PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS

photo(6)

Di sini saya belajar bagaimana caranya agar bisa tampil percaya diri. Saya juga mendapatkan sebuah pengalaman luar biasa. Teman-teman di sini hebat, saya terpukau dengan penampilan mereka”

(Syarifah Ahmad)

Banyak sekali ilmu yang saya dapatkan di sini. Selain itu, pembicara terlihat begitu ahli dan professional dalam meyampaikan pidatonya”

(Yon Antrayasa)

Kemampuan berbicara sangat penting dalam hidup ini. Hampir setiap orang pernah tampil sebagai pembicara publik. Baik di dalam rumah tangga, rapat RT, sebagai pemimpin di kantor, sebagai aktivis di kampus, sebagai pebisnis maupun sebagai profesional. Sebuah riset menunjukkan, bahwa kini para eksekutif meluangkan waktunya untuk berkomunikasi dengan berbagai pihak setidaknya 45 menit setiap hari. 45 menit yang menentukan sebuah kesuksesan. 45 menit yang sangat membutuhkan sebuah keahlian.

Sabtu, 13 Juni 2015, bertempat di Menara Kuningan, Jakarta Selatan, Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT), klub yang mengasah kemampuan berkomunikasi dan kepemimpinan bagi anggotanya, mengadakan pertemuan rutin mingguan. Pertemuan minggu ini mengangkat tema “Berakhirnya Pengabdian” dengan kata acuan “Suksesi”. Tema tersebut diangkat dalam rangka akan berakhirnya kepengurusan JABAT periode 2014-2015 yang dipimpin oleh Lesmana Nahar.

Dimulai pada pukul 10.00 WIB, pertemuan JABAT berlangsung dengan meriah dan penuh rasa kekeluargaan. Hal inilah yang menjadi salah satu daya tarik klub ini sehingga menimbulkan “efek ketagihan” bagi anggota yang tidak bisa hadir dalam pertemuan tersebut. Selain anggota klub, pertemuan hari itu juga dihadiri oleh tamu. Tamu adalah sebutan untuk calon anggota.

Pertemuan JABAT minggu ini terdiri dari 4 sesi. Sesi pidato yang dipersiapkan, pidato dadakan, sesi berbagi, dan penilaian umum. Di akhir acara akan diumumkan pemenang terfavorit dari setiap sesi tersebut.

Setelah membuka acara, Lesmana Nahar selaku pengarah acara mengajak audiens untuk melakukan pemanasan berupa permainan. Semua peserta dikumpulkan untuk membentuk sebuah lingkaran, pada hitungan kelipatan tertentu yang telah ditetapkan oleh pengarah acara, peserta diharuskan berhata “Yihaaa” sambil berekspresi semaksimal mungkin. Tentu saja hal ini membuat acara semakin meriah dan menimbulkan gelak tawa diantara semua peserta.

Pembicara pertama pada sesi pidato yang dipersiapkan adalah Michael Gautama, menyampaikan pidato dari Buku Panduan Dasar (Proyek 1-Mencairkan Kekakuan) dengan judul pidato “Keluarga Bahagia”. Pidato tersebut bercerita tentang anggota keluarganya yang memiliki karakter yang berbeda-beda. Walaupun berbeda namun mereka tetap bisa bersatu menjadi sebuah keluarga yang bahagia. Menurut mahasiswa Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta ini, keluarga yang hebat bukanlah keluarga sempurna dalam segala hal. Namun, keluarga yang hebat adalah keluarga yang bisa menemukan hal sederhana dalam hidupnya dan senantiasa bersyukur atas kesederhanaan tersebut.

Kemudian dilanjutkan Aji Wibowo yang membawakan pidato “Bangkit” dari Buku Panduan Dasar (Proyek 7-Tunjang dengan Penelitian). Aji menceritakan pengalamannya saat berusaha bangkit setelah putus cinta dengan kekasihnya. Menurutnya, patah hati merupakan suatu fase yang harus dihadapi oleh mereka yang memutuskan untuk jatuh cinta. Namun, dari sana banyak hal yang dia dapatkan. Belajar untuk memperhatikan orang-orang di sekitarnya, mendapatkan banyak teman baru serta kembali dekat dengan sahabat-sahabatnya.

Sesi berikutnya yaitu pidato dadakan. Sesi ini bertujuan melatih kemampuan peserta dalam memberi respon secara cepat, tepat, dalam kalimat yang terstruktur dan tata bahasa yang baik serta benar untuk beberapa situasi, misalnya saat atasan di kantor meminta pendapat, menyampaikan pendapat kita di forum atau saat wawancara kerja. Salah satu pertanyaan menarik yang diajukan kepada peserta, “Bagaimana cara menengahi perbedaan pendapat dalam sebuah organisasi?”.

Pada sesi berbagi, Harlina Indra menjelaskan materi tentang teknik vokal. Teknik vokal ini sangat penting dalam menunjang kemampuan seseorang ketika berbicara di depan umum. Ada 3 teknik yang dibagikan, yaitu jeda, tekanan, dan perasaan. Semua audiens diberi sebuah lembar kertas yang berisi beberapa paragraf kalimat. Kemudian mereka disuruh praktek berbicara dengan menggunakan 3 teknik tadi.

Sedangkan sesi terakhir adalah penilaian umum. Di sini setiap penilai memberikan penilaian secara lisan dan tertulis terhadap penampilan individu di sesi pidato yang dipersiapkan. Di samping itu, juga disampaikan penilaian terhadap jalannya acara dari awal sampai akhir oleh penilai umum.

Setelah acara berjalan selama kurang lebih 2 jam, tibalah saat pengumuman pemenang terfavorit. Pemenang terfavorit pidato yang dipersiapkan adalah Michael Gautama sedangkan untuk kategori pidato dadakan oleh Eka Juliana, dan penilai individu diraih Ade Herawan. Pertemuan pun diakhiri dengan foto bersama oleh semua anggota dan tamu yang hadir.

Advertisements

Posted on June 14, 2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: