Monthly Archives: September 2015

PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 19 SEPTEMBER 2015

J1443077369365

Pada 19 September 2015 di Jakarta, berlangsung pertemuan rutin Jakarta Bahasa Toastmasters Klub (JABAT), Ruang VIP Lt. F3 Menara Kuningan, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan (seberang Kedutaan Besar Australia), dari Pukul 10.00-12.00 WIB.
Tema pertemuan adalah “Tujuan Hidup” dengan kata acuan “Resolusi” , dan yang tampil terdiri dari 4 pembicara, yaitu Reva, Fauzan, Ucok dan Yudha.

***
Sebagai pembicara pertama, Reva memulai pidatonya yang berjudul “Produk Masa Lalu” dari Buku Panduan Dasar Pertama (BPD#1- Mencairkan Kekakuan).
Menurut Reva kita adalah produk masa lalu, Reva memiliki tiga benda yang dapat menggambarkan perjalan hidupnya yaitu buku fisika, netbook dan Kartu Identitas Mahasiswa.

Karena menyukai fisika, ketika itu Reva memilih Jurusan Pendidikan Fisika di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Lampung, meskipun akhirnya Reva memutuskan untuk keluar dan masuk ke dunia kerja, kemudian pindah ke Yogya dan bekerja di sana,

Saat berada di dunia kerja inilah yang dilambangkan oleh Reva sebagai netbook. Reva menambahkan bahwa ternyata dunia kerja tidak membuatnya merasa nyaman akhirnya kembali ke Lampung dan mempersiapkan diri menghadapi ujian masuk Perguruan Tinggi (PT).

Berbekal pengalamannya di dunia kerja, gadis ini merasa pentingnya komunikasi, yang memberi keyakinan kepadanya untuk kuliah di Jurusan Komunikasi. Suatu kali atas ajakan temannya Reva mengikuti pertemuan rutin Toastmasters, yang membuatnya sangat terkesan untuk bergabung.

Mulai saat itu Reva membuat resolusi bahwa dirinya harus kuliah di Jakarta dan belajar dengan Toastmasters. Keinginannya terkabulkan karena diterima di Universitas Indonesia (UI) pada Jurusan Komunikasi Periklanan yang dilambangkannya dengan Kartu Identitas Mahasiswa, serta bergabung dengan JABAT.

Reva mengatakan bahwa keputusannya mengundurkan diri dari PT, membuatnya belajar memperbaiki kapasitas diri dan mampu membuat keputusan sendiri.

Sebagai penutup dari pidatonya Reva menyampaikan serangkaian kata-kata bijak “Masa lalu adalah pengalaman, masa depan adalah misteri, dan masa kini masa yang harus dijalani”.

***
Pembicara selanjutnya adalah Fauzan, pidatonya dari BPD#2 – Menyusun Naskah Pidato dengan judul “Kampung Inggris”.
Fauzan menceritakan pengalamannya selama dua bulan di Pare, Kediri, Jawa Timur. dan alasannya datang ke sini antara lain karena biaya hidup murah, baik harga makanan, sewa kos maupun biaya kursus. Namun, meskipun murah tapi kualitasnya tidak murahan, disamping udara yang segar berbeda dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Setiap hari, aktivitas anak muda ini hanyalah belajar, belajar, dan belajar, berangkat ke tempat kursus dengan bersepeda, mulai dari terbit matahari hingga senja di tempat kursus yang berbeda beda. Jika libur tiba, Fauzan adalah menikmati senja di tengah hamparan sawah yang luas nan hijau sembari berdiskusi tentang kehidupan dengan sahabat-sahabat barunya, bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang budaya, misalnya dari Papua, Lombok, Makassar, bahkan Malaysia, dan Thailand. Mereka berkumpul di sana untuk tujuan yang sama, yaitu meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris sehingga atmosfirnya sangat mendukung.

Fauzan mengatakan bahwa terdapat 3 hal penting yang harus dimiliki para “pejuang mimpi” kampung Inggris yaitu mempunyai tujuan hidup yang jelas, Komitmen dan Lingkungan. Fauzan mengajak rekan-rekan JABAT untuk berkunjung ke kampung Inggris di Pare, Kediri sebagai tempat yang sangat cocok untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris.

Menurut Fauzan “Impian tinggi itu gratis, namun untuk mewujudkannya harus dibayar dengan proses atau tindakan, karena impian dan tindakan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan”.

***
Pembicara selanjutnya adalah Ucok yang berpidato dengan judul “Itulah Jodoh” dari BPD#5 . Menurut Ucok “Siapa pun itu, dialah yang terbaik untuk kita. Sayangi, pahami, dan berbahagialah….!!!”
Menemukan tambatan hati bukan merupakan hal yang mudah, banyak proses yang menyulut emosi, baik tawa maupun air mata.

Ada beberapa proses yang membutuhkan perjuangan dalam mencari pasangan hidup, yaitu tahap mencari pasangan, proses meyakinkan dan tahap eksekusi, yang merupakan titik kulminasi dari tujuan anda mendapatkan pasangan.

Sebagai seorang Peneliti di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ucok mengatakan bahwa proses mencari pasangan memang melelahkan, tetapi itu adalah proses alami yang harus dinikmati. Perlu perjuangan untuk menemukan pasangan hebat sehingga menghasilkan keturunan hebat.  Namun demikian, harus disadari bahwa “Jodoh itu tidak bisa dikejar saat dia belum datang, dan tidak bisa ditolak saat dia datang. Layaknya ajal...,” demikian Bapak seorang anak ini mengakhiri pidatonya.

***
Sebagai pembicara penutup Yudha berpidato dengan judul “Alasan yang membuat Anda Datang ke Yogya” dari Buku Panduan Dasar ke-8 (BPD#8) – Penggunaan Alat Bantu.
Menurut Yudha, Yogyakarta terkenal sebagai kota tujuan wisata di negeri ini, apa sebenarnya yg menjadikan kota ini menarik bagi wisatawan domestik dan mancanegara untuk datang? Ada 3 alasan diataranya adalah obyek wisata lengkap, akses mudah dan biaya hidup murah.

Yogyakarta selain sebagai kota wisata juga terkenal sebagai kota pelajar, hal ini membuat biaya hidup di sini jauh lebih murah dibandingkan dengan kota tujuan wisata lainnya. Biaya obyek wisata di Yogyakart relatif murah sekitar Rp 3.000 bahkan ada yang gratis.

Pada akhir pidatonya anak muda berkacamata ini menyatakan bahwa Yogyakarta adalah kota istimewa, kota wisata yang menawarkan variasi obyek wisata yang lengkap, ditambah dengan keramah tamahan warganya yang siap menyambut Anda.

Advertisements

UNDANGAN PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 26 SEPTEMBER 2015

TM442912547943

Klub Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT) kembali mengundang Anda untuk hadir dan melihat bagaimana metode belajar pidato ber-Bahasa Indonesia yang dibawakan dengan cara menyenangkan. Acara akan diadakan pada Sabtu, 26 September 2015, di Ruang VIP Lt. F3 Menara Kuningan, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan (seberang Kedutaan Besar Australia), Pukul 10.00-12.00 WIB.

Jangan lupa, ajak teman, keluarga atau pasangan Anda ya….. untuk ikut hadir di pertemuan seru JABAT. Yuk…..kita isi akhir pekan dengan kegiatan yang bermanfaat dan mendidik.

Silahkan hubungi Aji (Kabid Humas JABAT) di nomor 0899-8950-490 atau Cephi (Seksi Logistik JABAT) di nomor 0813-1063-4803, sampai ketemu di Menara Kuningan…..!!!

Ingat, Sabtu, 26 September 2015 …….!!!

BENDA KENANGAN

Ning-6281514676262Pidato berikut ini pernah dibawakan oleh TM. Safrudiningsih yang akrab disapa dengan nama Ning, dalam Acara Lomba Gabungan antara Klub Jakarta Bahasa Toastmasters (Jabat) dan Excellence Toastmasters Club yaitu “Lomba Pidato Humor dan Evaluasi”.

Acara diselenggarakan pada 22 Agustus 2015 yang lalu, di Restoran Rempah Iting, Jl. Sunda No. 7, Jakarta Pusat (belakang The Harvest atau samping Sarinah Thamrin).

 

Mari kita simak pidato dari Ning :

Apakah rekan-rekan punya benda kenangan?

Apa benda kenangan rekan-rekan ?

Beda orang, pasti akan beda pula jawaban yang muncul.

Apa arti sebuah benda kenangan bagi Rekan-rekan ?

Pasti juga banyak jawaban yang muncul, berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), benda kenangan adalah benda yang mengingatkan kita pada peristiwa tertentu.

Benda kenangan saya adalah kain panjang (dalam bahasa Jawa namanya jarik ). Kain panjang ini usianya kurang lebih sudah 35 tahun. Warna kain panjang ini sudah sedikit memudar dan juga dibeberapa bagian dari kain ini robek dan berlubang. Tapi kain ini tetap menarik bagi saya untuk dikenang dan diceritakan. Banyak cerita dan kenangan yang terpatri di kain ini, baik suka maupun duka. Ada tiga kenangan manis yang akan saya ceritakan tentang kain panjang ini, yaitu :

Pertama, ketika masa kecil, kain panjang ini mengingatkan saya akan permainan pahlawan bertopeng atau bersayap dan pedangnya. Dengan memakai kain panjang ini saya seakan bisa terbang, khayalan-khayalan menjadi superhero atau supermen, selain itu dengan kain ini pula saya ingat permainan ibu-ibuan yang memakai kain panjang dalam memerankannya.

Kedua, kain panjang digunakan untuk menutup ketika melahirkan. Banyak orang tua bilang dengan memakai kain panjang ibu, ketika kita melahirkan akan membuat proses tersebut menjadi lebih lancar, dengan kata lain kain panjang ini juga mengingatkan kita akan pengorbanan dan perjuangan seorang ibu. Tenyata cerita atau mitos ini tidak hanya hisapan jempol, saya melahirkan ketiga anak saya dengan tutup kain panjang ibu, semua proses ini berjalan lancar. Selain itu beberapa cerita kain panjangpun turun ke anak saya, ketika mereka sakit, entah sugesti atau faktor kebetulan badan mereka yang tadinya panas tinggi, dengan diselimuti kain panjang menjadi turun panas badannya.

Ketiga, kain panjang juga dapat menjadi pengobat rindu, ketika saya rindu obat inilah yang menjadi pengobat rindu. Karena saya tidak akan bisa bertemu dengan mereka yang telah meninggal.

Nilai setiap benda kenangan memang hidup di benak dan hati masing-masing, barang yang bagi orang lain tampak tak memiliki makna, di mata yang lain mungkin bisa membangkitkan banyak memori. Maka hargailah benda kenangan, apapun bentuknya.

Oleh : Safrudiningsih

UNDANGAN PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 19 SEPTEMBER 2015

IMG-19 September 2015-WA0000

Klub Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT) kembali mengundang Anda untuk hadir dan melihat bagaimana metode belajar pidato ber-Bahasa Indonesia yang dibawakan dengan cara menyenangkan. Acara akan diadakan pada Sabtu, 19 September  2015, di Ruang VIP Lt. F3 Menara Kuningan, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan (seberang Kedutaan Besar Australia),  Pukul 10.00-12.00 WIB.

Jangan lupa, ajak teman, keluarga atau pasangan Anda ya….. untuk ikut hadir di pertemuan seru JABAT. Yuk…..kita isi akhir pekan dengan kegiatan yang bermanfaat dan mendidik.

Kontak Aji di 089989504901, sampai ketemu di Menara Kuningan…..!!!

Ingat, Sabtu, 19 September 2015 …….!!!

PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 12 SEPTEMBER 2015

Pada 12 September 2015 di Jakarta, berlangsung pertemuan rutin Jakarta Bahasa Toastmasters Klub (JABAT), di Menara Kuningan Lt. F2 Ruang Papua, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan (seberang Kedutaan Besar Australia), Pukul 10.00-12.00 WIB.

Tema pertemuan adalah “Ayo Membaca” dengan kata acuan “Aksara”.

Dalam pertemuan tersebut tampil dua pembicara, yaitu Aji dan Indri. Sebagai pembicara pertama, Aji membahas tentang “Memilih Sepatu Lari” dari Buku Panduan Dasar ke-8 (BPD#8), yaitu Penggunaan Alat Bantu.

Pada awalnya Aji mengajukan pertanyaan “Apakah teman-teman Toastmasters pernah merasakan sakit di telapak kaki, ketika berolahraga? apakah penyebab rasa sakit itu ? Ukuran atau bentuk sepatunyakah yang tidak sesuai dengan kaki ?”

Aji mengatakan bahwa berlari mempunyai risiko cedera, dainatara penyebabnya adalah salah memilih sepatu. Ketika berlari kaki menahan 2 ½ hingga 3 kali berat badan, dan tekanan terhadap otot menjadi 4 kali lebih besar dibandingkan dengan berjalan. Karena sepatu berguna untuk mengurangi beban yang diterima kaki, maka kesalahan dalam memilih sepatu dapat menyebabkan cedera.

Sebelum memilih sepatu, kita harus mengetahui jenis kaki, supaya menemukan sepatu yang cocok. Menurut Mckinley Health Center, University of Illinois’, jenis telapak kaki manusia ada 3, yaitu:

  1. Pronation, bentuk kaki yang datar, sepatu yang cocok adalah sepatu yang memiliki pendukung di bantalan alasnya sehingga kaki tidak pegal ketika berlari.
  2. Supinator, bentuk alas kaki yang melengkung tinggi, sepatu yang cocok  adalah yang memiliki banyak bantalan di bagian alasnya.
  3. Netral, bentuk kaki yang tidak menunjukan bentuk yang penuh atau lengkungan kosong yang tinggi, yaitu bentuk kaki yang umum dan aman dari cedera asal menggunakan sepatu yang tepat.

Dengan kaki normal, kita dapat memilih berbagai macam jenis sepatu lari, namun hindari memilih sepatu lari yang memiliki dukungan stability atau motion control yang terlalu tinggi.

Aji juga memperagakan cara memeriksa bentuk kaki yang mudah dan praktis dengan membasahi telapak kaki dengan air, lalu injak kertas yang sudah disediakan, kemudian lihat hasilnya.

Sebagai penutup Aji menekankan kembali bahwa hati-hatilah dalam memilih sepatu karena dapat menyebabkan cedera.

Pembicara kedua adalah Indri yang mengangkat materi dari Buku Public Relation, AM #7 : The Persuasive Approach dengan judul “Rumah Susun”. Indri memulai dengan pernyataan “Rumahku adalah istanaku”, bahwa tidak ada tempat yang paling nyaman selain rumah.

Indri bercerita tentang pengalamannya merantau dari Bogor ke Jakarta, tinggal di kamar kos hampir 12 tahun, ketika telat membayar Ibu/ Bapak kos langsung kasih peringatan untuk segera angkat kaki. Sehingga Indri bertekad suatu saat untuk punya rumah sendiri meskipun kecil. Mengingat harga tanah di Jakarta yang sangat mahal, Indri merasa tidak sanggup untuk membelinya dan kalaupun dengan kredit pasti berada di pinggiran kota, dengan kondisi jalanan yang macet sementara aktifitasnya banyak di Jakarta.

Kebutuhan hunian meningkat dengan pesat seiring berkembangnya jumlah penduduk Indonesia apalagi di Jakarta. Keterbatasan lahan membuat rumah susun menjadi alternatif solusi yang terbaik bagi permasalahan pemukiman di perkotaan. Jakarta sebagai kota terbesar di Indonesia, pertumbuhan penduduknya sebesar 1,3 % per tahun, kebutuhan perumahan sebanyak 70.000 unit hunian per tahun, dengan luas lahan sebesar 66.152 ha, dialokasikan hanya sebesar 39.691 ha untuk permukiman, sementara harga tanah sangat tinggi.

Bagi Pemerintah kota, pembangunan rumah susun, sebagai alat peremajaan kawasan, menguragi resiko kebakaran, bertujuan untuk meningkatkan potensi sebuah kawasan binaan yang banyak dilakukan terpadu dengan pembangunan rumah susun. (Pracastino, Des 2010)

Menurut studi Rumah Susun di Indonesia dibagi menjadi 3 (tiga) :

Rumah Susun Sederhana (Rusuna), umumnya dihuni oleh golongan yang kurang mampu, biasanya dijual atau disewakan oleh Perumnas (BUMN). Misalnya, Rusuna Klender di Pasar Jumat, Lebak Bulus, Jakarta.

Rumah Susun Menengah (Apartemen), biasanya dijual atau disewakan oleh Perumnas atau Pengembang Swasta kepada masyarakat konsumen menengah ke bawah. Misalnya, Apartemen Taman Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Rumah Susun Mewah (Condonium), selain dijual kepada masyarakat konsumen menengah ke atas juga kepada orang asing atau expatriate oleh Pengembang Swasta. Misalnya Casablanca, Jakarta.

Sudah hampir 3 tahun Indri tinggal di rumah susun Kalibata City dan merasakan keuntungannya, karena lokasinya yang strategis, harga lebih murah, bebas banjir dan keamanan yang lebih terjamin.

Indri menutup Pidatonya dengan rasa bahagia karena memiliki rumah sendiri di rumah susun, walaupun sederhana tapi harganya terjangkau sekaligus dapat membantu program Pemerintah menyelesaikan masalah transportasi, kemacetan, urbanisasi, dll.

UNDANGAN PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 12 SEPTEMBER 2015

Klub Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT) kembali mengundang Anda untuk hadir dan melihat bagaimana metode belajar pidato ber-Bahasa Indonesia yang dibawakan dengan cara menyenangkan. Acara akan diadakan pada Sabtu, 12 September  2015, di Menara Kuningan Lt. F2 Ruang Papua, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan (seberang Kedutaan Besar Australia),  Pukul 10.00-12.00 WIB.

Jangan lupa, ajak teman, keluarga atau pasangan Anda ya….. untuk ikut hadir di pertemuan seru JABAT. Yuk…..kita isi akhir pekan dengan kegiatan yang bermanfaat dan mendidik.

Sampai ketemu di Menara Kuningan…..!!!

Ingat, Sabtu, 12 September 2015 …….!!!

PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 29 AGUSTUS 2015

Pada 29 Agustus 2015 di Jakarta, berlangsung pertemuan rutin Jakarta Bahasa Toastmasters Klub (JABAT), di Menara Kuningan Lt. F3, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 5, Blok X-7, Jakarta Selatan (seberang Kedutaan Besar Australia), Pukul 10.00-12.00 WIB.

Tema pertemuan adalah “Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)” dengan kata acuan yaitu “Persaingan”

Dalam pertemuan tersebut tampil tiga pembicara, yaitu pertama, Hans Mulyadi Irawan yang mengangkat tema “Berubah” menyampaikan bahwa berubah dalam hal positif tentunya merupakan suatu kata yang mudah diucapkan namun sulit dilakukan. Sejak kecil, kita dituntut untuk berubah menjadi lebih pintar, lebih baik, dan lebih sukses untuk menghadapi tantangan dan perkembangan jaman.

Dalam kesempatannya Hans juga menyinggung tentang kegiatannya dalam mengimplementasikan sistem Enterprise Resource Planning di kantor, dari yang sebelumnya manual, menjadi tersistem dengan rapi. Perubahan ini memperlihatkan cara kerja dan performa setiap karyawan, siapa yang bekerja dengan sungguh-sungguh dan siapa yang tidak. Dampaknya banyak karyawan senior yang akhirnya memutuskan mundur dan beberapa karyawan mengeluh, ketika karirnya mandek atau kalah dengan anak baru yang lebih produktif dan lebih kreatif dengan ilmunya yang lebih baru.

Selain itu, Hans juga menyinggung kondisi masyarakat yang tengah menghadapi pasar Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Ketika Hans menghadiri acara diskusi dengan Kepala Ekonom salah satu Bank di Indonesia dan merangkap Ketua Pansel KPK, Destry dan Prof. Roy Sembel mengenai masyarakat ekonomi ASEAN, para narasumber menyatakan bahwa suka tidak suka, siap ataupun tidak, MEA sudah di depan mata. Narasumber juga menyebutkan bahwa menurut data Bank Dunia, ekonomi ASEAN 40% berada di Indonesia, sedangkan Populasi penduduk ASEAN 40% ada di Indonesia, sehingga Indonesia merupakan potensi pasar yang besar dan menggoda bagi negara lainnya. Disisi lain, Hans juga menyayangkan ketika di bidang sumber daya manusia, produktivitas tenaga kerja, birokrasi, infrastruktur, daya saing usaha, Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN lainnya.

Hans menghimbau agar kita siap menghadapi MEA yang sudah di depan mata, sehingga menjadi Bangsa Indonesia yang bangun, bangkit dan berubah, untuk meningkatkan kompetensi diri, membangun relasi dan jaringan yang luas serta keterampilan berkomunikasi melalui berbagai kegiatan.

Sementara itu, pembicara kedua, Abdul Manap Pulungan alias Ucok juga mengangkat tema terkait Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), yang menyinggung tentang kondisi Globalisasi yang menyebabkan aliran barang dan manusia semakin mudah. Globalisasi muncul saat dibentuknya ASEAN pada 1967 dan berkembang ke arah yang lebih maju sehingga disepakatilah pembentukan MEA yang diharapkan dapat meningkatkan kerjasama antar negara.

Dalam kesempatannya, Ucok menjabarkan mengenai kekuatan dan kelemahan Indonesia dalam beberapa aspek, yaitu kekuatan Indonesia muncul dari jumlah penduduk Indonesia sehingga kuat dari sisi konsumsi. Apabila faktor ini dikelola dengan baik, maka akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Data Bank Indonesia tahun 2015 menjelaskan bahwa peranan konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan Ekonomi mencapai 55%. Kekuatan kedua adalah bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman dari segi agama, budaya, suku, ras, yang jika dikelola dengan baik akan menjadi kekuatan bagi Indonesia.

Sedangkan beberapa kelemahan Indonesia yang pertama terletak pada kualitas SDM. Data UNDP tahun 2015 menunjukkan bahwa sejak 2013 peringkat daya saing SDM Indonesia pada peringkat 108 dr 187 negara, sedangkan Data Badan Pusat Statistik tahun 2015 menunjukkan sekitar 50 % angkatan kerja yang bekerja berpendidikan SD ke bawah. Selain itu, salah satu kelemahan tenaga kerja Indonesia adalah buruknya kemampuan komunikasi dan penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, belum seperti Filipina, Malaysia, Singapura dan Vietnam yang telah menjadikan Bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari.

Kelemahan kedua terletak pada aspek dukungan sektor pembiayaan. Data yang dihimpun dari Bank Dunia tahun 2015 menyebutkan bahwa rasio kredit terhadap PDB hanya sekitar 38 % sedangkan di Malaysia, Singapura, Thailand telah mencapai di atas 100 %, artinya peranan sektor keuangan di Indonesia masih dangkal, sehingga aktivitas Ekonomi belum berjalan dengan baik.

Pada akhir pidatonya, Ucok mengingatkan kepada seluruh rekan Toastmasters bahwa kita tidak bisa lari dari kenyataan dimana dunia semakin terintegrasi. Agar tidak kalah bersaing dengan tenaga kerja asing, maka diperlukan dukungan dari stakeholder seperti Pemerintah berupa perbaikan kualitas SDM dengan membuat pelatihan yang baik untuk peningkatan keterampilan maupun komunikasi, dan harus bangga dengan memilih JABAT sebagai wadah untuk mengasah kemampuan berkomunikasi.

Sebagai pembicara terakhir April mengangkat tema “Ambil Isinya Buang Kulitnya” dengan menganalogikan tema tersebut kedalam proses pertemanan. Dalam kesempatannya April menyampaikan bahwa untuk memilih teman seperti memilih buah, jangan terlalu cepat untuk menghakimi dan menyimpulkan karakter seseorang hanya dari bungkus/ luarnya saja. Meskipun rupa/ tampilannya yang bagus dan menarik serta memikat, namun belum tentu mempunyai perangai yang baik. Demikian pula sebaliknya, jika ada beberapa hal yang kurang baik dari seseorang, bukan berarti kita tidak boleh berteman, namun harus pandai memilih sisi positifnya. Secara keseluruhan April menyampaikan untuk memberikan sejenak waktu sebagai proses penilaian, karena seiring berjalannya waktu kita akan mengetahui karakter yang sebenarnya. April juga menghimbau untuk melakukan instrospeksi diri masing-masing, karena semua orang berhak untuk dinilai lebih baik.