PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS 8 AGUSTUS 2015

Rapat Klub Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT) yang diadakan Sabtu, 8 Agustus 2015 berlangsung di Menara Kuningan Lantai F3, Jakarta Selatan dengan mengangkat tema “Berpikir Sebelum ‘klik’ “ dengan kata acuan “Merenungkan”.

Dalam kesempatan tersebut terdapat 2 Pembicara Utama, yaitu Abdul Manap Pulungan alias Ucok dan Indri Lesman (keduanya juga merangkap sebagai Pengurus JABAT Periode 2015 – 2016).

Ucok berkesempatan membawakan pidato pada Buku Panduan Dasar 3 (BPD-3) dengan judul “Untung vs Buntung: Modernisasi di Desa”, sedangkan Indri tentang Public Relation membawakan Buku Panduan Lanjutan 7 (BPL-7): The Radio Talk Show dengan judul “Serba Serbi Hidup di Rumah Susun”.

Dalam kesempatan tersebut, sebagai Pembicara pertama Ucok menyinggung tentang kehidupan di desanya sekitar 15 tahun lalu yang mengandalkan penerangan tradisional dalam kegiatan sosial, keagamaan dan ekonomi. Namun, pasca mendapat aliran listrik sejak tahun 1995, terjadi suatu modernisasi yang berdampak perubahan positif maupun negatif di kalangan masyarakat.

Pada bidang ekonomi, masuknya aliran listrik memberikan peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan penghasilan melalui usaha mandiri, tanpa berpatokan pada sektor pertanian. Namun juga berdampak negatif bagi perilaku konsumsi masyarakat yang cenderung mengarah pada konsumerisme, masyarakat membeli barang-barang yang dimuat pada iklan meskipun belum tentu dibutuhkan. Hal ini cenderung mengakibatkan munculnya rasa iri (kesenjangan sosial) diantara sesama masyarakat.

Pada bidang sosial, masuknya aliran listrik menjadikan masyarakat semakin peduli terhadap keamanan sekitar, hal ini merupakan dampak dari adanya tanyangan televisi yang menayangkan laporan kejahatan seperti Buser dan Patroli. Sedangkan aspek negatifnya mengakibatkan anak-anak kurang menyukai permainan tradisional, karena yang lebih memilih menonton tayangan televisi.

Dari aspek lingkungan, masuknya aliran listrik menambah wawasan para petani di desa untuk meningkatkan hasil pertanian melalui metode tumpang sari, namun dampak negatifnya mengakibatkan menurunnya tingkat kesuburan lahan akibat penggunaan pestisida secara berlebihan.

Secara umum Ucok menjelaskan bahwa modernisasi seperti yang terjadi di desa memiliki dampak/ pengaruh positif dan negatif, namun Ucok juga menyatakan bahwa pengaruh positif justru lebih kuat dibandingkan pengaruh negatif. Hanya saja, kehilangan permainan tradisional dan rusaknya lingkungan menjadi dua hal yang sangat disesalkan. Untuk itu, Ucok berpesan bahwa meskipun kita tidak dapat menghindari perubahan, tetapi kita dapat menyaring perubahan yang ada agar kita tidak kehilangan warisan leluhur.

Selanjutnya Indri Lesmana dalam pidatonya menyinggung terkait Pembangunan Rumah Susun (rusun) di Jakarta yang menjadi Program Prioritas Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Untuk melakukan normalisasi kali, waduk dan penataan Pedagang Kaki Lima (PKL), Pemerintah DKI membutuhkan sekitar 200.000 s/d 300.000 rusun. Kebutuhan hunian tersebut meningkat dengan pesat seiring dengan berkembangnya jumlah penduduk Indonesia dan keterbatasan lahan yang tersedia khususnya di wilayah DKI Jakarta.

Berdasarkan studi yang ada, terdapat 3 jenis rusun di Indonesia, yakni:

  1. Rumah Susun Sederhana (Rusuna), pada umumnya dihuni oleh golongan yang kurang mampu. Biasanya dijual atau disewakan oleh Perumnas (BUMN). Misalnya, Rusuna Klender di Pasar Jumat, Lebak Bulus, Jakarta.
  2. Rumah Susun Menengah (Apartemen), biasanya dijual atau disewakan oleh Perumnas atau Pengembang Swasta kepada masyarakat konsumen menengah ke bawah. Misalnya, Apartemen Taman Rasuna Said, Jakarta Selatan.
  3. Rumah Susun Mewah (Condonium), selain dijual kepada masyarakat konsumen menengah ke atas juga kepada orang asing atau expatriate oleh Pengembang Swasta. Misalnya Casablanca, Jakarta.

Terdapat keuntungan serta kerugian tinggal di rusun, secara umum beberapa keuntungannya adalah harga yang relatif murah, lokasi strategis dan dekat dengan perkotaan, tempat kerja, sekolah, rumah sakit, pasar, tempat makan, mall, dan lainnya sehingga untuk kehidupan sehari-hari tidak perlu keluar dari lingkungan tersebut. Hal ini akan menghemat waktu dan tenaga penghuni rusun dan memungkinkan sesama penghuni memiliki kenalan dengan banyak orang dari berbagai profesi.

Sementara itu kerugiannya antara lain terkait masalah sanitasi seperti pengelolaan sampah, ventilasi terbatas, ruang gerak terbatas, pengolahan air yang belum maksimal, bagi pencinta binatang tidak boleh memelihara hewan, masalah sosial seperti adanya WNA ilegal, narkoba, prostitusi karena pemiliknya menyewakan unit secara bulanan atau harian, keributan akibat perselisihan, suara TV yang keras, lahan parkir terbatas,  konflik antara penghuni dengan badan pengelola rusun.

Pada akhir pidatonya Indri juga menyampaikan bahwa dirinya telah tinggal di salah satu rusun Kalibata City selama 3 tahun. Kalibata City merupakan sebuah area rumah susun yang terdiri dari 18 tower dan memiliki total unit kurang lebih 13.000 dan dihuni kurang lebih 26.000 orang. Untuk mencegah terjadinya konflik sosial di komplek tersebut, warga membentuk Komunitas Warga Kalibata City (KWKC) atas dasar kesadaran berkumpul/ berorganisasi sebagai wadah untuk menciptakan kegiatan positif dan mewujudkan masyarakat yang saling bertoleransi dan saling menghormati dalam hidup bermasyarakat.

Advertisements

Posted on August 12, 2015, in Event and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: