PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 12 SEPTEMBER 2015

Pada 12 September 2015 di Jakarta, berlangsung pertemuan rutin Jakarta Bahasa Toastmasters Klub (JABAT), di Menara Kuningan Lt. F2 Ruang Papua, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan (seberang Kedutaan Besar Australia), Pukul 10.00-12.00 WIB.

Tema pertemuan adalah “Ayo Membaca” dengan kata acuan “Aksara”.

Dalam pertemuan tersebut tampil dua pembicara, yaitu Aji dan Indri. Sebagai pembicara pertama, Aji membahas tentang “Memilih Sepatu Lari” dari Buku Panduan Dasar ke-8 (BPD#8), yaitu Penggunaan Alat Bantu.

Pada awalnya Aji mengajukan pertanyaan “Apakah teman-teman Toastmasters pernah merasakan sakit di telapak kaki, ketika berolahraga? apakah penyebab rasa sakit itu ? Ukuran atau bentuk sepatunyakah yang tidak sesuai dengan kaki ?”

Aji mengatakan bahwa berlari mempunyai risiko cedera, dainatara penyebabnya adalah salah memilih sepatu. Ketika berlari kaki menahan 2 ½ hingga 3 kali berat badan, dan tekanan terhadap otot menjadi 4 kali lebih besar dibandingkan dengan berjalan. Karena sepatu berguna untuk mengurangi beban yang diterima kaki, maka kesalahan dalam memilih sepatu dapat menyebabkan cedera.

Sebelum memilih sepatu, kita harus mengetahui jenis kaki, supaya menemukan sepatu yang cocok. Menurut Mckinley Health Center, University of Illinois’, jenis telapak kaki manusia ada 3, yaitu:

  1. Pronation, bentuk kaki yang datar, sepatu yang cocok adalah sepatu yang memiliki pendukung di bantalan alasnya sehingga kaki tidak pegal ketika berlari.
  2. Supinator, bentuk alas kaki yang melengkung tinggi, sepatu yang cocok  adalah yang memiliki banyak bantalan di bagian alasnya.
  3. Netral, bentuk kaki yang tidak menunjukan bentuk yang penuh atau lengkungan kosong yang tinggi, yaitu bentuk kaki yang umum dan aman dari cedera asal menggunakan sepatu yang tepat.

Dengan kaki normal, kita dapat memilih berbagai macam jenis sepatu lari, namun hindari memilih sepatu lari yang memiliki dukungan stability atau motion control yang terlalu tinggi.

Aji juga memperagakan cara memeriksa bentuk kaki yang mudah dan praktis dengan membasahi telapak kaki dengan air, lalu injak kertas yang sudah disediakan, kemudian lihat hasilnya.

Sebagai penutup Aji menekankan kembali bahwa hati-hatilah dalam memilih sepatu karena dapat menyebabkan cedera.

Pembicara kedua adalah Indri yang mengangkat materi dari Buku Public Relation, AM #7 : The Persuasive Approach dengan judul “Rumah Susun”. Indri memulai dengan pernyataan “Rumahku adalah istanaku”, bahwa tidak ada tempat yang paling nyaman selain rumah.

Indri bercerita tentang pengalamannya merantau dari Bogor ke Jakarta, tinggal di kamar kos hampir 12 tahun, ketika telat membayar Ibu/ Bapak kos langsung kasih peringatan untuk segera angkat kaki. Sehingga Indri bertekad suatu saat untuk punya rumah sendiri meskipun kecil. Mengingat harga tanah di Jakarta yang sangat mahal, Indri merasa tidak sanggup untuk membelinya dan kalaupun dengan kredit pasti berada di pinggiran kota, dengan kondisi jalanan yang macet sementara aktifitasnya banyak di Jakarta.

Kebutuhan hunian meningkat dengan pesat seiring berkembangnya jumlah penduduk Indonesia apalagi di Jakarta. Keterbatasan lahan membuat rumah susun menjadi alternatif solusi yang terbaik bagi permasalahan pemukiman di perkotaan. Jakarta sebagai kota terbesar di Indonesia, pertumbuhan penduduknya sebesar 1,3 % per tahun, kebutuhan perumahan sebanyak 70.000 unit hunian per tahun, dengan luas lahan sebesar 66.152 ha, dialokasikan hanya sebesar 39.691 ha untuk permukiman, sementara harga tanah sangat tinggi.

Bagi Pemerintah kota, pembangunan rumah susun, sebagai alat peremajaan kawasan, menguragi resiko kebakaran, bertujuan untuk meningkatkan potensi sebuah kawasan binaan yang banyak dilakukan terpadu dengan pembangunan rumah susun. (Pracastino, Des 2010)

Menurut studi Rumah Susun di Indonesia dibagi menjadi 3 (tiga) :

Rumah Susun Sederhana (Rusuna), umumnya dihuni oleh golongan yang kurang mampu, biasanya dijual atau disewakan oleh Perumnas (BUMN). Misalnya, Rusuna Klender di Pasar Jumat, Lebak Bulus, Jakarta.

Rumah Susun Menengah (Apartemen), biasanya dijual atau disewakan oleh Perumnas atau Pengembang Swasta kepada masyarakat konsumen menengah ke bawah. Misalnya, Apartemen Taman Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Rumah Susun Mewah (Condonium), selain dijual kepada masyarakat konsumen menengah ke atas juga kepada orang asing atau expatriate oleh Pengembang Swasta. Misalnya Casablanca, Jakarta.

Sudah hampir 3 tahun Indri tinggal di rumah susun Kalibata City dan merasakan keuntungannya, karena lokasinya yang strategis, harga lebih murah, bebas banjir dan keamanan yang lebih terjamin.

Indri menutup Pidatonya dengan rasa bahagia karena memiliki rumah sendiri di rumah susun, walaupun sederhana tapi harganya terjangkau sekaligus dapat membantu program Pemerintah menyelesaikan masalah transportasi, kemacetan, urbanisasi, dll.

Advertisements

Posted on September 15, 2015, in Artikel and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: