan nyanyian.

Beberapa manfaat dari permainan-permainan tradisional di atas antara lain untuk mengembangkan kecerdasan intelektual dan emosional, kreatifitas, bersosialisi serta melatih kemampuan motorik.

Sebagai penutup Cephi berpesan, agar membiarkan anak-anak bermain meluapkan kebahagian, seperti slogan teranyar dari sebuah produk yaitu “Tidak kotor tidak belajar”.

Terakhir, yang berpidato adalah Ade dengan mengambil tema pada Buku Panduan Lanjutan (BPL) “Humas” proyek “Pidato untuk Memberikan Citra Positif” berjudul “Seni Berbicara”.

Anak muda enerjik ini berpidato sambil berlatih melaksanakan rencana kerjanya sebagai Kepala Bidang Pendidikan Jabat. Ade yang akan tampil dihadapan para Mahasiswa sebuah Universitas ternama di negeri ini, ingin meyakinkan bahwa mahasiswa harus menyadari bahwa seni berbicara merupakan keterampilan penting yang harus dimiliki oleh seseorang apabila ingin sukses, karena dengan kemampuan komunikasi yang baik, pesan kita dapat dipahami oleh orang lain.

Ade yang juga seorang Bankir sebuah Bank terbesar di negeri ini, menyimpulkan bahwa Toastmasters merupakan organisasi yang tepat untuk meningkatkan seni berbicara yang kita miliki, mengasah kecakapan berkomunikasi dan kepemimpinan , untuk mempertebal rasa percaya diri dan meningkatkan kualitas pribadi.

***

Sesi selanjutnya adalah Sesi Pidato Dadakan yang dipandu oleh Aji, Sesi ini berguna untuk melatih kemampuan kita dalam memberi respon secara cepat, tepat, dan dalam kalimat yang struktur dan tatabahasanya baik dan benar untuk situasi-situasi, misalnya jika atasan meminta pendapat kita tentang satu hal, atau jika kita diminta memberi pendapat dalam suatu forum, atau dalam wawancara kerja.

Sementara Fauzan sebagai Pemerhati Tata Bahasa mencatat pembicara yang menggunakan bahasa asing, bahasa daerah, kalimat yang rancu/ambigu, kata percakapan tak baku seperti‘nggak’, ‘cuma’, ‘aja’, ‘oke’, dsb, dalam pidato-pidato mereka.

Satu lagi Bankir Jabat yaitu Dwiana sebagai “Penghitung Bunyi Tanpa Makna” pun masih menemukan penggunaan kata tanpa makna seperti ‘e’, ‘em’, ‘dong’, ‘deh’, ‘sih’, dan kata dari bahasa asing dan bahasa daerah dari beberapa pembicara.

Sebuah peran yang cukup penting dilakukan oleh Bopha sebagai Pencatat Waktu, karena dalam pertemuan-pertemuan Klub Toastmaster, setiap pidato memiliki waktu yang sudah ditetapkan. Sementara Hans sebagai Pengumpul Kertas Suara bertugas mengumpulkan kertas suara serta memberi penjelasan cara menuliskan nama pembicara favorit pada setiap sesi serta cara memberi komentar/ saran kepada pembicara yang bersangkutan.

IMG-20151031-WA0006

***

Demikianlah pertemuan yang berlangsung di Menara Kuningan Sabtu, 31 Oktober 2015 yang lalu, begitu hangat dan menyenangkan. Karena itu bagi yang berminat, ajak teman, keluarga atau pasangan Anda untuk ikut hadir di pertemuan JABAT berikutnya.

Mari kita isi akhir pekan dengan kegiatan yang bermanfaat dan mendidik.

PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 24 OKTOBER 2015

Para Juara

Para Juara

Pada Sabtu, 24 Oktober 2015 kembali berlangsung pertemuan rutin Jakarta Bahasa Toastmasters Klub (JABAT), di Ruang VIP Lt. F3 Menara Kuningan, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan, dari pukul 10.00 – 12.00 WIB.

Tema pertemuan adalah “Persaudaraan”, dengan kata acuan “Lekat”.

Kali ini yang bertugas sebagai Pengarah Acara adalah Indri sedangkan Penilai Umumnya Aji yang bertugas menilai semua aspek dalam pertemuan tsb, dari awal sampai akhir pertemuan.

Pembicara yang tampil yaitu Fauzan dan Harlina.

***

Sebagai Pembicara pertama, Fauzan mengambil tema dari Buku Panduan Dasar 4 atau BPD#4, tentang “Ucapkan dengan Benar” berjudul “Berfikir Positif”.

Pemuda dengan latar belakang Teknologi Informasi (TI) ini, bercerita tentang kekuatan dan makna berfikiran positif yang intinya mengatakan bahwa kita semua menjadi apa yang kita pikirkan, karena pikiran kitalah yang memberikan energy pada semua sistem di tubuh kita.

Sementara itu Hariadi sebagai penilai Fauzan, mengatakan bahwa pidato tersebut singkat, jelas dan mudah dipahami, namun demikian akan lebih menarik lagi jika Fauzan bias menyisipkan pengalaman pribadi di dalamnya.

Selanjutnya Harlina sebagai pembicara berikutnya mengambil tema dari Buku Panduan Lanjutan atau BPL, tentang “Pidato Khusus”, proyek “Membaca dengan Lantang”, berjudul “Hang Tuah”.

Harly begitu sapaan akrab beliau, bercerita tentang seorang kesatria Melayu yang dikenal sebagai Laksamana terhebat yaitu Hang Tuah bersama empat orang sahabatnya Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir dan Hang Lekiu.

Sosok mereka sangat ditakuti oleh para perompak di seantero Selat Malaka. Hikayat tsb diangkat dari sebuah Cerita Rakyat Nusantara yang dikisahkan kembali oleh Harly dengan cara yang luar biasa, wanita hebat ini ternyata sangat piawai dalam bercerita, sehingga membuat penonton terbuai, bahkan Johan sebagai penilai Harly juga sependapat, bahwa cara Harly berpidato sangat baik dan penuh penghayatan.

***

Sesi selanjutnya adalah Sesi Pidato Dadakan yang berguna untuk melatih kemampuan kita dalam member respon secara cepat, tepat, dan dalam kalimat yang struktur dan tatabahasanya baik dan benar untuk situasi-situasi, misalnya jika atasan meminta pendapat kita tentang satu hal, atau jika kita diminta memberi pendapat dalam suatu forum, atau dalam wawancara kerja.

Sesi yang dipandu oleh Wiwin ini mampu mengajak hampir semua tamu untuk ikut terlibat dan berperan dalam menjawab 10 pertanyaan dan pernyataan yang sangat menarik darinya.

Sementara Dedy sebagai Pemerhati Tata Bahasa mencatat bahwa cukup banyak pembicara yang masih menggunakan bahasa asing, bahasa daerah, kalimat yang rancu/ambigu, kata percakapan tak baku seperti‘nggak’, ‘cuma’, ‘aja’, ‘oke’, dsb, dalam pidato-pidato mereka.

Harus diingat, kalau bukan kita yang menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Siapa lagi ?

Sejalan dengan Nila yang bertugas sebagai “Penghitung Bunyi Tanpa Makna”, Nila masih menemukan penggunaan kata tanpa makna seperti ‘e’, ‘em’, ‘dong’, ‘deh’, ‘sih’, dan kata dari bahasa asing dan bahasa daerah dari beberapa pembicara.

Yang tidak bisa dilupakan juga adalah peran Martie sebagai Petugas Pencatat Waktu, karena dalam pertemuan-pertemuan Klub Toastmaster, setiap pidato memiliki waktu yang sudah ditetapkan, demikian juga dengan Pipin sebagai Pengumpul Kertas Suara yang bertugas mengumpulkan kertas suara serta memberi penjelasan cara menuliskan nama pembicara favorit pada setiap sesi serta cara memberi komentar/ saran kepada pembicara yang bersangkutan.

***

Kehadiran tamu yang cukup banyak menjadi suatu kebahagian tersendiri bagi anggota Jabat hari itu, apalagi juga dihadiri oleh dua orang petinggi Toastmasters, seperti Fransiska Purnamasari (Direktur Area J Distrik 87) dan Samoati Siringgoringo (Asisten Direktur Area J Bidang Program Kualitas).

IMG-20151024-WA0012

PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 26 SEPTEMBER 2015

IMG-20150926-WA0014

Pada 26 September 2015 berlangsung pertemuan rutin Jakarta Bahasa Toastmasters Klub (JABAT), di Ruang VIP Lt. F3 Menara Kuningan, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan (seberang Kedutaan Besar Australia), dari Pukul 10.00-12.00 WIB.

Tema pertemuan adalah “Teknologi” dengan kata acuan “Gawai” , dan yang tampil terdiri dari 5 pembicara, yaitu Hariadi, Iin, Ade, Indri, dan Lesmana.

62811918303

Hariadi

Sebagai pembicara pertama Hariadi mengangkat topik tentang “Waspadalah terhadap Penyakit Alzheimer” dari Buku Panduan Dasar 9 (BPD#9) – “Kemampuan Mempengaruhi”. Pria yang kharismatik ini menjelaskan bahwa Alzheimer adalah penurunan fungsi otak yang mempengaruhi daya ingat, emosi, perilaku, dan fungsi otak lainnya. Alzheimer diklaim belum dapat disembuhkan, adapun obat yang ada hanya memperlambat progresifitas dan gejala penyakit ini.

Untuk mengurangi risiko terkena Alzheimer dapat dilakukan dengan melatih otak secara berkala, salah satunya dengan rajin mengisi Teka-teki Silang (TTS). Menurut Direktur UCLA Center on Aging Alzheimer, dokter Gary Small, yang juga professor psikiatri di UCLA’s Neuropsychiatric Institute, dengan mengisi teka-teki silang dapat menjadi sarana rekreasi bagi otak, sehingga dapat mengurangi stres, karena saat mengisi teka-teki silang kita melakukannya tanpa beban, melainkan semata-mata demi kesenangan. Selain itu, mengisi TTS juga memiliki manfaat lainnya, yakni menambah pengetahuan, dan mengasah otak.

Hariadi menambahkan bahwa semakin kaya perbendaharaan kata, semakin mudah bagi kita untuk mengemukakan gagasan secara lisan maupun tulisan. Pengetahuan yang luas, otak yang tajam, dan perbendaharaan kata yang kaya adalah modal kita meraih sukses.

***

Iin

Iin

Sebagai pembicara ke-2, Iin berpidato tentang “Etalase Jabat” dari BPL (Buku Panduan Lanjutan) seri “Pidato Informatif”, proyek nomor 1, yaitu ”Untuk Memberi Informasi” yang intinya mengajak anggota Jabat segera memperpanjang keanggotaannya.

***

Ade sebagai pembicara ke-3 mengangkat tema “Secangkir Kopi Perubahan” dari BPL seri “Pembicara Profesional”, menyinggung mengenai konsep perubahan yang telah menjadi kodrat dan tidak dapat disangkal.

Ade

Ade

Terdapat 3 alasan mengapa seseorang harus berubah, diantaranya untuk bertahan hidup, untuk menjadi lebih baik dan untuk belajar dari kesalahan.

Anak muda yang enerjik ini menekankan bagaimana dirinya mengambil hikmah dari setiap kesalahan, seperti yang dialaminya ketika mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional beberapa tahun lalu, hanya karena keterlambatan waktu beberapa saat saja akhirnya dewan juri mendiskualifikasi dirinya, kesalahan tersebut menjadikan pelajaran berharga untuk tidak mengulang hal yang sama dan semakin menghargai waktu.

***

IMG-20150926-WA0007-1

Indri

Indri, sebagai pembicara berikutnya yang mengangkat tema “Badai Pasti Berlalu” dari BPL seri “Humas”, proyek nomor 4, menunjukkan makna segala penderitaan atau permasalahan pasti ada akhirnya.

Dara ayu ini menjelaskan bahwa dalam dinamika kehidupan kita akan mengalami badai atau masalah, dan hendaknya kita harus yakin semuanya pasti akan berakhir. Demikan pula dengan kondisi perusahaan/ organisasi yang saat ini sedang mengalami badai atau masalah.

Contohnya adalah kemerosotan nilai tukar mata uang (depresiasi). Fenomena terdepresiasinya nilai tukar rupiah berdampak pada ekspor dan impor Nasional. Dengan kondisi ekonomi yang memburuk dimana harga barang-barang naik, daya beli masyarakat yang menurun, nilai rupiah yang terus anjlok, tentu saja mempengaruhi kondisi perusahaan.

Dengan sangat terpaksa pihak manajemen mengambil keputusan untuk tidak menaikkan gaji ataupun memberikan bonus, keputusan yang sangat berat ini terpaksa dilakukan untuk mempertahankan jumlah tenaga kerja yang ada.

Indri menghimbau agar semua pihak baik dari level yang paling atas maupun yang paling rendah sama-sama mengencangkan ikat pinggang dan melakukan penghematan untuk mengurangi biaya produksi.

***

Lesmana

Lesmana

Dalam kesempatannya sebagai narasumber terakhir, Lesmana bercerita mengenai “Kelinci yang Cerdik” yang bekerjasama dengan macan, sehingga kelinci tersebut dapat terhindar dari bahaya diterkam serta dimakan oleh binatang yang lebih kuat. Pidatonya ini diambil dari BPL seri “Bercerita”, proyek nomor 1, “Dogeng”.

Cerita tersebut memberikan makna bahwa setiap kita pasti mempunyai kelebihan/ kekuatan dan sekaligus kelemahan. Untuk menjadi sukses, kita harus tau apa kekuatan dan kelemahan kita serta harus bersinergi dengan orang lain yang dapat menutupi kelemahan tersebut. Demikian pula dalam suatu komunitas seperti JABAT, kita dapat memilih dengan siapa kita bisa berpartner dan bersinergi menuju sukses bersama, kata pria berkaca mata ini mengakhiri pidatonya.

***

Acara rapat yang menyenangkan ini, dibawakan dengan sangat baik oleh seorang anak muda tampan bernama Fauzan, istimewanya lagi rapat juga dihadiri oleh para senior Toasmaster diantaranya Bapak Prof DR Ing Wardiman Djojonegoro, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI periode 1993-1998.

PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 12 SEPTEMBER 2015

Pada 12 September 2015 di Jakarta, berlangsung pertemuan rutin Jakarta Bahasa Toastmasters Klub (JABAT), di Menara Kuningan Lt. F2 Ruang Papua, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan (seberang Kedutaan Besar Australia), Pukul 10.00-12.00 WIB.

Tema pertemuan adalah “Ayo Membaca” dengan kata acuan “Aksara”.

Dalam pertemuan tersebut tampil dua pembicara, yaitu Aji dan Indri. Sebagai pembicara pertama, Aji membahas tentang “Memilih Sepatu Lari” dari Buku Panduan Dasar ke-8 (BPD#8), yaitu Penggunaan Alat Bantu.

Pada awalnya Aji mengajukan pertanyaan “Apakah teman-teman Toastmasters pernah merasakan sakit di telapak kaki, ketika berolahraga? apakah penyebab rasa sakit itu ? Ukuran atau bentuk sepatunyakah yang tidak sesuai dengan kaki ?”

Aji mengatakan bahwa berlari mempunyai risiko cedera, dainatara penyebabnya adalah salah memilih sepatu. Ketika berlari kaki menahan 2 ½ hingga 3 kali berat badan, dan tekanan terhadap otot menjadi 4 kali lebih besar dibandingkan dengan berjalan. Karena sepatu berguna untuk mengurangi beban yang diterima kaki, maka kesalahan dalam memilih sepatu dapat menyebabkan cedera.

