PERTEMUAN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 31 OKTOBER 2015

IMG-20151031-WA0002

Pada Sabtu, 31 Oktober 2015 kembali berlangsung pertemuan rutin Klub Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT), di Ruang VIP Lt. F3 Menara Kuningan, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan, 10.00 – 12.00 WIB.

Tema pertemuan rapat Jabat hari itu adalah “Kewirausahaan”, dengan kata acuan “Bahang”. Bahang  dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti antara lain adalah hawa panas yang terjadi karena nyala api atau dari panas tubuh.

Sebagai Pengarah Acara adalah Iin, sedangkan Penilai Umumnya Ucok yang bertugas menilai semua aspek dalam pertemuan tsb, dari awal sampai akhir pertemuan. Sementara Pembicara yang tampil Yosephine, Nila, Chepi, dan Ade.

***

Sebagai Pembicara pertama, Yosephine mengambil tema dari Buku Panduan Dasar 1 atau BPD#1, tentang “Mencairkan Kekakuan”, dengan judul “Harta Paling Berharga”.

Gadis manis ini mengatakan bahwa harta yang paling berharga baginya adalah keluarga. Pipin begitu nama kesayangannya, bercerita tentang 3 hal penting dalam keluarganya, yaitu kasih sayang, dukungan dan waktu.

Di akhir pidatonya Pipin mengatakan bahwa keluarga bahagia bukanlah keluarga yang kaya raya, tapi adalah keluarga yang senantiasa bersyukur dan saling menghargai satu sama lain.

Nila yang tampil pada pidato ketiga, mengangkat tema pada BPD#3 “Langsung ke Inti Masalah” dengan judul “Saatnya Melakukan Perubahan”.

Nila membahas tentang pemanasan global, yaitu suatu proses meningkatnya suhu rata-rata udara di permukaan bumi secara signifikan yang disebabkan oleh gas-gas rumah kaca, hasil aktivitas manusia seperti gas carbondioksida (CO2), gas metana (CH4), dsb dalam jumlah yang berlebihan. Selanjutnya Nila juga menguraikan tentang 3 aktivitas utama manusia yang menghasilkan gas rumah kaca, yaitu peternakan, bahan bakar fosil, dan listrik.

Dalam pidatonya tidak lupa Nila mengutip kata-kata bijak seorang Leo Tolstoy, bahwa “Semua orang berpikir tentang mengubah dunia, tapi tidak ada yang berpikir untuk mengubah dirinya sendiri”.

Sebagai Pembicara berikutnya Cephi, membahas tema pada BPD#4 “Ucapkan dengan Benar” dengan judul “Nostalgia Masa Kecil”.

Bankir muda ini berkisah tentang masa kecilnya ketika bermain pesawat dari kertas, main kelereng, main engklek atau sondah, baik yang dimainkan secara perorangan atau kelompok, bahkan ada juga permainan yang diiringi dengan nyanyian.

Beberapa manfaat dari permainan-permainan tradisional di atas antara lain untuk mengembangkan kecerdasan intelektual dan emosional, kreatifitas, bersosialisi serta melatih kemampuan motorik.

Sebagai penutup Cephi berpesan, agar membiarkan anak-anak bermain meluapkan kebahagian, seperti slogan teranyar dari sebuah produk yaitu “Tidak kotor tidak belajar”.

Terakhir, yang berpidato adalah Ade dengan mengambil tema pada Buku Panduan Lanjutan (BPL) “Humas” proyek “Pidato untuk Memberikan Citra Positif” berjudul “Seni Berbicara”.

Anak muda enerjik ini berpidato sambil berlatih melaksanakan rencana kerjanya sebagai Kepala Bidang Pendidikan Jabat. Ade yang akan tampil dihadapan para Mahasiswa sebuah Universitas ternama di negeri ini, ingin meyakinkan bahwa mahasiswa harus menyadari bahwa seni berbicara merupakan keterampilan penting yang harus dimiliki oleh seseorang apabila ingin sukses, karena dengan kemampuan komunikasi yang baik, pesan kita dapat dipahami oleh orang lain.

Ade yang juga seorang Bankir sebuah Bank terbesar di negeri ini, menyimpulkan bahwa Toastmasters merupakan organisasi yang tepat untuk meningkatkan seni berbicara yang kita miliki, mengasah kecakapan berkomunikasi dan kepemimpinan , untuk mempertebal rasa percaya diri dan meningkatkan kualitas pribadi.

***

Sesi selanjutnya adalah Sesi Pidato Dadakan yang dipandu oleh Aji, Sesi ini berguna untuk melatih kemampuan kita dalam memberi respon secara cepat, tepat, dan dalam kalimat yang struktur dan tatabahasanya baik dan benar untuk situasi-situasi, misalnya jika atasan meminta pendapat kita tentang satu hal, atau jika kita diminta memberi pendapat dalam suatu forum, atau dalam wawancara kerja.

Sementara Fauzan sebagai Pemerhati Tata Bahasa mencatat pembicara yang menggunakan bahasa asing, bahasa daerah, kalimat yang rancu/ambigu, kata percakapan tak baku seperti‘nggak’, ‘cuma’, ‘aja’, ‘oke’, dsb, dalam pidato-pidato mereka.

Satu lagi Bankir Jabat yaitu Dwiana sebagai “Penghitung Bunyi Tanpa Makna” pun masih menemukan penggunaan kata tanpa makna seperti ‘e’, ‘em’, ‘dong’, ‘deh’, ‘sih’, dan kata dari bahasa asing dan bahasa daerah dari beberapa pembicara.

Sebuah peran yang cukup penting dilakukan oleh Bopha sebagai Pencatat Waktu, karena dalam pertemuan-pertemuan Klub Toastmaster, setiap pidato memiliki waktu yang sudah ditetapkan. Sementara Hans sebagai Pengumpul Kertas Suara bertugas mengumpulkan kertas suara serta memberi penjelasan cara menuliskan nama pembicara favorit pada setiap sesi serta cara memberi komentar/ saran kepada pembicara yang bersangkutan.

IMG-20151031-WA0006

***

Demikianlah pertemuan yang berlangsung di Menara Kuningan Sabtu, 31 Oktober 2015 yang lalu, begitu hangat dan menyenangkan. Karena itu bagi yang berminat, ajak teman, keluarga atau pasangan Anda untuk ikut hadir di pertemuan JABAT berikutnya.

Mari kita isi akhir pekan dengan kegiatan yang bermanfaat dan mendidik.

Advertisements

Posted on November 3, 2015, in Artikel, Event and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: