Monthly Archives: February 2016

Memilih Bahagia dengan Bersyukur (JABAT 20 Februari 2016)

IMG-20160220-WA0005“Bahagia itu sederhana, lupakan semua beban, rasakan banyaknya nikmat yang bertaburan.

“Bahagia itu sederhana, hanya datang setiap Sabtu ke JABAT.”

Itu adalah beberapa kalimat indah dari TM Fazar yang kali ini bertugas sebagai Pengarah Acara di Pertemuan JABAT. Pertemuan JABAT adalah kegiatan rutin mingguan yang biasanya diselenggarakan di Menara Kuningan, Jakarta, yang mengedepankan aspek pendidikan keterampilan bicara di depan umum (public speaking) dan kepemimpinan (leadership). Kali ini pertemuan dihadiri oleh 19 orang peserta (3 orang tamu).

TM Fazar menetapkan tema Pertemuan JABAT kali ini “Memilih Bahagia” Dengan kata acuan “Bersyukur”. Tiap pertemuan dibagi menjadi 3 sesi yaitu pidato yang dipersiapkan, pidato dadakan, dan penilaian umum. Dalam pidato yang dipersiapkan, anggota yang menjadi pembicara diberi kesempatan untuk menyampaikan pidato yang sudah dipersiapkan beberapa hari/minggu sebelumnya dalam waktu 5-7 menit. Untuk pidato dadakan, pembicara memiliki waktu 1-2 menit untuk memberi jawaban/ tanggapan atas pertanyaan/pernyataan yang diberikan oleh pemandu pidato dadakan. Dan selama sesi penilaian umum akan disampaikan laporan 2-3 menit oleh penilai individu atas pembicara pidato yang dipersiapkan; serta akan disampaikan laporan dari pemerhati tata bahasa, penghitung bunyi tanpa makna, dan penilai umum.

Pada pertemuan kali ini terdapat 3 orang pembicara pidato yang dipersiapkan, yaitu TM Yosephine, TM Chepi, dan TM Diella.

TM Yosephine sebagai pembicara pertama memulai pidato dengan judul “Menjadi Elang” untuk proyek Buku Panduan Dasar #5 (Bahasa Tubuh), ia dinilai oleh TM Aji. TM Yosephine mengambil contoh kehidupan burung Elang yang merupakan ciptaan Tuhan yang bisa memberikan inspirasi dalam menjalani kehidupan. Untuk menjadi seperti Elang yang kuat dan bebas dalam mencapai impian dalam hidup, kita perlu siap dibawa ke tempat yang lebih tinggi, keluar dari zona nyaman dan menguatkan hati karena terkadang tidak banyak yang bersama-sama dan mendukung kita. Ia menutup pidatonya dengan seruan “Tetap berjuang dan terbanglah setinggi mungkin!”

Sedangkan TM Chepi membawa pidato dengan judul “Biduan Jadi-jadian” untuk Buku Panduan Dasar #6 (Teknik Vokal) dan dinilai oleh TM Iin. TM Chepi memulai pidatonya dengan bersemangat. Ia menceritakan kisah yang ia alami saat dalam perjalanan di bis dan mendengar pengamen yang menyanyi dengan dandanan khas yang membuatnya tampak mencolok karena sangat kontras dengan tampilan fisiknya. TM Chepi mampu menirukan gerak tubuh dan suara-suara yang beragam dari berbagai kondisi dan peran dalam kisahnya, sehingga para peserta sering sekali dibuat tertawa olehnya. TM Chepi hari itu membawakan pidato yang sangat menghibur! 🙂

Pembicara terakhir TM Diella dengan pidato berjudul ”(Surat) Kepada Orang Terkasih” untuk Buku Panduan Lanjut #3 (Monodrama) dinilai oleh TM Hariadi. Naskah “Surat Kepada Orang Terkasih” ini adalah karya Taufan S.Chandranegara dalam buku Babad Raja Tega yang diterbitkan pada tahun 2005. Isinya menggugat sikap kepura-puraan dan kebusukan, terselubung atas nama kebajikan norma-norma sosial, yang ironinya malah mengundang puja dan puji bagi pelakunya. Untuk persiapan naskah ini, TM Diella mengaku perlu waktu sekitar dua minggu untuk mencari naskah, mengubah beberapa bagian yang disesuaikan dengan tujuan dan alokasi proyek monodrama buku panduan komunikasi lanjutan Toastmaster Interpretive Reading. Yang paling menantang menurut TM Diella namun menyenangkan dari proyek ini adalah mengalokasikan waktu untuk berlatih dan keluar dari kenyamanan diri untuk menjadi karakter yang diperankan. Namun hasilnya sangat sepadan, para peserta yang hadir semua terdiam dan terpana saat mendengar TM Diella berpidato karena penghayatan, kekuatan vokal dan bahasa tubuh yang mendukung tiap kalimat yang dituturkan. Luar biasa!

Sesi ke-2 yaitu Sesi Pidato Dadakan dipandu oleh TM Raja. Sesi ini berguna untuk melatih kemampuan kita dalam memberi respon secara cepat, tepat, dan dalam kalimat yang struktur dan tata bahasanya baik dan benar untuk situasi-situasi, misalnya jika atasan meminta pendapat kita tentang satu hal, atau jika kita diminta memberi pendapat dalam suatu forum, atau dalam wawancara kerja.

Dalam pertemuan kali ini ada sesi khusus yaitu Sesi Berbagi. Sesi berbagi yang pertama dibawakan oleh TM Indri yang membawakan “Program Pendidikan di Toastmaster”. TM Indri menjelaskan tahapan-tahapan yang bisa dilalui oleh seorang anggota Toastmaster dari jalur Komunikasi (Communication) dan jalur Kepemimpinan (Leadership) sampai mencapai Distinguished Toastmaster (DTM). Selanjutnya sesi berbagi dibawakan oleh TM Harlina yang menjelaskan tentang “Pidato Dadakan” yang merupakan sesi yang membuat banyak peserta cukup deg-degan. Beliau memberikan panduan-panduan yang sangat bermanfaat dan bisa langsung dipraktekkan menjelang lomba pidato JABAT yang sebentar lagi akan diadakan yaitu hari Sabtu, 27 Februari 2016.

IMG-20160222-WA0005Sebelum acara ditutup oleh TM Iin, diumumkan pembicara favorit yang terpilih pada hari itu. TM Diella menjadi pembicara pidato yang dipersiapkan terfavorit. Untuk penilai individu terfavorit yang terpilih adalah TM Hariadi. Sementara itu, tamu kita hari itu Haikal menjadi pembicara terfavorit untuk kategori pidato dadakan. Dan hari itu TM Fazar mempersiapkan satu hadiah spesial satu buah coklat untuk peserta yang beruntung yang ternyata adalah TM Hans.

IMG-20160222-WA0004Pengarah acara: Fazar. Penilai umum: Marti. Pembicara: Yosephine, Chepi, Diella, ACB, ALB. Penilai individu: Aji, Iin, CC, CL; Hariadi, ACB, ALB. Pembicara Sesi Berbagi: Indri, ACB, CL; Harlina, DTM. Pemandu pidato dadakan: Raja. Pemerhati tata bahasa: Hans. Pencatat waktu: Dedy. Penghitung bunyi tanpa makna: Fatih. Penghitung kertas suara: Sasti.

Advertisements

Toastmasters Leadership Institute (TLI) Round 2 District 87 (13 Feb 2016)

IMG-20160206-WA0009Pada hari Sabtu tanggal 13 Februari 2016 lalu diselenggarakan Toastmasters Leadership Institute (TLI) ke2 untuk Divisi I dan J Distrik 87. Acara diadakan di Aula Gedung F, lantai 6, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI yang terletak di Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta.

Toastmasters Leadership Institute (TLI) adalah salah satu program pelatihan yang diadakan secara berkala oleh distrik untuk para pengurus klub Toastmasters yang berada di bawah distrik yang bersangkutan.

Pelatihan ini bertujuan untuk:

  • Pengurus klub memiliki kesempatan untuk membahas permasalah-permasalahan yang mereka hadapi di dalam klub mereka.
  • Pengurus Distrik memiliki kesempatan untuk menindaklanjuti performance challenge yang mereka berikan pada pengurus klub.
  • Pengurus klub memiliki kesempatan untuk bertemu dengan pengurus klub lain dan berbagi tips bagaimana meningkatkan kinerja klub mereka.

Sesi TLI kali ini dibagi menjadi 6 sesi yaitu:

  • Sesi 1: Dibawakan oleh Ivy Lau Ee Nee, DTM (Program Quality Director Distrik 87) yang membahas apa yang dicapai klub selama 6 bulan terakhir. Beliau membuka pidatonya dengan satu kutipan yang menginspirasi “Without a goal you can’t score.” Kutipan dan pidato yang dibawakan mengingatkan setiap pengurus klub untuk memiliki tujuan yang ingin dicapai bagi klubnya, sehingga pengurus klub bersama para anggota klub bisa sama-sama mencapai tujuan tersebut.
  • Sesi 2: Steve Kosasih membahas tentang konferensi tahunan Toastmasters Distrik 87 di Jakarta, 20-22 Mei 2016 yang bertemakan “Magical Jakarta”. Pembicara dari Indonesia di konferensi tersebut adalah Handry Satriago (CEO GE Indonesia), Charles Bonar Sirait (public speaker, pendiri CBS School of Communications), Rene Suhardono (public speaker, pengarang). Di konferensi tersebut anggota Toastmasters bisa belajar langsung dari para pembicara yang memiliki latar belakang dan pengalaman yang luar biasa. IMG-20151225-WA0006
  • Sesi 3: Game dan Workshop. Para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Tiap kelompok diberikan tugas untuk membangun sesuatu (kendaraan, rumah, jembatan, dll.) dari peralatan-peralatan seadanya yang disediakan (kertas, double tape, beberapa kartu, dsb.). Setelah itu setiap kelompok bisa memberikan pertanyaan/tantangan terhadap kelompok lain untuk melihat kemampuan dan kerjasama tim. Sesi ini ditutup dengan membahas apa tantangan di klub masing-masing dan solusinya.
  • Sesi 4: Johan Amilin, DTM (TLI Chair Distrik 87) membahas game dan workshop yang telah dilakukan. Amilin juga membagikan sudut pandang bahwa Toastmasters bukan sekadar tempat untuk belajar berbicara dan kepemimpinan, namun juga tempat berbagi ilmu, memberikan dukungan dan percaya terhadap kemampuan terbaik dari seseorang, dengan menjadi mentor dan pengurus/anggota Toastmasters yang dapat diandalkan. Ia meminta beberapa peserta memilih satu orang yang dianggap sangat membantu dalam perjalanannya di Toastmasters. Lineola Lesmana, DTM, memilih Bpk. Wardiman Djojonegoro, DTM (Mantan Menteri Pendidikan Nasional RI) yang juga adalah sponsor klub Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT). 20160213_112257
  • Sesi 5: Ivy Lau Ee Nee, DTM menutup materi dengan membahas moment of truth. Moment of Truth adalah momen-momen penting di mana setiap klub akan meninggalkan kesan baik bagi para tamu yang datang maupun anggota dari klub itu sendiri dan sangat penting untuk bisa meninggalkan pengalaman yang positif dan berkesan. Para pengurus klub duduk bersama mengevaluasi kinerja klubnya dan memikirkan cara bagaimana untuk lebih baik ke depannya.
  • Sesi 6: Pembagian piagam Star Award kepada 11 klub. Piagam Star Award adalah piagam yang diberikan pada klub yang telah mencapai kategori Distinguished Clubs sampai dengan 31 Januari 2016 (3 dari pencapaian di jalur pendidikan dan 2 dari pencapaian yang lain.) Jakarta Bahasa Toastmasters termasuk salah satu klub yang mencapai penghargaan ini. piagam Star Award_hires

Demikian acara TLI ke-2 yang diselenggarakan di awal tahun 2016 ini. Acara ditutup dengan foto bersama semua peserta dari 40-an klub yang kurang lebih berjumlah 180 orang dan juga foto bersama para pengurus klub JABAT yang hari itu kompak memakai baju putih. Salam Kompak! 😉

20160213_114113Dari kiri ke kanan : Aji Wibowo (Kabid Humas); Dedy Herdian (Kabid Pendidikan); Indri Lesmana, ACB, CL (Kabid Keanggotaan); Fazaria H. Nasution (Bendahara); Yosephine P. Tyas (Sekretaris); Indrijati P. (Iin), CC,CL (Ketua Klub); Chepi Saepul Rohman (Seksi Logistik).

Daftar Pustaka: Training Club Leaders Manual.pdf

Harapan Kemakmuran dan Kegembiraan (JABAT 6 Februari 2016)

IMG-20160206-WA0004

Pertemuan JABAT adalah kegiatan rutin mingguan yang biasanya diselenggarakan di Menara Kuningan, Jakarta, yang mengedepankan aspek pendidikan keterampilan bicara di depan umum (public speaking) dan kepemimpinan (leadership). Kali ini pertemuan dihadiri oleh 18 orang peserta, dengan nuansa merah meriah.

TM Nila sebagai Pengarah Acara pertemuan JABAT menetapkan tema Pertemuan JABAT kali ini “Harapan Kemakmuran dan Kegembiraan” Dengan kata acuan “Angpau”. Tema dan kata acuan kali ini ditetapkan menjelang perayaan Tahun Baru China atau yang lebih dikenal dengan ‘Perayaan Imlek’ yang jatuh pada tanggal 8 Februari 2016. Tiap pertemuan dibagi menjadi 3 sesi yaitu pidato yang dipersiapkan, pidato dadakan, dan penilaian umum. Dalam pidato yang dipersiapkan, anggota yang menjadi pembicara diberi kesempatan untuk menyampaikan pidato yang sudah dipersiapkan beberapa hari/minggu sebelumnya dalam waktu 5-7 menit. Sementara itu, untuk pidato dadakan, anggota yang mengajukan diri untuk menjadi pembicara memiliki waktu 1-2 menit untuk memberi jawaban/ tanggapan atas pertanyaan/pernyataan yang diberikan oleh pemandu pidato dadakan. Dan selama sesi penilaian umum akan disampaikan laporan 2-3 menit oleh penilai individu atas pembicara pidato yang dipersiapkan; serta akan disampaikan laporan dari pemerhati tata bahasa, penghitung bunyi tanpa makna, dan penilai umum.

Penilai umum kita kali ini adalah TM Diella, ia sangat bersemangat dan memotivasi pertemuan sehingga pertemuan bisa dimulai tepat waktu. Penilai umum akan memberikan penilaian secara komprehensif terhadap pertemuan yang berlangsung dari awal hingga akhir.

Untuk pidato yang dipersiapkan terdapat 3 orang pembicara, yaitu TM Fatih, TM Martie, dan TM Fauzan.

TM Fatih sebagai pembicara pertama memulai pidato dengan judul “Menerima Perubahan” untuk proyek Buku Panduan Dasar #1 (Mencairkan Kekakuan), ia dinilai oleh TM Hariadi. TM Fatih menceritakan latar belakang keluarganya yang membuat ia menjadi ‘kutu buku’ dan menjadi seseorang yang agak pemalu, namun pada saat kuliah dan bekerja ia mulai memberanikan diri mengikut berbagai kegiatan yang membuat dirinya mau berubah dan menjadi sosok yang lebih baik. Ia menutup pidatonya dengan pertanyaan “Maukah kita menerima perubahan-perubahan yang ada?”

Sedangkan TM Martie membawa pidato dengan judul “Hidupmu Tidak Sempurna? Jalani Saja” untuk Buku Panduan Dasar #2 (Menyusun Naskah Pidato) dan dinilai oleh TM Harlina. TM Martie menceritakan bahwa saat ini ia melihat kecenderungan terutama di anak-anak muda yang merasa tidak berhasil atau menganggap diri dan kehidupan mereka tidak sempurna karena mereka membandingkan dirinya dengan orang yang berhasil dalam usia muda seperti pendiri Facebook, Mark Zuckerberg. TM Martie memberikan 3 langkah yang bisa dilakukan agar setiap orang bisa lebih bisa menerima kehidupan mereka apa adanya namun tetap menjalani dengan sebaik-baiknya.

Pembicara terakhir TM Fauzan dengan pidato berjudul ”Usaha Berbasis Teknologi di Indonesia” untuk Buku Panduan Dasar #8 (Menggunakan Alat Bantu Visual) dinilai oleh TM Iin. TM Fauzan telah mempersiapkan pidatonya dengan menggunakan alat bantu proyektor dengan tampilan yang sangat menarik sehingga ia bisa memberikan contoh-contoh usaha yang berbasis teknologi yang berhasil, serta bisa menginformasikan berbagai data pendukung mengapa saat ini penting bagi usaha-usaha untuk mulai menggunakan teknologi untuk mendukung usaha mereka.

Sesi ke-2 yaitu Sesi Pidato Dadakan dipandu oleh TM Yosephine, dan spesial dalam pertemuan kali ini semua perserta pidato dadakan diberikan angpau! Sesi ini berguna untuk melatih kemampuan kita dalam memberi respon secara cepat, tepat, dan dalam kalimat yang struktur dan tata bahasanya baik dan benar untuk situasi-situasi, misalnya jika atasan meminta pendapat kita tentang satu hal, atau jika kita diminta memberi pendapat dalam suatu forum, atau dalam wawancara kerja. Para peserta pidato dadakan menjawab pertanyaan yang diajukan dengan sangat baik dan menginspirasi. Salah satunya saat TM Harlina mengatakan bahwa kebahagiaan yang ia rasakan adalah saat ia bisa belajar dan membagikan apa yang telah ia pelajari untuk orang lain. Super sekali!

Kali ini ada juga sesi khusus yaitu penyambutan anggota baru JABAT yaitu TM Fatih dan pembacaan Janji Toastmaster yang dipimpin oleh Ketua JABAT, TM Iin. Anggota baru JABAT juga mendapatkan sertifikat keanggotaan sebagai bagian dari Toastmaster International.

Sebelum acara ditutup oleh TM Dedy, diumumkan pembicara favorit yang terpilih pada hari itu. TM Fauzan menjadi pembicara pidato yang dipersiapkan terfavorit. Untuk penilai individu terfavorit yang terpilih adalah TM Hariadi. Sementara itu, TM Ade dan TM Wicak mendapat hasil seri dan menjadi pembicara terfavorit untuk kategori pidato dadakan.

IMG-20160209-WA0001

Pengarah acara: Nila. Penilai umum: Diella, ACB, ALB. Pembicara: Fatih, Martie, Fauzan. Penilai individu: Hariadi, ACB, ALB; Harlina, DTM; Iin, CC, ALB. Pemandu pidato dadakan: Yosephine. Pemerhati tata bahasa: Wiwin. Pencatat waktu: Raya. Penghitung bunyi tanpa makna: Hans. Penghitung kertas suara: Wicak.

Kabar JABAT (Februari 2016)

Kabar Jabat Februari 2016_newest_hires_96dpi

PERTEMUAN KLUB JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 30 JANUARI 2016

PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 30 JANUARI 2016

“Semakin banyak tekanan yang kita terima, entah itu dalam bentuk cobaan hidup, musibah, atau bencana, akan membuat kita lebih kuat, lebih tangguh, dan menjadi manusia yang berharga layaknya intan.”

IMG-20160130-WA0004

Kata-kata yang menggugah tersebut diutarakan oleh TM Indri dalam pidato yang dibawakan hari itu di Pertemuan JABAT. Pertemuan JABAT kali ini diadakan spesial di Restoran Rempah Iting yang berlokasi di Jl. Sunda No. 7 Thamrin, Jakarta Pusat. Pertemuan JABAT adalah kegiatan rutin mingguan yang biasanya diselenggarakan di Menara Kuningan, Jakarta, yang mengedepankan aspek pendidikan keterampilan bicara di depan umum (public speaking) dan kepemimpinan (leadership).

Kali ini pertemuan ramai dihadiri oleh 21 orang peserta, di mana tamu berjumlah hingga 8 orang. TM Aji kali ini bertugas sebagai Pengarah Acara, ia menetapkan tema Pertemuan JABAT kali ini “Kedaulatan Pangan” dengan kata acuan “Non-Beras”. Tiap pertemuan dibagi menjadi 3 sesi yaitu pidato yang dipersiapkan, pidato dadakan, dan penilaian umum. Dalam pidato yang dipersiapkan, anggota yang menjadi pembicara diberi kesempatan untuk menyampaikan pidato yang sudah dipersiapkan beberapa hari/minggu sebelumnya dalam waktu 5-7 menit. Sementara itu, untuk pidato dadakan, anggota yang mengajukan diri untuk menjadi pembicara memiliki waktu 1-2 menit untuk memberi jawaban/ tanggapan atas pertanyaan/pernyataan yang diberikan oleh pemandu pidato dadakan. Dan selama sesi penilaian umum akan disampaikan laporan 2-3 menit oleh penilai individu atas pembicara pidato yang dipersiapkan; serta akan disampaikan laporan dari pemerhati tata bahasa, penghitung bunyi tanpa makna, dan penilai umum.

Pada pertemuan kali ini terdapat 3 orang pembicara pidato yang dipersiapkan, yaitu TM Raja, TM Indri, dan TM Iin.

TM Raja sebagai pembicara pertama memulai pidato dengan judul “Tondi” untuk proyek Buku Panduan Dasar #3 (Langsung ke Inti Masalah), TM Raja dinilai oleh TM Diella. TM Raja menceritakan bahwa dalam adat batak ada istilah Tondi yang berarti jiwa yang bisa menguat, melemah bahkan pergi dari tubuh kita. Untuk itu biasanya dilakukan upacara upa-upa agar tondi/jiwa menjadi kuat.

Sedangkan TM Indri membawa pidato dengan judul “Intan” untuk Buku Panduan Lanjut #5 (Pidato oleh Manajemen: Menyampaikan berita buruk) dan dinilai oleh DTM Harlina. TM Indri menganalogikan proses terbentuknya Intan dengan kemampuan seseorang dalam menghadapi tekanan dan tantangan yang ada dalam hidup. Analogi ini disampaikan terkait dengan keputusan Perusahaan yang harus diambil dikarenakan krisis ekonomi yang terjadi, sehingga diharapkan para karyawan dapat merespon secara positif.

Pembicara terakhir TM Iin dengan pidato berjudul ”60 Detik yang Menyelamatkan” untuk Buku Panduan Lanjut Informatif Proyek #3 (Pidato Peragaan) dinilai oleh TM Hariadi. TM Iin menginformasikan bahwa mencuci tangan begitu penting sampai-sampai Center for Disease Control & Prevention menyebutnya sebagai “vaksinasi yang bisa kita lakukan sendiri”. Agar bisa membunuh kuman secara efektif, cuci tangan harus menggunakan air yang mengalir dan sabun selama 45-60 detik.

Sesi ke-2 yaitu Sesi Pidato Dadakan dipandu oleh TM Dedy, sesi ini berguna untuk melatih kemampuan kita dalam memberi respon secara cepat, tepat, dan dalam kalimat yang struktur dan tata bahasanya baik dan benar untuk situasi-situasi, misalnya jika atasan meminta pendapat kita tentang satu hal, atau jika kita diminta memberi pendapat dalam suatu forum, atau dalam wawancara kerja.

IMG-20160201-WA0002Kali ini ada sesi khusus yaitu penyambutan anggota-anggota baru JABAT dan pembacaan Janji Toastmaster oleh para anggota baru yaitu TM Sasti, TM Riza, TM Raya, dan TM Wicak yang dipimpin oleh Ketua JABAT, TM Iin.

Para anggota baru JABAT juga mendapatkan sertifikat keanggotaan sebagai bagian dari Toastmaster International.

Sebelum acara ditutup oleh TM Chepi, diumumkan pembicara favorit yang terpilih pada hari itu. TM Raja menjadi pembicara pidato yang dipersiapkan terfavorit. Untuk penilai individu terfavorit yang terpilih adalah TM Hariadi. Sementara itu, TM Ade yang adalah mantan Kabid Pendidikan di JABAT yang saat itu datang sebagai tamu berhasil menjadi pembicara terfavorit untuk kategori pidato dadakan. Ia sempat berbagi dengan TM Dedy bahwa dirinya didaulat untuk menjadi Pembawa Acara untuk Acara BRI se-Papua dan ia mengatakan bahwa pengalamannya di JABAT sangat membantunya.

IMG-20160130-WA0003Pengarah acara: TM Aji; penilai umum: TM Iin; pembicara: TM Raja, TM Indri, TM Iin; penilai individu: TM Diella, DTM Harlina, TM Hariadi; pemandu pidato dadakan: TM Dedy; pemerhati tata bahasa: TM Chepi; pencatat waktu: TM Riza; penghitung bunyi tanpa makna: TM Wicak; penghitung kertas suara: TM Raya.