Sebelum memilih sepatu, kita harus mengetahui jenis kaki, supaya menemukan sepatu yang cocok. Menurut Mckinley Health Center, University of Illinois’, jenis telapak kaki manusia ada 3, yaitu:

  1. Pronation, bentuk kaki yang datar, sepatu yang cocok adalah sepatu yang memiliki pendukung di bantalan alasnya sehingga kaki tidak pegal ketika berlari.
  2. Supinator, bentuk alas kaki yang melengkung tinggi, sepatu yang cocok  adalah yang memiliki banyak bantalan di bagian alasnya.
  3. Netral, bentuk kaki yang tidak menunjukan bentuk yang penuh atau lengkungan kosong yang tinggi, yaitu bentuk kaki yang umum dan aman dari cedera asal menggunakan sepatu yang tepat.

Dengan kaki normal, kita dapat memilih berbagai macam jenis sepatu lari, namun hindari memilih sepatu lari yang memiliki dukungan stability atau motion control yang terlalu tinggi.

Aji juga memperagakan cara memeriksa bentuk kaki yang mudah dan praktis dengan membasahi telapak kaki dengan air, lalu injak kertas yang sudah disediakan, kemudian lihat hasilnya.

Sebagai penutup Aji menekankan kembali bahwa hati-hatilah dalam memilih sepatu karena dapat menyebabkan cedera.

Pembicara kedua adalah Indri yang mengangkat materi dari Buku Public Relation, AM #7 : The Persuasive Approach dengan judul “Rumah Susun”. Indri memulai dengan pernyataan “Rumahku adalah istanaku”, bahwa tidak ada tempat yang paling nyaman selain rumah.

Indri bercerita tentang pengalamannya merantau dari Bogor ke Jakarta, tinggal di kamar kos hampir 12 tahun, ketika telat membayar Ibu/ Bapak kos langsung kasih peringatan untuk segera angkat kaki. Sehingga Indri bertekad suatu saat untuk punya rumah sendiri meskipun kecil. Mengingat harga tanah di Jakarta yang sangat mahal, Indri merasa tidak sanggup untuk membelinya dan kalaupun dengan kredit pasti berada di pinggiran kota, dengan kondisi jalanan yang macet sementara aktifitasnya banyak di Jakarta.

Kebutuhan hunian meningkat dengan pesat seiring berkembangnya jumlah penduduk Indonesia apalagi di Jakarta. Keterbatasan lahan membuat rumah susun menjadi alternatif solusi yang terbaik bagi permasalahan pemukiman di perkotaan. Jakarta sebagai kota terbesar di Indonesia, pertumbuhan penduduknya sebesar 1,3 % per tahun, kebutuhan perumahan sebanyak 70.000 unit hunian per tahun, dengan luas lahan sebesar 66.152 ha, dialokasikan hanya sebesar 39.691 ha untuk permukiman, sementara harga tanah sangat tinggi.

Bagi Pemerintah kota, pembangunan rumah susun, sebagai alat peremajaan kawasan, menguragi resiko kebakaran, bertujuan untuk meningkatkan potensi sebuah kawasan binaan yang banyak dilakukan terpadu dengan pembangunan rumah susun. (Pracastino, Des 2010)

Menurut studi Rumah Susun di Indonesia dibagi menjadi 3 (tiga) :

Rumah Susun Sederhana (Rusuna), umumnya dihuni oleh golongan yang kurang mampu, biasanya dijual atau disewakan oleh Perumnas (BUMN). Misalnya, Rusuna Klender di Pasar Jumat, Lebak Bulus, Jakarta.

Rumah Susun Menengah (Apartemen), biasanya dijual atau disewakan oleh Perumnas atau Pengembang Swasta kepada masyarakat konsumen menengah ke bawah. Misalnya, Apartemen Taman Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Rumah Susun Mewah (Condonium), selain dijual kepada masyarakat konsumen menengah ke atas juga kepada orang asing atau expatriate oleh Pengembang Swasta. Misalnya Casablanca, Jakarta.

Sudah hampir 3 tahun Indri tinggal di rumah susun Kalibata City dan merasakan keuntungannya, karena lokasinya yang strategis, harga lebih murah, bebas banjir dan keamanan yang lebih terjamin.

Indri menutup Pidatonya dengan rasa bahagia karena memiliki rumah sendiri di rumah susun, walaupun sederhana tapi harganya terjangkau sekaligus dapat membantu program Pemerintah menyelesaikan masalah transportasi, kemacetan, urbanisasi, dll.