Monthly Archives: November 2015

PERTEMUAN KLUB JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 28 NOVEMBER 2015

IMG-20151130-WA0012_resized

Pada Sabtu, 28 November 2015 kembali digelar pertemuan rutin Klub Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT), di Ruang VIP Lt. F3 Menara Kuningan, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan, 10.00 – 12.00 WIB.

Tema pertemuan hari itu adalah “Selamat Hari Ayah”, dengan kata acuan “Erak”. Tema ini diangkat berkaitan dengan Hari Ayah Nasional jatuh pada 19 November 2015 yang lalu sebagai hari untuk menghormati Ayah yang selama ini erak (kata lain dari lelah) dalam perjuangannya memenuhi kebutuhan keluarga.

Read the rest of this entry

Advertisements

PERTEMUAN KLUB JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 21 NOVEMBER 2015

IMG-20151122-WA0008-1

Pada Sabtu, 21 November 2015 kembali digelar pertemuan rutin Klub Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT), di Ruang Sumatra Lt. F2 Menara Kuningan, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan, 10.00 – 12.00 WIB.

Tema pertemuan hari itu adalah “Investasi”, dengan kata acuan “Terukur”, karena investasi menurut Hans sudah menjadi trend saat ini dan hangat dibicarakan, sedangkan kata terukur adalah mengajak kita agar mengerti segala sesuatu tentang investasi.

Sebagai Pengarah Acara adalah Hans dan Penilai Umumnya Raja, yang bertugas menilai semua aspek dalam pertemuan tsb, dari awal sampai akhir. Sementara itu Pembicara yang ambil bagian adalah Iin Mae, Phipien,  Fauzan, dan Yudha.

Read the rest of this entry

PERTEMUAN KLUB JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 14 NOVEMBER 2015

wpid-img-20151114-wa0006.jpg

Pada Sabtu, 14 November 2015 kembali digelar pertemuan rutin Klub Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT), di Ruang Kalimantan Lt. F2 Menara Kuningan, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan, 10.00 – 12.00 WIB.

Tema pertemuan hari itu adalah “Bukan Lagi Perjuangan Menggunakan Bambu Runcing”, dengan kata acuan “Gempur” yang mencoba mengingatkan kepada para peserta bahwa pola perjuangan di era globalisasi ini telah mengalami perubahan , antara lain dengan menumbuhkan semangat kebangsaan dan jiwa nasionalisme, memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan.

Sebagai Pengarah Acara adalah Iin dan Penilai Umumnya Fauzan, yang bertugas menilai semua aspek dalam pertemuan tsb, dari awal sampai akhir. Sementara itu Pembicara yang ambil bagian adalah Hariadi, Indri dan Diella.

***
Sebagai Pembicara pertama Hariadi membahas tema pada Buku Panduan Dasar 10 (BPD #10) yaitu “Mengilhami Pendengar” dengan judul “Mutiara Terpendam”.
Pria kharismatik ini mengawali pidatonya dengan memperagakan cara dirinya membaca sebuah buku.

Hariadi mengatakan bahwa sejak lahir sudah mengalami gangguan penglihatan permanen, akibatnya dirinya hanya dapat melihat tulisan berukuran cukup besar dan dari jarak sangat dekat. Namun semangat belajar pria tangguh ini tak pernah luntur sehingga ketika lulus SMA, Haridi menggondol predikat sebagai lulusan kedua terbaik, bahkan selanjutnya Hariadi berhasil meraih gelar pascasarjana di sebuah Perguruan Tinggi bergengsi di Indonesia.

Hariadi juga merasa bersyukur dapat mengasah kemampuan berbicara di depan umum dan kepemimpinan di Toastmasters.

Sebelum menutup pidatonya Pria ini berpesan “Jangan berputus asa meski ditawan oleh ketidaksempurnaan dan kekurangan, kita juga dianugerahi kelebihan. Mari kita gali potensi diri sampai menemukan mutiara-mutiara terpendam yang membuat hidup lebih berwarna, bermakna, dan mempesona.

Pembicara berikutnya adalah Indri yang membahas tema pada Buku Panduan Lanjutan (BPL) yaitu “Pidato Pihak Manajemen”,  Proyek #2 tentang “Menilai Melalui Pujian” dengan judul “Kita Bisa”.

Dalam hal ini Indri sebagai Menejer Penjualan memilik 5 tips untuk memberi masukan kepada stafnya, yaitu fokus pada hal-hal yang positif, berbicara singkat dan tepat, memuji kemajuan yang diperoleh, membuat ringkasan, dan membagi informasi. Di sisi lain Indri juga bertugas memberi masukan kepada staf yang kurang memenuhi target agar mereka membuat skala prioritas dari pelanggan supaya lebih efektif dan tepat sasaran.

Sebagai Pembicara terakhir Diella membahas tema pada BPL “Interpretasi Bacaan” yaitu Proyek #2 “Interpretasi Puisi”dengan judul “Pesan Suara”

Puisi yang dipilih Diella untuk diinterpretasi dan dibacakan adalah karya Paulus Bonniek Renggo dari buku kumpulan puisi “Tapak-Tapak Tak Bermakna”, yang diterbitkan pada Festival Ladelero 2005-2006, memuat karya penyair-penyair muda di Pulau Flores dan Lembata yang masih duduk di bangku SMA dan kuliah.

Meskipun sosok lembut yang punya hobby lari ini mengatakan bahwa membaca puisi di depan umum seperti ini adalah yang pertama dalam hidupnya, namun Yosephine (salah seorang audience) memujinya bahwa pembacaan puisi Diella keren dan penuh penjiwaan….

Dalam sebuah grup komunitas di jejaring sosial Diella mengungkapkan rasa terima kasih atas masukan-masukan dari Anggota Jabat yang mampu “menendangnya” dari zona nyaman bersuara datar.

***
Sesi selanjutnya adalah Sesi Pidato Dadakan yang dipandu oleh Phipien, sesi ini berguna untuk melatih kemampuan kita dalam memberi respon secara cepat, tepat, dan dalam kalimat yang struktur dan tatabahasanya baik dan benar untuk situasi-situasi, misalnya jika atasan meminta pendapat kita tentang satu hal, atau jika kita diminta memberi pendapat dalam suatu forum, atau dalam wawancara kerja.
Sementara Ucok sebagai Pemerhati Tata Bahasa mencatat pembicara yang menggunakan bahasa asing, bahasa daerah, kalimat yang rancu/ambigu, kata percakapan tak baku seperti‘nggak’, ‘cuma’, ‘aja’, ‘oke’, dsb, dalam pidato-pidato mereka.
Disamping itu Fazar sebagai “Penghitung Bunyi Tanpa Makna” pun masih menemukan penggunaan kata tanpa makna seperti ‘e’, ‘em’, ‘dong’, ‘deh’, ‘sih’, dan kata dari bahasa asing dan bahasa daerah dari beberapa pembicara.
Sebuah tugas yang tidak bisa diabaikan, diperankan oleh Fazar sebagai “Pencatat Waktu”, karena dalam berbagai pertemuan Klub Toastmasters, setiap pidato memiliki waktu yang sudah ditetapkan. Disisi lain Raja sebagai Pengumpul Kertas Suara bertugas mengumpulkan kertas suara serta memberi penjelasan cara menuliskan nama pembicara favorit pada setiap sesi, serta cara memberi komentar/ saran kepada pembicara yang bersangkutan.

Sebelum acara ditutup, Presiden Jabat menyematkan pin kepada Hariadi sebagai penghargaan atas prestasinya telah menyelesaikan pidato dari BPD#10, sehingga pantas mendapat predikat “CC” (Competent Communicator).

wpid-img-20151114-wa0011.jpg

Pin untuk Hariadi

***
Demikianlah pertemuan yang berlangsung di Menara Kuningan Sabtu, 14 November 2015 yang lalu, terasa sangat menyenangkan. Karena itu bagi yang berminat, ajak teman, keluarga atau pasangan Anda untuk ikut hadir di pertemuan JABAT berikutnya.

Mari kita isi akhir pekan dengan kegiatan yang bermanfaat dan mendidik.

PERTEMUAN KLUB JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 7 NOVEMBER 2015

IMG-20151107-WA0010

Pada Sabtu, 7 November 2015 kembali digelar pertemuan rutin Klub Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT), di Ruang VIP Lt. F3 Menara Kuningan, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan, 10.00 – 12.00 WIB.

Tema pertemuan hari itu adalah “Bukalah Topengmu” dengan kata acuan “Rentan” , dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti  mudah terkena penyakit atau peka.

Sebagai Pengarah Acara adalah Aji dan Penilai Umumnya Joshua, yang bertugas menilai semua aspek dalam pertemuan tsb, dari awal sampai akhir. Sementara itu Pembicara yang ambil bagian adalah Martie, Iin, dan Indri.

***
Sebagai Pembicara pertama Martie membahas tema pada Buku Panduan Dasar 1 (BPD #1) yaitu “Mencairkan Kekakuan” dengan judul “Cerita Hidup”.
Pria berkacamata ini mengawali pidatonya dengan mengatakan bahwa setiap orang terlahir dengan sebuah nama dan peran. Sebuah nama memegang peranannya masing-masing dalam kehidupan ini.

Pada kesempatan tsb Martie mengungkapkan bahwa peranan yang sedang dijalaninya adalah sebagai seorang Penilai Aset yang membantu mengidentikasi nilai sebuah asset seperti rumah, ruko, bangunan kantor, dll.

Mengakhiri pidatonya hari itu, Martie mengutip kalimat indah “Hari kemarin adalah sejarah, hari esok misteri, dan hari ini adalah anugerah”.

Pembicara berikutnya adalah Iin yang membahas tema pada Buku Panduan Lanjutan (BPL) yaitu “Pidato Persuasif”,  Proyek #2 tentang “Teknik Penjualan Cold Call” dengan judul “Menjual Produk Mahal”.

Sosok “Ibu” Jabat ini menjelaskan tentang Cold Call sebagai upaya pemasaran terhadap orang yang belum dikenal. Sementara sebuah produk disebut mahal jika pembelian memberi dampak finansial yang signifikan bagi pembelinya.

Menjual produk mahal pada prinsipnya sama dengan produk murah, perbedaannya hanya pada waktu. Pembeli memerlukan waktu lebih lama untuk memutuskan suatu produk dibutuhkannya atau tidak.

Iin menambahkan bahwa agar penjualan berhasil, wiraniaga harus mengutamakan kebutuhan pembeli, membangun hubungan jangka panjang, menjadi sumber informasi, dan memiliki integritas.

Sebagai Pembicara terakhir Indri membahas tema pada BPL “Pidato dari Pihak Manajemen” yaitu Proyek #1 dengam judul “Penyelenggaraan Lomba Pidato”

Indri menempatkan dirinya sebagai seorang Ketua Kontes Pidato Humor dan Evaluasi Jabat 2015, yang akan melakukan briefing dan  membahas tentang penyelenggaraan acara sesuai dgn aturan yg berlaku di Toastmasters. Memberitahu dan menerangkan tugas para pengambil peran, agar pada saat lomba semuanya mengetahui tugas masing-masing.

***
Sesi selanjutnya adalah Sesi Pidato Dadakan yang dipandu oleh Cephi, Sesi ini berguna untuk melatih kemampuan kita dalam memberi respon secara cepat, tepat, dan dalam kalimat yang struktur dan tatabahasanya baik dan benar untuk situasi-situasi, misalnya jika atasan meminta pendapat kita tentang satu hal, atau jika kita diminta memberi pendapat dalam suatu forum, atau dalam wawancara kerja.
Sementara Hans sebagai Pemerhati Tata Bahasa mencatat pembicara yang menggunakan bahasa asing, bahasa daerah, kalimat yang rancu/ambigu, kata percakapan tak baku seperti‘nggak’, ‘cuma’, ‘aja’, ‘oke’, dsb, dalam pidato-pidato mereka.
Selanjutnya Irwan sebagai “Penghitung Bunyi Tanpa Makna” pun masih menemukan penggunaan kata tanpa makna seperti ‘e’, ‘em’, ‘dong’, ‘deh’, ‘sih’, dan kata dari bahasa asing dan bahasa daerah dari beberapa pembicara.
Sebuah peran yang cukup penting dilakukan oleh Piphien sebagai Pencatat Waktu, karena dalam pertemuan-pertemuan Klub Toastmaster, setiap pidato memiliki waktu yang sudah ditetapkan. Sementara Cecep sebagai Pengumpul Kertas Suara bertugas mengumpulkan kertas suara serta memberi penjelasan cara menuliskan nama pembicara favorit pada setiap sesi serta cara memberi komentar/ saran kepada pembicara yang bersangkutan.
***
Demikianlah pertemuan yang berlangsung di Menara Kuningan Sabtu, 7 November 2015 yang lalu, terasa hangat dan penuh kekeluargaan. Karena itu bagi yang berminat, ajak teman, keluarga atau pasangan Anda untuk ikut hadir di pertemuan JABAT berikutnya.

Mari kita isi akhir pekan dengan kegiatan yang bermanfaat dan mendidik.

PERTEMUAN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 31 OKTOBER 2015

IMG-20151031-WA0002

Pada Sabtu, 31 Oktober 2015 kembali berlangsung pertemuan rutin Klub Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT), di Ruang VIP Lt. F3 Menara Kuningan, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan, 10.00 – 12.00 WIB.

Tema pertemuan rapat Jabat hari itu adalah “Kewirausahaan”, dengan kata acuan “Bahang”. Bahang  dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti antara lain adalah hawa panas yang terjadi karena nyala api atau dari panas tubuh.

Sebagai Pengarah Acara adalah Iin, sedangkan Penilai Umumnya Ucok yang bertugas menilai semua aspek dalam pertemuan tsb, dari awal sampai akhir pertemuan. Sementara Pembicara yang tampil Yosephine, Nila, Chepi, dan Ade.

***

Sebagai Pembicara pertama, Yosephine mengambil tema dari Buku Panduan Dasar 1 atau BPD#1, tentang “Mencairkan Kekakuan”, dengan judul “Harta Paling Berharga”.

Gadis manis ini mengatakan bahwa harta yang paling berharga baginya adalah keluarga. Pipin begitu nama kesayangannya, bercerita tentang 3 hal penting dalam keluarganya, yaitu kasih sayang, dukungan dan waktu.

Di akhir pidatonya Pipin mengatakan bahwa keluarga bahagia bukanlah keluarga yang kaya raya, tapi adalah keluarga yang senantiasa bersyukur dan saling menghargai satu sama lain.

Nila yang tampil pada pidato ketiga, mengangkat tema pada BPD#3 “Langsung ke Inti Masalah” dengan judul “Saatnya Melakukan Perubahan”.

Nila membahas tentang pemanasan global, yaitu suatu proses meningkatnya suhu rata-rata udara di permukaan bumi secara signifikan yang disebabkan oleh gas-gas rumah kaca, hasil aktivitas manusia seperti gas carbondioksida (CO2), gas metana (CH4), dsb dalam jumlah yang berlebihan. Selanjutnya Nila juga menguraikan tentang 3 aktivitas utama manusia yang menghasilkan gas rumah kaca, yaitu peternakan, bahan bakar fosil, dan listrik.

Dalam pidatonya tidak lupa Nila mengutip kata-kata bijak seorang Leo Tolstoy, bahwa “Semua orang berpikir tentang mengubah dunia, tapi tidak ada yang berpikir untuk mengubah dirinya sendiri”.

Sebagai Pembicara berikutnya Cephi, membahas tema pada BPD#4 “Ucapkan dengan Benar” dengan judul “Nostalgia Masa Kecil”.

Bankir muda ini berkisah tentang masa kecilnya ketika bermain pesawat dari kertas, main kelereng, main engklek atau sondah, baik yang dimainkan secara perorangan atau kelompok, bahkan ada juga permainan yang diiringi dengan nyanyian.

Beberapa manfaat dari permainan-permainan tradisional di atas antara lain untuk mengembangkan kecerdasan intelektual dan emosional, kreatifitas, bersosialisi serta melatih kemampuan motorik.

Sebagai penutup Cephi berpesan, agar membiarkan anak-anak bermain meluapkan kebahagian, seperti slogan teranyar dari sebuah produk yaitu “Tidak kotor tidak belajar”.

Terakhir, yang berpidato adalah Ade dengan mengambil tema pada Buku Panduan Lanjutan (BPL) “Humas” proyek “Pidato untuk Memberikan Citra Positif” berjudul “Seni Berbicara”.

Anak muda enerjik ini berpidato sambil berlatih melaksanakan rencana kerjanya sebagai Kepala Bidang Pendidikan Jabat. Ade yang akan tampil dihadapan para Mahasiswa sebuah Universitas ternama di negeri ini, ingin meyakinkan bahwa mahasiswa harus menyadari bahwa seni berbicara merupakan keterampilan penting yang harus dimiliki oleh seseorang apabila ingin sukses, karena dengan kemampuan komunikasi yang baik, pesan kita dapat dipahami oleh orang lain.

Ade yang juga seorang Bankir sebuah Bank terbesar di negeri ini, menyimpulkan bahwa Toastmasters merupakan organisasi yang tepat untuk meningkatkan seni berbicara yang kita miliki, mengasah kecakapan berkomunikasi dan kepemimpinan , untuk mempertebal rasa percaya diri dan meningkatkan kualitas pribadi.

***

Sesi selanjutnya adalah Sesi Pidato Dadakan yang dipandu oleh Aji, Sesi ini berguna untuk melatih kemampuan kita dalam memberi respon secara cepat, tepat, dan dalam kalimat yang struktur dan tatabahasanya baik dan benar untuk situasi-situasi, misalnya jika atasan meminta pendapat kita tentang satu hal, atau jika kita diminta memberi pendapat dalam suatu forum, atau dalam wawancara kerja.

Sementara Fauzan sebagai Pemerhati Tata Bahasa mencatat pembicara yang menggunakan bahasa asing, bahasa daerah, kalimat yang rancu/ambigu, kata percakapan tak baku seperti‘nggak’, ‘cuma’, ‘aja’, ‘oke’, dsb, dalam pidato-pidato mereka.

Satu lagi Bankir Jabat yaitu Dwiana sebagai “Penghitung Bunyi Tanpa Makna” pun masih menemukan penggunaan kata tanpa makna seperti ‘e’, ‘em’, ‘dong’, ‘deh’, ‘sih’, dan kata dari bahasa asing dan bahasa daerah dari beberapa pembicara.

Sebuah peran yang cukup penting dilakukan oleh Bopha sebagai Pencatat Waktu, karena dalam pertemuan-pertemuan Klub Toastmaster, setiap pidato memiliki waktu yang sudah ditetapkan. Sementara Hans sebagai Pengumpul Kertas Suara bertugas mengumpulkan kertas suara serta memberi penjelasan cara menuliskan nama pembicara favorit pada setiap sesi serta cara memberi komentar/ saran kepada pembicara yang bersangkutan.

IMG-20151031-WA0006

***

Demikianlah pertemuan yang berlangsung di Menara Kuningan Sabtu, 31 Oktober 2015 yang lalu, begitu hangat dan menyenangkan. Karena itu bagi yang berminat, ajak teman, keluarga atau pasangan Anda untuk ikut hadir di pertemuan JABAT berikutnya.

Mari kita isi akhir pekan dengan kegiatan yang bermanfaat dan mendidik.