PERTEMUAN KLUB JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 28 NOVEMBER 2015

IMG-20151130-WA0012_resized

Pada Sabtu, 28 November 2015 kembali digelar pertemuan rutin Klub Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT), di Ruang VIP Lt. F3 Menara Kuningan, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan, 10.00 – 12.00 WIB.

Tema pertemuan hari itu adalah “Selamat Hari Ayah”, dengan kata acuan “Erak”. Tema ini diangkat berkaitan dengan Hari Ayah Nasional jatuh pada 19 November 2015 yang lalu sebagai hari untuk menghormati Ayah yang selama ini erak (kata lain dari lelah) dalam perjuangannya memenuhi kebutuhan keluarga.

Sebagai Pengarah Acara, Ucok mengawalinya dengan menayangkan sebuah video mengharukan tentang seorang gadis kecil yang mengirimkan surat kepada ayahnya.

Sementara itu, yang berperan sebagai Penilai Umum adalah Iin, bertugas menilai semua aspek dalam pertemuan tsb, dari awal sampai akhir. Sementara Pembicara yang ambil bagian adalah Fazar, Irwan dan Aji.

***

Sebagai Pembicara pertama Fazar membahas tema pada Buku Panduan Dasar ke-1 (BPD#1) – Mencairkan Kekakuan, dengan judul Merantau, dan Penilainya adalah Indri.

Gadis manis Sarjana Pertanian ini menceritakan tentang pengalamannya pertama kali merantau ke Pontianak, Kalimantan Barat untuk bekerja di sebuah perusahaan kelapa sawit.

Dara yang punya bakat melucu ini mengatakan bahwa “Saat itu saya betu-betul galau, nafsu makan berkurang sementara berat badan bertambah….. Kota itu seperti kota mati, seperti tidak ada kehidupan, air susah, makan susah, sinyalpun susah…”.

Gadis dari keluarga Batak Madailing ini mengakhiri pidatonya dengan puisi : “Merantaulah… agar kamu tahu bagaimana rasanya rindu dan kemana kau harus pulang/ Merantaulah… engkau akan tahu betapa berharganya waktu bersama keluarga/ Sekali lagi…. merantaulah …engkau kan tahu kenapa kau harus pulang dan engkaupun kan tahu siapa yang kau rindu”.

Sebagai Pembicara kedua Irwan (kebetulan) juga membahas tema yang sama dengan Fazar, tetu saja dengan judul yang berbeda yaitu “Arti Sebuah Nama”, dengan Penilainya Eni.

Pria asal Lampung yang mengaku lahir dari keluarga petani ini, menceritakan tentang nama ayahnya yang diambil dari seorang hakim di provinsi tsb, karena kakeknya ingin agar anaknya kelak menjadi seorang sarjana hukum, sehingga ayahnyapun menjadi seperti yang diimpikan kakeknya.

Demikian juga dengan namanya sendiri yaitu “Irwan Gunardi”, diambil dari nama seorang dokter dan seorang pilot. Nama “Irwan” seolah menuntun jalan hidupnya bekerja di sebuah perusahaan asuransi selaku Underwriting yang tugasnya mirip dengan seorang dokter, terkait dengan tanggungjawabnya dalam menilai resiko terhadap kesehatan seseorang, sedangkan nama “Gunardi” ada hubungannya dengan istrinya yang berprofesi sebagai seorang Pramugari di salah satu perusahaan penerbangan Nasional.

Untuk menutup pidatonya Irwan mengutip kalimat Shakespeer “Apalah arti sebuah nama”, meskipun nama itu sangat bermakna dalam dirinya.

Aji sebagai pembicara pamungkas pertemuan hari itu membahas tema BPD#9 – Kemampun Memengaruhi, dengan judul “Mencatat dengan Tulisan Tangan”, sementara penilainya Harlina.

Pemuda yang senang berolah raga ini mengatakan bahwa mencatat dengan tulisan tangan, lebih bermanfaat dibandingkan dengan gawai (gadget), karena otak lebih mencerna atau memahami informasi yang didapat, dan tidak ada gangguan dibandingkan ketika menggunakan gawai.

***
Sesi selanjutnya adalah Sesi Pidato Dadakan yang dipandu oleh Aji, sesi ini berguna untuk melatih kemampuan kita dalam memberi respon secara cepat, tepat, dan dalam kalimat yang struktur dan tatabahasanya baik dan benar untuk situasi-situasi, misalnya jika atasan meminta pendapat kita tentang satu hal, atau jika kita diminta memberi pendapat dalam suatu forum, atau dalam wawancara kerja. Hebatnya, semua yang hadir saat itu ambil bagian dalam pidato dadakan tsb.

Sementara Iin sebagai Pemerhati Tata Bahasa mencatat pembicara yang menggunakan bahasa asing, bahasa daerah, kalimat yang rancu/ambigu, kata percakapan tak baku seperti‘nggak’, ‘cuma’, ‘aja’, ‘oke’, dsb, dalam pidato-pidato mereka.
Disamping itu Ucok sebagai “Penghitung Bunyi Tanpa Makna” pun masih menemukan penggunaan kata tanpa makna seperti ‘e’, ‘em’, ‘dong’, ‘deh’, ‘sih’, dan kata dari bahasa asing dan bahasa daerah dari beberapa pembicara.
Sebuah tugas yang tidak bisa diabaikan, diperankan oleh Phipien sebagai “Pencatat Waktu”, karena dalam berbagai pertemuan Klub Toastmasters, setiap pidato memiliki waktu yang sudah ditetapkan. Sebagai “Pengumpul Kertas Suara” , Irwan bertugas mengumpulkan kertas suara serta memberi penjelasan cara menuliskan nama pembicara favorit pada setiap sesi, serta cara memberi komentar/ saran kepada pembicara yang bersangkutan.

***

Ucapan selamat kepada Aji yang tinggal selangkah lagi untuk meraih predikat CC (Competent Communicator), juga ucapan terima kasih kepada para pemegang peran yang telah melaksanakan tugas dengan sangat baik, khususnya Navilla dari Innovators dan Eni dari Hakindah.

**

Demikianlah pertemuan yang berlangsung di Menara Kuningan Sabtu, 28 November 2015 yang lalu, terasa sangat menyenangkan. Karena itu bagi yang berminat, ajak teman, keluarga atau pasangan Anda untuk ikut hadir di pertemuan JABAT berikutnya.

Mari kita isi akhir pekan dengan kegiatan yang bermanfaat dan mendidik.

Berikut ini adalah cupilkan video (dari Komunitas Korea Selatan) yang ditayangkan oleh Pembawa Acara dalam rangka memperingati Hari Ayah Nasional  :

 

 

Advertisements

Posted on November 30, 2015, in Artikel, Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: