Monthly Archives: December 2016

Melihat ke Belakang (3 Desember 2016)

Tidak terasa akhir tahun 2016 sudah tinggal 1 bulan lagi. Saat yang tepat untuk melihat ke belakang, melihat progres di tahun 2016. Apa yang sudah dicapai dan apa yang masih diupayakan? Untuk itu, Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT) mengadakan pertemuan dengan tema “Melihat ke Belakang” dengan kata acuan “Progres

Pengarah Acara, TM Cynthis kemudian memperkenalkan Penilai Umum pada hari itu yaitu TM Iron yang lalu memperkenalkan timnya yaitu Pemerhati Tata Bahasa, TM Martie; Pemerhati Bunyi Tanpa Bahasa, TM Sofyan; Pencatat Waktu, TM Lambang; dan Pengumpul Kertas Suara, TM Masyitha.

Pertemuan dibagi menjadi 3 Sesi yaitu Sesi Pidato yang Dipersiapkan, Sesi Pidato Dadakan, dan Sesi Penilaian Umum. Di Sesi Pidato yang Dipersiapkan, para pembicara akan membawakan pidato yang telah dipersiapkan sebelumnya sedangkan di Sesi Pidato Dadakan, para pembicara harus menjawab pertanyaan yang baru mereka dengar sebelumnya. Sementara di Sesi Penilaian Umum, para penilai individu akan memberikan masukan bagi para pembicara Sesi Pidato yang Dipersiapkan.

Pembicara pertama Sesi Pidato yang Dipersiapkan adalah TM Charles yang membawakan pidato yang berjudul “Selalu Bersyukur“. Dalam pidatonya, TM Charles menceritakan tentang dirinya yang berasal dari keluarga sederhana di kota Palembang. Sewaktu kecil, TM Charles selalu iri melihat teman-temannya yang bisa keluar kota seperti Bandung dan Yogyakarta namun akhirnya ia juga dapat ke Bandung setelah memberanikan diri untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri dan diterima di Institute Teknologi Bandung (ITB) jurusan Teknik Elektro. Selesai kuliah, ia mendapatkan beasiswa S2 ke Jepang. Saat pertama kali menginjakkan kaki ke Jepang, TM Charles mengatakan ia sangat terpesona dengan keindahan dan modernnya negara Jepang. TM Charles juga banyak menghabiskan waktu untuk berkeliling Jepang mengunjungi Shizuku, Akihabara, dan berbagai tempat lainnya di tengah-tengah kesibukan kuliahnya. Setelah bekerja 2 tahun di Jepang, TM Charles kembali ke Indonesia, untuk mengabdikan diri bagi tanah air dan saat ini ia bekerja di sebuah perusahaan yang sering mengirimnya ke luar negeri.

Pembicara selanjutnya adalah ACB, ALB Iin yang membawakan Buku Panduan Lanjutan Interpretasi Cerita. Cerita yang dipilih ACB, ALB Iin adalah cerita pendek yang sama judulnya dengan judul pidatonya “Arsenikum“. Dalam pidato ini, ACB, ALB Iin menceritakan mengenai seorang pemuda yang memiliki seorang nyonya yang telah didiagnosa dokter hanya dapat hidup 6 bulan lagi. Mendengar kabar tersebut, timbullah sifat tamak si pemuda yang juga merupakan salah satu ahli waris dari sang nyonya. Menurutnya waktu 6 bulan itu terlalu lama. Untuk mempercepat kematian sang nyonya, si pemuda membeli arsenikum dan menaburkannya secara sedikit demi sedikit dalam makanan sang nyonya. Bulan berganti bulan, sang nyonya bukannya meninggal melainkan semakin sehat hingga dokter akhirnya menyatakan ia sembuh total. Beberapa hari berselang, sang nyonya pergi sendiri seharian ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Sekembalinya ke rumah, sang nyonya memanggil si pemuda dan memberitahunya bahwa dia telah dicoret sebagai ahli waris dan polisi akan datang menangkap si pemuda. Dalam pemeriksaan rumah sakit, dokter ternyata menemukan bahwa ada zat arsenikum dalam jumlah besar di tubuh sang nyonya yang langsung menyadari niat buruk si pemuda.

Sesi Pidato yang Dipersiapkan kemudian diteruskan ke pembicara ketiga, TM Azka dengan judul pidatonya “Zona Nyaman“. “Kehidupan dimulai saat anda keluar dari zona nyaman” itulah kutipan pembuka dari TM Azka. TM Azka menceritakan bagaimana ia menyadari hal itu setelah disuruh mengikuti wajib militer selama 2 minggu sebagai bagian pelatihannya di perusahaan listrik negara, tempatnya bekerja. Awalnya TM Azka bingung dengan tujuan dari kegiatan tsb. Apalagi menurut dirinya, ada sebagian instruksi yang aneh dari komandannya misalnya dia diminta untuk menyayangi senjata kayu yang harus dibawa ke mana-mana karena itu akan menyelamatkan hidupnya. Selain itu, TM Azka juga diminta berguling-guling dan melakukan berbagai aktivitas fisik di atas aspal panas. Pada akhir wajib militernya, TM Azka baru menyadari bahwa tujuan dari kegiatan itu adalah untuk melihat reaksinya saat keluar dari zona nyaman. Sebagai penutup, TM Azka memberikan sebuah cerita mengenai seekor ikan dalam toples yang berada di atas sebuah danau. Jika ikan tsb tidak melompat dari toples tsb, maka ia tidak akan tahu betapa luas dan bebasnya kehidupan di danau.

Pembicara berikutnya, TM Teguh membawakan pidato dengan judul “Candu Sekolah“. Pidato ini terinspirasi dari buku yang berjudul “Sekolah itu Candu” yang berisi kritikan atas sistem pendidikan di Indonesia yang bobrok. Buku tsb dibacanya 15 tahun yang lalu saat gundah gulana menentukan tujuan pendidikan berikutnya. Saat itu, guru pembimbing TM Teguh menyarankan jurusan agrobisnis dan psikologi karena nilai biologi dan kemampuan mengamati prilaku TM Teguh yang dinilai bagus oleh sang guru. Ternyata kedua jurusan itu mendapat tentangan dari ayahnya. Akhirnya, TM Teguh memilih Teknik Informatika sebagai jurusannya. TM Teguh mengingatkan bahwa kita sebaiknya tidak memilih perguruan tinggi untuk alasan yang bobrok seperti supaya terlihat bagus di undangan pernikahan atau supaya mendapatkan pasangan yang setara. TM Teguh juga berbagi informasi mengenai beberapa negara dengan sistem pendidikan terbaik yaitu Finlandia, Swiss, dan Belgia.

Pembicara terakhir Sesi ini adalah ACB, ALB Indri yang membawakan materi Kepemimpinan dengan Performa Tinggi dengan tujuan membagi visi. Sebagai judul pidatonya, ACB, ALB Indri memilih berbagi mengenai acara yang diketuainya yang akan diselenggarakan tanggal 4 Februari 2017 yaitu “Toastmaster Summit 2017“. Visi acara tersebut adalah mengedukasi masyarakat supaya lebih paham mengenai Toastmaster dan kepemimpinan. ACB, ALB Indri mengajak para anggota JABAT untuk bergabung sebagai panitia dan anggota. Susunan acaranya meliputi demo pertemuan dalam 4 bahasa, tes kepribadian MBTI, dan belajar kepemimpinan menggunakan alat musik angklung. Selain itu, ACB, ALB Indri juga menjelaskan manfaat dari menjadi panitia acara tersebut yaitu belajar kepemimpinan, memperoleh sertifikat dan menemukan pasangan.

Pertemuan kemudian diteruskan ke Sesi Pidato Dadakan. Pemandu Sesi Pidato Dadakan pada hari itu membagi pertanyaan dalam kategori waktu yaitu SD, SMP, SMA, Kuliah, Bekerja, Tahun lalu, dan Tahun ini. Para pembicara Sesi Pidato Dadakan yaitu TM Lambang, TM Lies, TM Fauzan, TM Sofyan, dan TM Iin diminta untuk menjawab pertanyaan dari masing-masing kategori.

Setelah itu, pertemuan masuk ke Sesi Penilaian Umum. Di sesi ini, TM Sasti memberikan masukan bagi TM Charles dan TM Teguh, ACB, ALB Hariadi menilai ACB, ALB Indri dan ACB, ALB Iin serta TM Fauzan mengevaluasi TM Azka. Sehabis masukan dari para penilai individu, Penilai Umum, TM Iron dan tim pun memberikan laporannya.

img-20161203-wa0026Akhirnya acara tiba di bagian yang ditunggu-tunggu yaitu Panggung Kehormatan di mana para pembicara terfavorit akan diumumkan. Pada hari itu TM Teguh keluar sebagai pembicara Sesi Pidato yang Dipersiapkan Terfavorit, TM Fauzan sebagai pembicara Sesi Pidato Dadakan terfavorit dan TM Sasti sebagai Penilai Individu Terfavorit.

Demikianlah pertemuan pada hari itu. Terima kasih untuk para pembicara, penilai individu, dan para pemegang peran yang telah menjalankan tugasnya masing-masing dengan baik. Berkat semuanya, pertemuan dapat berlangsung lancar dan menyenangkan.

img-20161203-wa0021

Dari Atas: TM Martie, TM Iron (Penilai Umum), TM Azka, TM Masyitha, TM Charles, TM Cynthis (Pengarah Acara), ACB, ALB Indri, ACB, ALB Iin, TM Lies, ACB, ALB Hariadi

Dari Bawah: TM Sofyan, TM Lambang, TM Teguh, TM Raja, TM Sasti

Hari Guru Nasional (26 November 2016)

Merayakan Hari Guru yang jatuh pada tgl 25 Nov 2016, Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT) mengadakan pertemuan dengan tema “Hari Guru Nasional” dengan kata acuan “Teladan”. Pertemuan dibawakan oleh ACB, ALB Hariadi dibantu oleh Penilai Umum, TM Wiwie yang merangkap sebagai Pemerhati Bunyi Tanpa Makna beserta timnya yang lain yaitu Pemerhati Tata Bahasa, TM Cephi, Pencatat Waktu, TM Azka, dan Pengumpul Kertas Suara, TM Charles. Acara dibagi menjadi 4 sesi yaitu Sesi Pidato yang Dipersiapkan, Sesi Pidato Dadakan, Sesi Pendidikan, dan Sesi Penilaian Umum. Sesi pertama Sesi Pidato yang Dipersiapkan meminta setiap pembicara untuk menyampaikan pidato yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Pembicara pertama sesi ini adalah TM Cynthis yang membawakan pidato yang berjudul “Perspektif”. Melalui 2 pengalaman pribadinya, TM Cynthis menggambarkan bagaimana dengan mengambil perspektif atau cara pandang yang berbeda, telah memberikan hasil yang beda. Pada pengalaman buruk pertamanya, TM Cynthis melihat perceraian orangtuanya sebagai sebuah masalah, sedangkan ketika terjadi hal buruk di pekerjaan, TM Cynthis mengganggapnya sebagai tantangan. Akibatnya, dalam kasus perceraian orangtuanya, hal buruk itu terus berlangsung. Sebaliknya dalam hal pekerjaan, TM Cynthis terus berusaha mengembangkan dirinya sehingga hal buruk itu hilang dengan sendirinya. Sebagai penutup pidatonya, TM Cynthis mengambil kutipan dari penulis Wayne Dyer yaitu “Ubahlah cara pandang anda, maka apa yang anda lihat akan berubah”

Pembicara selanjutnya TM Raja tampil menghibur saat membawakan pidato yang berjudul “Dasar Anak Ikan” yang diangkat dari Legenda terbentuknya Danau Toba. Alkisah 7,000 tahun, ada seorang pria bernama Toba yang sehari-harinya bekerja sebagai petani dan nelayan. Suatu hari, saat sedang memancing, Toba menangkap seekor ikan yang besar. Ikan tersebut pun dibawa pulang dan ditinggalkan di dapur. Saat kembali dari ladang, Toba menemukan wanita cantik yang merupakan jelmaan dari ikan yang ditangkapnya. Wanita cantik itu akhirnya bersedia menjadi istrinya dengan syarat Toba harus merahasiakan bahwa ia adalah jelmaan seekor ikan. Janji ini pun disanggupi Toba. Berselang beberapa tahun, pasangan ini pun mempunyai seorang putra yang diberi nama Samosir. Di suatu siang, Samosir diminta oleh ibunya untuk mengantarkan makan siang untuk Toba. Namun karena lapar di tengah jalan, Samosir pun memakan sebagian dari makan siang ayahnya. Karena murka, Toba pun memarahi anaknya dengan kata-kata “dasar anak ikan”. Kalimat itu membuat Toba melanggar janjinya. Tak lama kemudian, terjadilah bencana banjir yang menggenangi satu kampung hingga terbentuklah sebuah danau yang dikenal dengan sebutan Danau Toba. Hikmah dari kisah ini adalah jika kita berjanji pada orang lain berusahalah untuk menepatinya.

Sesi Pidato yang Dipersiapkan ditutup oleh pembicara terakhir, TM Sasti dengan pidato yang berjudul “Kosongkan Gelasnya”. Judul pidato ini terinspirasi oleh ucapan pengusaha sukses Indonesia, Bob Sardino yaitu “Setiap kali saya bertemu dengan orang-orang baru, saya akan mengosongkan gelas saya.” Bila kita ingin belajar hal-hal baru maka kita harus senantiasa mengosongkan gelas kita. TM Sasti kemudian berbagi pengalamannya sebagai penerima beasiswa di Diklat Depok di antara banyaknya penerima beasiswa dari Aceh hingga Papua. Menurut TM Sasti, banyak hal tentang seseorang yang tidak tertulis di daftar riwayat pekerjaan mereka. Untuk lebih mengenal teman-teman barunya TM Sasti harus senantiasa mengosongkan gelasnya. Kita tidak dapat mengajari orang, namun satu hal yang dapat kita lakukan adalah membuka pikiran mereka. Sebagai penutup pidatonya, TM Sasti berbagi 1 kalimat mutiara yaitu setiap orang adalah guru bagi kita, setiap tempat adalah ruang belajar bagi kita.

Pertemuan lalu dilanjutkan ke Sesi Pidato Dadakan di mana para pembicara akan melatih kecepatan otak dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. TM Azka, TM Raja, dan para tamu yaitu Kilan, Dian, Sukma, dan Hanafi saling berlomba memberikan jawaban yang menarik.

Setelah Sesi Pidato Dadakan, acara pun memasuki Sesi Pendidikan yang dibawakan oleh DTM Harlina dengan topik “Bimbingan (mentoring). Sesi edukasi ini diharapkan dapat membantu para pembimbing (mentor) di JABAT. DTM Harlina menjelaskan bahwa prinsip utama dari bimbingan adalah memenuhi kebutuhan dari orang yang kita bimbing (mentee). Pembimbing harus tahu apa tujuan dari mentee bergabung ke JABAT. Apakah tujuan mereka jalur komunikasi atau kepemimpinan? Dalam kesehariannya, pembimbing berperan sebagai tempat bertanya, sumber pendapat baru, sumber motivasi, bahkan sebagai tempat curahan hati. DTM Harlina juga menambahkan sebagai pembimbing, kita akan banyak mendapatkan pengalaman.

Sesi terakhir adalah Sesi Penilaian Umum. Di sesi ini para penilai individu akan memberikan masukan kepada para pembicara Sesi Pidato yang Dipersiapkan. Di sesi ini, ACB, ALB Hariadi menilai TM Cynthis, TM Cephi mengevaluasi TM Raja, dan DTM Harlina memberi masukan untuk TM Sasti. Di sesi ini pula, Penilai Umum, TM Wiwie dan tim akan memberikan laporannya.

img-20161126-wa0038Setelah keempat sesi berakhir, maka sampailah pertemuan di Panggung Kehormatan. Di Panggung Kehormatan ini, pengumpul kertas suara, TM Charles akan mengumumkan para pembicara terfavorit dari setiap sesi. Hari itu, TM Sasti, TM Kilan, dan TM Cephi keluar sebagai pembicara Sesi Pidato yang Dipersiapkan, pembicara Sesi Pidato Dadakan, dan Penilai Individu terfavorit

Demikianlah pertemuan JABAT pada hari itu. Terima kasih kepada seluruh pembicara dan DTM Harlina yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk menyampaikan sesi pendidikan yang tentunya sangat membantu para pembimbing (mentor) di JABAT. Terima kasih juga kepada para pemegang peran yang telah menjalankan tugasnya masing -masing dengan sangat baik sehingga acara dapat berjalan dengan lancar dan energik. Sampai jumpa di pertemuan JABAT berikutnya.

20161126_120518

Berani Berbeda (12 November 2016)

Diilhami oleh kisah Kolonel Sanders, pendiri KFC, Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT) kali ini mengadakan pertemuan dengan tema “Berani Berbeda” dengan kata acuan “kreatif”. Pengarah Acara pada hari itu, ACB, ALB Iin membuka pertemuan dengan kisah Kolonel Sanders yang pada usia pensiunnya mengambil jalan yang berbeda dengan orang-orang lain seusianya. Di saat, orang lain mulai menjalani hidup apa adanya, Kolonel Sanders malah berusaha untuk menjual resep ayam gorengnya, mengalami penolakan ribuan kali hingga akhirnya ada yang bersedia membeli resep ayam goreng tsb. Hidup dengan berani berbeda ini juga dijalani oleh orang sukses lainnya seperti Bill Gates dan Steve Jobs yang memberanikan diri untuk merintis bisnis di usia yang masih sangat muda.

Pada pertemuan itu, ACB, ALB Iin dibantu oleh Penilai Umum, TM Ulfa dan timnya yang terdiri dari Pemerhati Tata Bahasa, TM Cynthis, Pemerhati Bunyi Tanpa Makna dan Pengumpul Kertas Suara, TM Maruasas, serta Pencatat Waktu, TM Wenny. Acara dibagi menjadi 3 sesi yaitu Sesi Pidato yang Dipersiapkan, Sesi Pidato Dadakan, dan Sesi Penilaian Umum. Di Sesi Pidato yang Dipersiapkan, para pembicara akan menyampaikan pidato yang telah disusun sebelumnya sedangkan di Sesi Pidato Dadakan, para pembicara diminta untuk menjawab pertanyaan yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Pada Sesi Penilaian Umum, para Penilai Individu akan memberikan masukan kepada para pembicara Sesi Pidato yang Dipersiapkan.

Pembicara pertama Sesi Pidato yang Dipersiapkan adalah TM Krisna dengan judul pidato “Wisata”. Kata wisata ini merupakan kata yang asing di masa kecil TM Krisna karena masalah mabuk daratnya. Dulu ia pun sering iri melihat teman-temannya yang bisa berwisata ke Kebun Binatang Surabaya. Karena sangat parahnya mabuk daratnya, sang ayah bahkan pernah mengiming-imingi TM Krisna dengan telepon genggam untuk tidak mengikuti karya wisata yang diadakan sekolahnya. Namun kondisi mabuk laut ini mulai membaik saat kuliah karena TM Krisna mulai terbiasa berkendara ke kampusnya. Sejak itu, TM Krisna mulai sering berwisata mulai dari ke Kuala Lumpur bersama dengan teman-teman hingga ke Singapura beserta suami.

Pembicara berikutnya adalah TM Iron yang membawakan pidato yang berjudul “Membuat Visi Pribadi Menuju Sukses Berkarir”. TM Iron membuka pidatonya dengan pertanyaan dilematis yang sering terjadi dalam pekerjaan yaitu apakah pernah kita merasakan kekosongan dan tidak mempunyai prestasi apa-apa saat bekerja. Hal ini menurut TM Iron terjadi karena kita tidak mempunyai tujuan yang jelas atau visi yang kuat. Ada dua alasan yang membuat kita tidak membuat visi meskipun tahu itu penting. Pertama karena impian kita terlalu sederhana untuk potensi yang kita miliki dan yang kedua adalah kita tidak tahu caranya atau tidak memiliki keberanian. TM Iron menutup pidatonya dengan kalimat bijak yang indah yaitu “Jika anda membuat kapal, janganlah membuat orang-orang mengumpulkan kayu tapi buatlah mereka untuk merindukan lautan yang luas.”

Setelah pidato yang menginspirasi dari TM Iron, pidato berikutnya dari TM Wiwie mengajak kita kembali pada situasi yang sering kita alami sebagai warga Jakarta yaitu kemacetan. Melalui pidatonya yang berjudul “Disiplin Berkendara”, TM Wiwie menceritakan dampak buruk dari kemacetan antara lain polusi, waktu yang terbuang, dan stres. Menurut TM Wiwie, salah satu hal yang menjadi biang kemacetan adalah tidak disiplinnya kita dalam berkendara. Untuk itu, ada 3 tips yang dapat membuat kita lebih disiplin dalam berlalu lintas yaitu patuhi rambunya, pahami aturannya, dan menghormati pengguna jalan lainnya. Kemacetan itu bukan tanggung jawab pemerintah atau polisi saja, tetapi tanggung jawab kita semua.

Pembicara terakhir Sesi Pidato yamg Dipersiapkan adalah TM Wayan. Dalam pidato ini TM Wayan menceritakan salah satu hobinya yaitu bermain tenis. Dari pidato yang berjudul “Rahasia Bermain Tenis” ini, TM Wayan berbagai berbagai tips bermain tenis. Tenis menurut TM Wayan telah membuat dirinya sehat, berpikiran positif dan memiliki prilaku sehat. Selain itu, tenis juga memberikan dirinya teman-teman baru. Kunci dari permainan tenis adalah otot dan ayunan. Dengan memperhatikan keduanya, kita dapat terhindar dari cedera. Beberapa hal yang harus dilakukan agar dapat aman bermain tenis adalah istirahat dan makan secukupnya, melakukan pemanasan, dan melakukan gerakan yang benar.

Selesai Sesi Pidato yang Dipersiapkan, acara dilanjutkan ke Sesi Pidato Dadakan yang dipandu oleh TM Wayan. Di sesi ini, TM Maruasas, Calon TM Mega, TM Bena, dan Calon TM Sigit saling berlomba menjawab pertanyaan tentang berani berbeda.

Sesi terakhir adalah Sesi Penilian Umum. Di sesi ini ACB, ALB Hariadi menilai TM Krisna, ACB, ALB Bena memberikan masukan ke TM Iron, CC Fauzan mengevaluasi TM Wiwie, dan DTM Harlina menilai TM Wayan. Pada sesi ini juga Penilai Umum, TM Ulfa dan timnya menyampaikan laporan mereka tentang pertemuan hari itu.

img-20161112-wa0004Dengan selesainya ketiga sesi tsb, maka acara tiba di bagian yang ditunggu-tunggu yaitu Panggung Kehormatan. Pada pertemuan hari itu, TM Wayan keluar sebagai Pembicara Pidato yang Dipersiapkan terfavorit sedangkan ACB, ALB Bena mendapatkan 2 piala sekaligus yaitu sebagai Pembicara Pidato Dadakan dan Penilai Individu terfavorit.

Sebelum acara ditutup, para hadirin mendengar pengumuman dari dua direktur divisi yang sedang berkunjung. Direktur Divisi I, TM Bena menyampaikan penghargaan untuk JABAT karena telah memperoleh penghargaan President Distinguished Club pada pengurusan sebelumnya. Selain itu, TM Bena juga memberikan 2 penghargaan kepada 2 anggota JABAT yaitu ACB, ALB Iin dan ACB, ALB Indri karena telah memperoleh 3 gelar (Triple Crown) selama 1 tahun. Acara kemudian dilanjutkan dengan pengumuman dari Direktur Divisi J yaitu TM Cahyani yang menyampaikan adanya klub berbahasa Indonesia baru di Bandung.img-20161112-wa0016

Demikianlah pertemuan JABAT pada hari itu. Terima kasih untuk para pembicara dan pemegang peran yang telah menjalankan tugasnya masing-masing dengan baik. Terima kasih pula kepada dua Direktur Divisi, TM Bena dan TM Cahyani yang telah meluangkan waktunya untuk hadir di pertemuan JABAT. Akhir kata, memgutip ucapan Direktur Divisi I, ACB, ALB Bena, “Kita tidak perlu berusaha untuk menjadi berbeda karena sejak awal kita semua telah berbeda. Jadilah diri kita sendiri”. Sampai jumpa di pertemuan JABAT berikutnya.

img-20161112-wa0010

Semangat Sumpah Pemuda (29 Oktober 2016)

Memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada tgl 28 Oktober, Jakarta Bahasa Toastmasters mengadakan pertemuan dengan tema “Semangat Sumpah Pemuda” dengan kata acuan “Berkarya”. Acara dipandu oleh Pengarah Acara, TM Cephi dibantu oleh Penilai Umum, TM Lambang beserta timnya. Adapun tim Penilai Umum antara lain TM Fauzan sebagai Pemerhati Tata Bahasa, TM Raja sebagai Pemerhati Bunyi Tanpa Makna dan Pengumpul Kertas Suara dan TM Krisna sebagai Pencatat Waktu.

Acara dibagi menjadi 3 sesi yaitu Sesi Pidato yang Dipersiapkan, Sesi Pidato Dadakan, dan Sesi Penilaian Umum. Di Sesi Pidato yang Dipersiapkan, para pembicara akan membawakan pidato yang telah disiapkan sebelumnya. Pembicara pertama Sesi Pidato yang Dipersiapkan adalah TM Sofyan dengan judul pidato “Kampung Halaman”. Di pidato ini, TM Sofyan memperkenalkan dirinya sebagai seorang perantau dari Tegal, sebuah desa yang asri dan terpencil. Terlahir dari keluarga pendidik dengan ayah seorang dosen dan ibu seorang guru, sejak kecil TM Sofyan telah diajarkan untuk menyesuaikan ucapan dengan tindakan. Ajaran masa kecil seperti keberanian dan hidup hemat menjadi bekal dalam perantauannya. Tidak jarang, TM Sofyan merindukan orangtua dan saudaranya yaitu 1 kakak laki-laki dan 2 adik perempuan. Bagi TM Sofyan, keluarga adalah harta yang tidak ternilai harganya.

Pembicara berikutnya adalah TM Ian yang membawakan pidato berjudul “Rotary International”. Pidato dibuka dengan cerita Imron, teman dari TM Ian yang merupakan petani dan nelayan di Aceh. Suatu pagi, Imron melihat air laut tiba-tiba surut dan tak beberapa lama kemudian datanglah sebuah ombak yang sangat besar menerjang. Melihat ombak tsb, Imron lari, memanjat pohon kelapa, dan berusaha keras memegangi pohon selama 5 – 6 jam hingga ombak surut. Pengalaman itu adalah pengalaman Imron saat bencana Tsunami Aceh tgl 26 Desember 2004 yang memakan ratusan ribu korban jiwa. Saat kejadian tsb, TM Ian beserta istri sedang berlibur ke kampung halaman TM Ian di Inggris. Kepanikan sempat melanda TM Ian karena selama berjam-jam tidak dapat menghubungi sanak saudara di Aceh. Setelah bencana tsb, TM Ian berusaha menggalang dana untuk membantu masyarakat Aceh. Melalui Rotary International yang merupakan sebuah organisasi yang terdiri dari klub-klub dengan tujuan untuk membantu masyarakat, TM Ian berhasil mengumpulkan sejumlah dana untuk disumbangkan ke masyarakat Aceh. Pada akhir pidatonya, TM Ian berpesan bahwa kita tidak tahu apa yang akan terjadi, namun kita harus terus berkarya menolong orang lain.

Pembicara berikutnya adalah TM Cynthis dengan judul pidatonya “Lakukan saja”. Terinspirasi dari logo Nike, TM Cynthis menceritakan bagaimana pengalaman pribadinya terhadap logo tersebut. Berawal dari sikap skeptis terhadap logo itu, perlahan-lahan TM Cynthis pun mulai menyadari perlunya untuk dapat segera melakukan sesuatu. TM Cynthis juga berbagi beberapa tips untuk dapat menerapkan lakukan saja yaitu jangan menghabiskan terlalu banyak waktu untuk perencanaan, yakinlah bahwa kita bisa, dan percayalah bahwa kegagalan/kesalahan yang kita alami akan jadi bekal kita selanjutnya. Seperti ucapan penulis buku Harry Potter, J.K.Rowling “Tidak mungkin kita hidup tanpa gagal dalam suatu hal, kecuali kita hidup dengan hati-hati sekali yang berarti kita telah gagal sejak awal.”

Sesi Pidato yang Dipersiapkan terakhir dibawakan oleh ACL, ALB Indri dengan judul “Stres”. Berawal dari berbagai gejala fiskal, emosional, kognitif, dan interpersonal, stres dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Stres dapat berupa stres ringan maupun stres berat. Stres ini dapat diatasi dengan menghindari orang yang membuat kita stres dan melakukan hal-hal yang dapat mengatasi stres tsb misalnya istirahat, olahraga, melakukan hobi, tertawa, pemijatan, berkomunikasi / curhat, dan relaksasi / berlibur. ACL, ALB Indri menutup pidatonya dengan berpesan bahwa kesehatan adalah harmoni yang sempurna antara tubuh, jiwa, dan pikiran. Jagalah kesehatan jiwa anda, karena itu harta yang paling berharga yang dapat diberikan kepada orang lain

Selanjutnya, acara dilanjutkan ke Sesi Pidato Dadakan yang dibawakan oleh TM Fauzan. Di sesi ini TM Fauzan meminta peserta pidato untuk secara acak mengambil kertas berisi kata yang berkaitan dengan tema Sumpah Pemuda. Masing-masing peserta harus memilih 3 kertas dan menyampaikan pidato yang berisi 3 kata yang tertera di 3 kertas tersebut. Acara berlangsung seru di mana TM Veronika, TM Lambang, TM Raja, TM Ian, dan TM Cephi saling berlomba untuk menyampaikan pidato mereka sekreatif mungkin.

Sesi terakhir pada pertemuan hari itu adalah Sesi Penilaian Umum. Di sesi ini, para penilai individu akan memberikan masukan bagi para peserta Sesi Pidato yang Dipersiapkan. Di sesi ini, DTM Harlina menilai TM Sofyan dan TM Cynthis, ACB, ALB Hariadi mengevaluasi TM Ian serta ACB, ALB Iin yang memberi masukan untuk ACB, ALB Indri. Di sesi ini juga Penilai Umum, TM Lambang memberi masukan untuk seluruh rangkaian acara.

img-20161029-wa0003Akhirnya acara tiba di bagian yang ditunggu-tunggu yaitu Panggung Kehormatan di mana para pemenang setiap sesi akan diumumkan. Di sesi ini, TM Cynthis, TM Veronika, dan ACB, ALB Hariadi keluar sebagai pembicara terfavorit Sesi Pidato yang Dipersiapkan, Sesi Pidato Dadakan, dan Sesi Penilaian Individu.

Demikianlah pertemuan yang bertemakan Sumpah Pemuda Jakarta Bahasa Toastmasters. Terima kasih untuk para pembicara yang telah membawakan pidato yang sangat menarik dan para pemegang peran yang telah menjalankan tugasnya masing-masing dengan sangat baik. Berkat semuanya acara dapat berlangsung dengan kreatif dan inspiratif.

img-20161029-wa0004