PERTEMUAN KLUB JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 14 NOVEMBER 2015

wpid-img-20151114-wa0006.jpg

Pada Sabtu, 14 November 2015 kembali digelar pertemuan rutin Klub Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT), di Ruang Kalimantan Lt. F2 Menara Kuningan, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan, 10.00 – 12.00 WIB.

Tema pertemuan hari itu adalah “Bukan Lagi Perjuangan Menggunakan Bambu Runcing”, dengan kata acuan “Gempur” yang mencoba mengingatkan kepada para peserta bahwa pola perjuangan di era globalisasi ini telah mengalami perubahan , antara lain dengan menumbuhkan semangat kebangsaan dan jiwa nasionalisme, memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan.

Sebagai Pengarah Acara adalah Iin dan Penilai Umumnya Fauzan, yang bertugas menilai semua aspek dalam pertemuan tsb, dari awal sampai akhir. Sementara itu Pembicara yang ambil bagian adalah Hariadi, Indri dan Diella.

***
Sebagai Pembicara pertama Hariadi membahas tema pada Buku Panduan Dasar 10 (BPD #10) yaitu “Mengilhami Pendengar” dengan judul “Mutiara Terpendam”.
Pria kharismatik ini mengawali pidatonya dengan memperagakan cara dirinya membaca sebuah buku.

Hariadi mengatakan bahwa sejak lahir sudah mengalami gangguan penglihatan permanen, akibatnya dirinya hanya dapat melihat tulisan berukuran cukup besar dan dari jarak sangat dekat. Namun semangat belajar pria tangguh ini tak pernah luntur sehingga ketika lulus SMA, Haridi menggondol predikat sebagai lulusan kedua terbaik, bahkan selanjutnya Hariadi berhasil meraih gelar pascasarjana di sebuah Perguruan Tinggi bergengsi di Indonesia.

Hariadi juga merasa bersyukur dapat mengasah kemampuan berbicara di depan umum dan kepemimpinan di Toastmasters.

Sebelum menutup pidatonya Pria ini berpesan “Jangan berputus asa meski ditawan oleh ketidaksempurnaan dan kekurangan, kita juga dianugerahi kelebihan. Mari kita gali potensi diri sampai menemukan mutiara-mutiara terpendam yang membuat hidup lebih berwarna, bermakna, dan mempesona.

Pembicara berikutnya adalah Indri yang membahas tema pada Buku Panduan Lanjutan (BPL) yaitu “Pidato Pihak Manajemen”,  Proyek #2 tentang “Menilai Melalui Pujian” dengan judul “Kita Bisa”.

Dalam hal ini Indri sebagai Menejer Penjualan memilik 5 tips untuk memberi masukan kepada stafnya, yaitu fokus pada hal-hal yang positif, berbicara singkat dan tepat, memuji kemajuan yang diperoleh, membuat ringkasan, dan membagi informasi. Di sisi lain Indri juga bertugas memberi masukan kepada staf yang kurang memenuhi target agar mereka membuat skala prioritas dari pelanggan supaya lebih efektif dan tepat sasaran.

Sebagai Pembicara terakhir Diella membahas tema pada BPL “Interpretasi Bacaan” yaitu Proyek #2 “Interpretasi Puisi”dengan judul “Pesan Suara”

Puisi yang dipilih Diella untuk diinterpretasi dan dibacakan adalah karya Paulus Bonniek Renggo dari buku kumpulan puisi “Tapak-Tapak Tak Bermakna”, yang diterbitkan pada Festival Ladelero 2005-2006, memuat karya penyair-penyair muda di Pulau Flores dan Lembata yang masih duduk di bangku SMA dan kuliah.

Meskipun sosok lembut yang punya hobby lari ini mengatakan bahwa membaca puisi di depan umum seperti ini adalah yang pertama dalam hidupnya, namun Yosephine (salah seorang audience) memujinya bahwa pembacaan puisi Diella keren dan penuh penjiwaan….

Dalam sebuah grup komunitas di jejaring sosial Diella mengungkapkan rasa terima kasih atas masukan-masukan dari Anggota Jabat yang mampu “menendangnya” dari zona nyaman bersuara datar.

***
Sesi selanjutnya adalah Sesi Pidato Dadakan yang dipandu oleh Phipien, sesi ini berguna untuk melatih kemampuan kita dalam memberi respon secara cepat, tepat, dan dalam kalimat yang struktur dan tatabahasanya baik dan benar untuk situasi-situasi, misalnya jika atasan meminta pendapat kita tentang satu hal, atau jika kita diminta memberi pendapat dalam suatu forum, atau dalam wawancara kerja.
Sementara Ucok sebagai Pemerhati Tata Bahasa mencatat pembicara yang menggunakan bahasa asing, bahasa daerah, kalimat yang rancu/ambigu, kata percakapan tak baku seperti‘nggak’, ‘cuma’, ‘aja’, ‘oke’, dsb, dalam pidato-pidato mereka.
Disamping itu Fazar sebagai “Penghitung Bunyi Tanpa Makna” pun masih menemukan penggunaan kata tanpa makna seperti ‘e’, ‘em’, ‘dong’, ‘deh’, ‘sih’, dan kata dari bahasa asing dan bahasa daerah dari beberapa pembicara.
Sebuah tugas yang tidak bisa diabaikan, diperankan oleh Fazar sebagai “Pencatat Waktu”, karena dalam berbagai pertemuan Klub Toastmasters, setiap pidato memiliki waktu yang sudah ditetapkan. Disisi lain Raja sebagai Pengumpul Kertas Suara bertugas mengumpulkan kertas suara serta memberi penjelasan cara menuliskan nama pembicara favorit pada setiap sesi, serta cara memberi komentar/ saran kepada pembicara yang bersangkutan.

Sebelum acara ditutup, Presiden Jabat menyematkan pin kepada Hariadi sebagai penghargaan atas prestasinya telah menyelesaikan pidato dari BPD#10, sehingga pantas mendapat predikat “CC” (Competent Communicator).

wpid-img-20151114-wa0011.jpg

Pin untuk Hariadi

***
Demikianlah pertemuan yang berlangsung di Menara Kuningan Sabtu, 14 November 2015 yang lalu, terasa sangat menyenangkan. Karena itu bagi yang berminat, ajak teman, keluarga atau pasangan Anda untuk ikut hadir di pertemuan JABAT berikutnya.

Mari kita isi akhir pekan dengan kegiatan yang bermanfaat dan mendidik.

Advertisements

Posted on November 18, 2015, in Event, Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: