Monthly Archives: May 2015

PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS

photo

Sebuah ide yang bagus, menarik, dan penting ternyata akan kurang bermakna jika disampaikan oleh seseorang yang kemampuan komunikasinya terbatas. Tetapi sebuah ide yang sederhana bahkan kurang penting akan terkesan luar biasa jika disampaikan dengan teknik komunikasi yang baik. Itulah kenapa kemampuan berkomunikasi penting untuk dimiliki setiap orang.

Berlokasi di Menara Kuningan, Jakarta Selatan, berlangsung pertemuan rutin Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT) pada Sabtu, 30 Mei 2015. “Rumah Tangga Penuh Bahagia” menjadi tema yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Karena temanya tentang rumah tangga, Ucok Pulungan mengenakan peci serta membawa buku nikah ketika bertindak selaku pengarah acara. Spontan hal tersebut menimbulkan tawa dari peserta pertemuan mingguan ini.

Terdapat 3 sesi dalam pertemuan ini, sesi pidato yang dipersiapkan, sesi pidato dadakan, dan sesi penilaian umum.

Enam orang anggota menjadi pembicara pada sesi pidato yang dipersiapkan. Pertama, persembahan Hendra Lee yang membagikan ilmu kepada anggota dan tamu yang hadir melalui pidato berjudul “Pernikahan yang Bahagia”, dari Buku Panduan Dasar (Proyek 2-Menyusun Naskah Pidato). Hendra bercerita tentang latar belakang keluarganya. Menurutnya, kunci membangun sebuah pernikahan yang bahagia ada 3, yaitu dekat dengan Tuhan, meluangkan waktu bersama keluarga serta kerja keras dalam pekerjaan.

Kedua, “Merajut Asa di Bandealit” yang dibawakan oleh Rohmatul Khasanah dari Buku Panduan Dasar (Proyek 4-Ucapkan dengan Benar). Wanita campuran Jawa-Sunda ini menceritakan salah satu perjalanan wisatanya saat berkunjung ke Pantai Bandealit, Jember, Jawa Timur. Bandealit mengajarkan bagaimana indahnya hasil dari merajut asa jika kita mau terus berusaha dan fokus pada tujuan akhir. Karena dia sangat percaya bahwa tak ada hasil yang mengkhianati proses.

Ketiga, pidato “Dunia Tak Selebar Daun Kelor” oleh Aprianti Suparno. Sama halnya seperti pidato kedua, pidato tersebut mengacu pada Buku Panduan Dasar (Proyek 4-Ucapkan dengan Benar). Dunia ini tak hanya sebatas apa yang ada di pikiran kita. Jika kita hanya melakukan hal-hal yang monoton maka kita akan terkurung dalam lingkungan yang ada. Dunia kita pun tidak akan berkembang, stagnan, dan hanya akan selebar layaknya daun kelor.

Keempat, Aji Wibowo yang membawakan pidato “Takut” dari Buku Panduan Dasar (Proyek 6-Teknik Vokal). Bercerita pengalaman Aji ketika kecil yang sangat takut terhadap hantu. Merupakan hal yang wajar jika kita takut terhadap sesuatu. Namun, kenyataannya seringkali apa yang kita takutkan adalah hal yang tidak pernah terjadi. Karena itu, sudah seharusnya kita menghilangkan rasa takut tersebut.

Kelima, Ade Herawan menyampaikan proyek Buku Panduan Dasar (Proyek 10-Mengilhami Pendengar) dengan judul “Tersandung Motivator”. Penggemar musik klasik ini menginspirasi audiens lewat cerita tentang pengalamannya saat SMA dan kuliah. Tersandung menjadi motivator merupakan sebuah kecelakaan yang indah bagi Ade. Namun, banyak hal positif yang dia dapatkan. Kita tidak seharusnya menilai seseorang hanya dari sampulnya saja. Pasti ada sisi baik dari setiap orang yang kita kenal.

Keenam, ditutup oleh pidato Lesmana Nahar yang berjudul “Malaikat Tanpa Mata”, dari Buku Panduan Lanjutan (Proyek 9-Mempengaruhi Pendengar). Bercerita tentang seorang kakak dan adik. Dimana kakak tersebut mengalami cacat mata yaitu buta akibat didonorkan ke adiknya. Namun, sang adik tak menyadari hal itu dengan bersikap kasar pada sang kakak. Hingga suatu hari sang kakak meninggal dunia akibat ulah sang adik. Setelah kejadian tersebut, barulah sang adik menyadari besarnya kasih sayang sang kakak kepadanya.

Pengumuman pembicara terfavorit menjadi penutup dari pertemuan tersebut. Ade Herawan terpilih sebagai pembicara terfavorit pada sesi pidato yang dipersiapkan, Diana Anggraini memenangkan pidato dadakan sedangkan di kategori penilai individu terfavorit diraih oleh Lesmana Nahar.

UNDANGAN PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS

photo-4

Klub Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT) kembali mengundang Anda untuk hadir dan melihat bagaimana metode belajar pidato berbahasa Indonesia yang dibawakan dengan cara menyenangkan. Acara akan diadakan pada hari Sabtu, 30 Mei 2015. Bertempat di Menara Kuningan, Jakarta Selatan pada pukul 10.00-12.00 WIB. Ajak teman, keluarga atau pasangan Anda untuk ikut hadir di pertemuan seru JABAT. Mari kita isi akhir pekan dengan kegiatan yang bermanfaat dan mendidik.

PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS

photo

Sejak pertama datang, energi positif yang saya rasakan. Di sini saya juga mendapatkan ilmu yang belum pernah saya peroleh dimanapun sebelumnya, misalnya tentang tata bahasa, cara bersikap serta cara membawakan materi”

(Rizky Dachlan)

Sebagai klub afiliasi dari Toastmasters Internasional, Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT) mempunyai tujuan yang sama yaitu fokus pada pengembangan kemampuan komunikasi dan kepemimpinan bagi anggotanya.

Berlokasi di Menara Kuningan, Jakarta Selatan, berlangsung pertemuan rutin JABAT pada Sabtu, 23 Mei 2015. “Perjuangan” menjadi tema yang dibahas dalam pertemuan tersebut dengan kata acuan “Demonstrasi”.

Bukan tanpa alasan Diella Dachlan selaku pengarah acara memilih tema dan kata acuan tersebut, selain untuk memperingati reformasi, ternyata Diella merupakan mantan aktivis yang turut serta dalam demonstrasi massal mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia pada peristiwa 20 Mei 1998. “Ini kesempatan untuk kembali menghadirkan sepotong kenangan 17 tahun yang lalu dengan jaket yang tak pernah melihat matahari dengan usia waktu yang sama”, katanya ketika mengenakan kembali jas almamaternya saat memimpin jalannya pertemuan rutin ini.

Terdapat 3 sesi dalam pertemuan ini, sesi pidato yang dipersiapkan, sesi pidato dadakan, dan sesi penilaian umum.

Lima orang anggota menjadi pembicara pada sesi pidato yang dipersiapkan. Pertama, Herry Windawaty menyampaikan proyek Buku Panduan Dasar (Proyek 2-Menyusun Naskah Pidato) dengan judul “Kapan Nikah?”. Wanita karir di bidang perhotelan ini mengingatkan audiens bahwa menikah bukanlah perlombaan, siapa yang dulu dialah pemenangnya. Jika memang berjodoh Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik. Menurutnya ada 3 hal yang harus disiapkan sebelum menikah 1). Persiapan keyakinan dan kemantapan 2). Mempertahankan hubungan 3). Persiapan diri sendiri.

Kedua, persembahan Dedy Herdian, lelaki yang hobi menulis dan jalan-jalan ini membagikan ilmu kepada anggota dan tamu yang hadir melalui pidato berjudul ”Cara Aman Jual Beli Daring”, dari Buku Panduan Dasar (Proyek 3-Langsung ke Inti Masalah). Dedy mengingatkan agar kita selalu berhati-hati ketika melakukan pembelian barang secara daring. Baik dengan bertemu langsung, melalui transfer ataupun laman resmi.

Ketiga, “Memori Indah Masa Kecil” yang dibawakan oleh Yohanes Yudha dari Buku Panduan Dasar (Proyek 5-Bahasa Tubuh). Yudha menceritakan kenangan indah masa kecilnya yang terekam oleh dua benda, rumput gajah dan telepon rumah. Kedua benda tersebut mengingatkan dirinya ke masa dimana dia tumbuh dan berkembang. Masa dimana dia merasakan kasih sayang dari orang-orang terdekat.

Keempat, Hariadi Suripto yang membawakan pidato “Pentingnya Belajar Mengantre” dari Buku Panduan Dasar (Proyek 8-Menggunakan Alat Bantu Visual). Budaya mengantre masih belum menjadi budaya di Indonesia. Padahal mengantre mengajarkan kita nilai-nilai moral yang terlalu penting untuk diabaikan, misalnya kesabaran, kedisiplinan serta penghargaan terhadap orang lain. Hariadi mengajak audiens untuk mulai membiasakan mengantre, dimulai dari diri sendiri.

Kelima, pidato “Adikku sudah Dewasa” oleh Indri Lesmana. Pidato tersebut mengacu pada Buku Panduan Lanjutan (Proyek 4-Pembimbing). Indri memberikan teori serta simulasi cara menjadi pembimbing yang baik. Yaitu diskusi dengan orang tersebut, pusatkan perhatian kepadanya serta mencari solusi. Simulasi yang dilakukan berupa meminta adiknya (diperankan anggota lain) untuk turut serta membantu biaya pengobatan orang tua mereka.

Pada sesi kedua yaitu pidato dadakan, pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan mengacu pada tema yang telah ditetapkan, misalnya “Apakah Anda setuju dengan perjuangan yang dilakukan melalui demonstrasi di jalanan?”.

Penilaian umum menjadi sesi terakhir dari pertemuan tersebut. Seperti biasa, masing-masing pemegang peran yang terdiri dari penilai individu, pemerhati tata bahasa, penghitung bunyi tanpa makna, pencatat waktu serta pengumpul kertas suara menyampaikan laporan masing-masing.

Salah satu hal yang menarik dari pertemuan minggu ini yaitu adanya hadiah berupa makanan ringan yang dibagikan oleh pengarah acara bagi audiens yang bisa menjawab pertanyaan. Tentu saja adanya hadiah tersebut semakin menambah semarak jalannya acara.

Pengumuman pembicara terfavorit menjadi penutup pertemuan selama 2 jam tersebut. Yohanes Yudha terpilih sebagai pembicara terfavorit pada sesi pidato yang dipersiapkan, Ade Herawan memenangkan pidato dadakan sedangkan di kategori penilai individu terfavorit diraih oleh Lesmana Nahar.

PERTEMUAN RUTIN JABAT LIBUR SEMENTARA

isra-miraj

Sehubungan adanya perayaan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW maka pertemuan rutin Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT) pada tanggal 16 Mei 2015 diliburkan. Pertemuan rutin akan kembali diadakan tanggal 23 Mei 2015. Setiap hari Sabtu pukul 10.00-12.00 WIB di Menara Kuningan Lantai F3, Jakarta Selatan.

PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS

photo

Menurut saya bagus sekali ada klub seperti ini. Banyak hal yang bisa saya pelajari, berbicara di depan umum misalnya. Klub ini merupakan wadah yang tepat bagi kita untuk belajar berbicara di depan umum”

(Vanda Rosdiani)

Secara keseluruhan acaranya bagus. Hari ini saya dapat banyak sekali perspektif baru. Misalnya, bagaimana cara menjual diri, saya juga lebih tahu tentang teknik berpidato”

(Irene Insan)

Setiap hari Sabtu pukul 10.00-12.00 WIB Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT) senantiasa rutin mengadakan pertemuan mingguan di Menara Kuningan, Jakarta Selatan, namun pertemuan kali ini berlangsung di Restoran Rempah Iting, Jakarta Pusat. Tema yang diambil “Sukses Mulia” dengan kata acuan “Inspirasi”. Setiap orang pasti ingin meraih kesuksesan. Dan seseorang dapat dikatakan sukses mulia apabila bisa memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

Pertemuan yang diadakan di restoran membuat anggota dan tamu yang hadir menjadi lebih rileks. Karena disamping mengikuti jalannya acara, mereka bisa sambil menikmati makanan dan minuman yang tersedia.

Pada kesempatan pertama sesi pidato yang dipersiapkan, Ade Herawan menyampaikan proyek Buku Panduan Dasar (Proyek 9-Kemampuan Mempengaruhi) dengan judul “Mimpi Indonesia, Mimpi Kita Bersama”. Setelah hampir 70 tahun merdeka ternyata Indonesia masih belum sepenuhnya merdeka. Indonesia belum merdeka dari kemiskinan,  belum juga merdeka dari kebodohan. Melalui mimpi di bidang pendidikan, energi, dan infrastruktur Ade mengajak audiens untuk mewujudkan mimpi kita bersama. Mimpi Indonesia sebagai negara yang makmur dan jaya.

Selanjutnya Lesmana Nahar membawakan pidato “Belajar Menjual Diri” dari Buku Panduan Lanjutan (Proyek 8-Pidato Khusus menjual Produk). Lesmana menceritakan pengalamannya dalam belajar menjual diri. Dimana dirinya pernah menjadi kepala departemen di perusahaan tempatnya bekerja selama bertahun-tahun, namun tak kunjung naik jabatan sebagai kepala divisi. Setelah dianalisis, ternyata dirinya belum maksimal dalam menjual diri. Menurut Lesmana, kemampuan menjual diri sangat penting bagi kita, salah satunya dalam rangka meningkatkan karir di dunia kerja.

Setelah kedua pembicara selesai berpidato sesi selanjutnya adalah sesi berbagi. Inilah yang membedakan JABAT dengan klub-klub Toastmasters lainnya. Hanya di JABAT terdapat sesi khusus tersebut. Pada sesi berbagi salah satu anggota akan berbagi ilmu tentang kemampuan berbicara di depan umum, kepemimpinan, pengembangan diri atau pendidikan. Pada kesempatan tersebut Lesmana Nahar selaku ketua klub membagikan materi dengan judul “Ethos, Logos, dan Pathos”. Teknik ini diperkenalkan oleh Aristoteles dan dapat digunakan pada pidato mempengaruhi. Ethos adalah kredibilitas. Sebagai pembicara, seseorang harus mempunyai kredibilitas agar dapat mempengaruhi audiensnya. Logos merupakan logika. Teknik logos digunakan untuk mempengaruhi orang yang dominan dengan otak kiri. Misalnya menggunakan logika atau data-data statistik. Sedangkan pathos adalah emosi. Digunakan untuk orang yang dominan otak kanan. Melalui imajinasi terhadap apa yang kita bicarakan. Karena itu, ketiga teknik tersebut sangat penting digunakan oleh seorang pembicara agar dapat mempengaruhi audiensnya.

Sesi terakhir dari pertemuan ini berupa panggung kehormatan. Pemenang terfavorit pidato yang dipersiapkan diraih oleh Ade Herawan, Rohmatul Khasanah sebagai pembicara terfavorit pidato dadakan, dan penilai individu terfavorit diraih oleh Hariadi Suripto.

Dan sudah menjadi tradisi di Toastmasters, pertemuan diakhiri dengan foto bersama oleh anggota dan tamu yang hadir.

TIPS TAMBAHAN PRESENTASI TEKNIS

200539032-001

  1. Sedikit Lebih Baik daripada Terlalu Banyak

Batasi pesan utama Anda hingga tiga atau lima. Daripada menyampaikan terlalu rinci dan detail untuk semua data, mulailah dengan ringkasan yang berisi informasi paling penting yang audiens Anda harus ketahui. Lalu dukunglah dengan informasi yang memberikan ilustrasi.

  1. Variasi versus Monoton

Bangkitkan antusiasme dan ketertarikan audiens Anda terhadap informasi yang Anda sampaikan. Sebagian besar presentasi seringkali terlalu umum dan monoton, terlalu banyak ide dengan sub topik yang juga umum. Buatlah agar presentasi Anda berbeda. Variasikan antara menunjukkan dan cerita ilustrasi, pernyataan yang umum dengan contoh/ilustrasi yang rinci atau anekdot dan kalau perlu libatkan audiens Anda dengan pertanyaan untuk mendorong adanya interaksi.

  1. Contoh yang Kuat akan Lebih Berkesan daripada Tumpukan Angka

Angka dan data akan membantu presentasi Anda, tapi yang perlu diingat, jangan berlebihan. Grafik yang sederhana dan jelas misalnya akan lebih hidup jika didukung cerita atau ilustrasi yang dapat membantu informasi ini menjadi lebih “hidup”. Buatlah agar pesan Anda mudah dipahami dan diingat oleh audiens Anda.

  1. Menyederhanakan Istilah

Jika Anda membawakan presentasi teknis, ada risiko yang mungkin terjadi. Jika Anda menggunakan bahasa atau jargon yang terlalu teknis, ada risiko audiens Anda tidak memahami apa yang Anda katakan. Tetapi jika Anda menyampaikan informasi yang telah mereka ketahui, maka kemungkinan besar audiens berpikir bahwa Anda membuang waktu mereka dengan percuma.

Sebisa mungkin gunakan istilah yang mudah dipahami umum. Misalnya, daripada menggunakan istilah “Upper catchment area”, Anda bisa menggunakan kata “Daerah tangkapan air di hulu”.

Jika istilah teknis tidak terhindarkan, maka luangkan waktu untuk menjelaskan definisinya. Tidak perlu baku dengan definisi yang ada di kamus umum, bisa juga menggunakan ilustrasi, gambar atau penjelasan dengan bahasa Anda. Misalnya, jika istilah “sempadan sungai” harus digunakan, maka Anda dapat menjelaskannya sedikit tentang “sempadan sungai adalah daerah di kanan kiri sungai dengan jarak x meter ke kanan dan x meter ke kiri”. Atau tampilkan gambar sungai dan tunjukkan “Inilah yang disebut dengan daerah sempadan sungai”.

  1. Bantu dengan Catatan

Persiapkan catatan yang berisi informasi yang lebih rinci dan panjang, karena biasanya waktu presentasi terbatas. Bagikan catatan kepada audiens Anda sebelum atau setelah presentasi, agar konsentrasi audiens tetap terfokus pada apa yang Anda sampaikan. Kalau perlu, sertakan pula kontak dan email Anda, sehingga jika audiens memiliki pertanyaan yang tidak sempat ditanyakan pada sesi presentasi, mereka tetap dapat menghubungi Anda.

Contoh Ilustrasi Presentasi Teknis

Tujuan :

  • Untuk memperkenalkan Sungai Citarum secara ringkas

  • Agar audiens memahami permasalahan di Citarum

Pesan utama :

Sungai Citarum dan tiga permasalahan utama

Poin-poin :

  • Data dan informasi ringkas mengenai Sungai Citarum

  • Tiga permasalahan utama :
    – Limbah
    – Rusaknya daerah hulu
    – Tata ruang

Dari ilustrasi ini, akan dapat dibuat kerangka yang berisi pembukaan, isi, dan penutup. Sebutkan tujuan Anda di awal presentasi, beri penekanan kembali dalam isi presentasi, dan sebutkan kembali dalam kesimpulan Anda.

Oleh : Diella Dachlan (diolah dari berbagai sumber)

PERSIAPAN PRESENTASI TEKNIS

83479293

Lupakan subyek presentasi Anda untuk sesaat. Coba fokuskan khusus pada calon audiens Anda. Siapakah mereka? Pekerjaan apa yang mereka lakukan? Departemen apa yang mereka wakili? Mengapa mereka datang ke presentasi Anda?

Anda dapat membayangkan atau berasumsi beberapa latar belakang audiens yang kemungkinannya akan hadir dalam presentasi Anda. Bayangkan jika audiens tersebut menanyakan hal-hal di bawah ini kepada Anda:

  1. Apa yang ingin Anda katakan kepada saya?

  2. Apakah yang akan Anda katakan itu akan ada kaitannya dengan saya?

  3. Bagaimana informasi tersebut dapat membantu saya?

  4. Apa yang Anda ingin saya lakukan berikutnya dengan memberikan informasi tersebut kepada saya?

Jika Anda mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan sungguh-sungguh, dengan menggunakan kalimat lengkap, maka kemungkinannya Anda akan menemukan jawaban nomor 2 akan berkaitan dengan jawaban untuk pertanyaan nomor 4, yang akan membantu Anda untuk fokus untuk menjawab pertanyaan nomor 1. Hal ini akan membantu Anda untuk membantu Anda untuk mengemas pesan utama presentasi Anda dan mempertajamnya.

Jika Anda dapat menunjukkan bahwa dalam pesan yang akan Anda sampaikan ada kaitannya dengan pekerjaan atau kehidupan audiens Anda, maka kemungkinan besar audiens Anda akan menyimak dan mendengarkan apa yang akan Anda sampaikan. Jika tidak, maka mereka merasa tidak perlu mendengarkan apa yang akan Anda sampaikan.

Waktu adalah hal yang paling berharga bagi orang yang sibuk dan di dunia pekerjaan waktu adalah uang. Analisis audiens Anda dengan cermat untuk membantu Anda memastikan bahwa presentasi Anda akan berisi informasi penting dan Anda akan dapat menyesuaikan dengan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk menyampaikan informasi tersebut. Biasanya presentasi yang efektif dan efisien mengambil waktu sekitar 7-15 menit.

Apa Tujuan Anda?

Apakah hasil yang ingin Anda capai dalam presentasi Anda? Apa yang Anda inginkan agar audiens Anda melakukan atau mengerti, sebagai hasil dari presentasi Anda. Untuk ini, Anda akan memiliki tujuan atau obyektif dari presentasi Anda.

Isi Presentasi

Sebagian besar presentasi Anda ada dalam isi presentasi, dimana Anda akan menjelaskan bukti, data, dan fakta. Sayangnya, di dalam penyusunan isi inilah titik krusialnya yang menentukan apakah audiens Anda akan memahami dan tertarik atas apa yang Anda sampaikan atau malah kebingungan, bosan dan terlalu penuh akan informasi.

Penutup

Sebagaimana pada prinsip pembuatan pesan yang terdiri dari pembukaan, isi, dan penutup, jangan sepelekan bagian penutup. Penutup yang baik dapat membuat audiens mengingat pesan/informasi yang Anda sampaikan. Rancang penutup presentasi Anda dengan baik.

Oleh : Diella Dachlan (diolah dari berbagai sumber)

TIPS MENYAMPAIKAN PRESENTASI TEKNIS

dv1534012

Suatu hari Anda diminta memberikan presentasi yang sarat dengan informasi teknis, penuh data statistik dan istilah-istilah teknis. Audiens yang akan datang untuk mendengarkan presentasi Anda adalah dari departemen-departemen lain yang kemungkinan besar belum paham tentang program yang akan dijalankan oleh departemen Anda.

Sekarang pertanyaannya, informasi seperti apakah yang harus Anda sampaikan? Apakah audiens Anda akan memahami topik yang akan Anda bawakan?

Presentasi seperti ini biasanya terjadi pada orang-orang yang bekerja di bidang teknis, seperti di bidang pemerintahan, wirausaha ataupun ilmuwan. Misalnya insinyur memberikan presentasi pada kelompok manajer untuk sebuah proyek. Ilmuwan melaporkan hasil data risetnya kepada publik, seorang manajer pemasaran memberikan presentasi untuk hasil tes produknya dan staf departemen di sebuah kementerian memberikan presentasi mengenai program yang akan dijalankan kepada staf-staf departemen dari kementerian lain.

Meskipun demikian, memberikan presentasi teknis tidaklah terbatas pada ruang lingkup profesi tertentu. Karena itu, setiap profesi akan membutuhkan pelatihan untuk hal semacam ini. Misalnya, seorang koki harus mempresentasikan atau mengajarkan teknik pembuatan sebuah masakan kepada ibu-ibu rumah tangga. Fotografer mengajarkan teknik pencahayaan dalam pengambilan gambar kepada pemula fotografi. Hal ini juga mungkin terjadi pada profesi-profesi di luar yang disebutkan tadi.

97217723

Terlalu Teknis Tidak Efektif

Seringkali presentasi teknis menjadi tidak efektif karena pada akhirnya pesan yang disampaikan tidak dapat dipahami oleh pendengarnya. Mengapa hal ini terjadi? Seringkali hal ini terjadi karena presenter lupa atau tidak mau menginvestasi waktu dan energinya untuk persiapan. Penyebab lain presentasi teknis tidak efektif adalah karena presenter menggunakan istilah-istilah teknis yang kemungkinan tidak dapat dipahami audiensnya yang berasal dari latar belakang berbeda.

Presentasi teknis sebenarnya sama halnya dengan pidato lainnya. Hal ini membutuhkan perencanaan yang cermat, lalu proses selangkah demi selangkah untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai.

Topik yang akan Anda bawakan dalam presentasi teknis biasanya tergantung dari profesi Anda. Topik tersebut sebaiknya memang merupakan hal yang Anda kuasai dengan baik. Sehingga hal ini menunjang kredibilitas Anda sebagai pembicara dari topik tersebut.

Presentasi teknis dalam penjabarannya biasanya meliputi penjabaran mengenai permasalahan, langkah-langkah solusi atau prosedur yang sedang dikembangkan. Presentasi ini bisa merupakan menyajikan informasi data saja atau mengikutsertakan rekomendasi dan solusi. Karena itu, presentasi ini harus menyajikan informasi yang akan menarik para profesional di bidangnya, memberikan kontribusi untuk pengetahuan teknis atau dapat diaplikasikan dalam pekerjaan mereka. Jika audiensnya beragam atau bukan dari latar belakang bidang yang sama, buatlah presentasi Anda relevan bagi mereka. Bisa dengan ilustrasi atau cerita yang dapat membuat mereka terhubung dengan informasi dalam presentasi ini. Contoh lain dengan menghubungkan dengan berita terbaru yang relevan atau kehidupan sehari-hari.

Informasi lebih lanjut, bisa melihat artikel “Persiapan Presentasi Teknis” dan “Tips Tambahan Presentasi Teknis”

Oleh : Diella Dachlan (diolah dari berbagai sumber)

PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS

photo

Keterampilan berbicara di depan umum sangat penting untuk dimiliki oleh setiap orang. Kita perlu menggunakan kemampuan tersebut saat rapat, wawancara kerja ataupun bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

Terkait hal itu, Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT) selaku komunitas yang mengajarkan keterampilan berbicara di depan umum serta kepemimpinan, mengadakan pertemuan rutin mingguan. Kegiatan ini diselenggarakan pada Sabtu (2/5) di Menara Kuningan, Jakarta Selatan. Pertemuan berlangsung dengan meriah, penuh kekeluargaan serta inspirasi. Hal inilah yang membuat JABAT mudah dikenal dan diterima oleh berbagai kalangan. Adapun tema pertemuan minggu ini “Hari Pendidikan Nasional” dengan kata acuan “Silam”.

Terdapat 3 orang pembicara pada sesi pidato yang dipersiapkan. Pertama, “Ketika Teori bertemu dengan Realita” yang dibawakan oleh Nila Fadly dari Buku Panduan Dasar (Proyek 1-Mencairkan Kekakuan). Sarjana teknik ini menceritakan pengalamannya bahwa ketika teori bertemu dengan realita ternyata tidak selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan. Disinilah kita dituntut menjadi seseorang yang kreatif, inovatif, dan berani mengambil risiko.

Kedua, Indri Lesmana yang membawakan pidato “Api Dipadamkan Air” dari Buku Panduan Lanjutan (Proyek 3-Komunikasi Interpersonal). Indri berbagi cerita tentang bagaimana cara kita dalam menghadapi kritik dari orang lain. Yaitu dengan tetap tenang, jangan emosi, hormati lawan bicara, gunakan bahasa tubuh yang sesuai serta senantiasa tersenyum. Diharapkan melalui tips tersebut kita bisa menghindari terjadinya konflik ketika mendapat kritik.

Ketiga, pidato “Menambat Hati Sang Lajang” oleh Diella Dachlan. Pidato tersebut mengacu pada Buku Panduan Lanjutan (Proyek 4-Pidato Memberi Informasi). Berdasarkan sebuah survei di Amerika Serikat, terdapat perbedaan yang sangat mendasar antara pria dan wanita dalam hal kencan. Dan juga pandangan mereka tentang cara menambat hati sang pujaan. Namun pada akhirnya, kebahagiaan seseorang bukanlah ditentukan oleh status tapi oleh diri kita sendiri.

Selain itu, ada pula sesi berbagi yang disampaikan oleh Yohanes Yudha dengan judul “Mengalahkan Ketakutan”. Salah satu hal yang ditakutkan banyak orang adalah berbicara di depan umum. Salah satu cara untuk mengalahkan ketakutan tersebut yaitu dengan mencari lingkungan yang tepat. Melalui lingkungan tersebut kita bisa berlatih secara maksimal karena mendapat dorongan yang positif. Sehingga pada akhirnya, ketakutan untuk berbicara di depan umum dapat dikalahkan.

Sebelum acara ditutup, diumumkan pemenang terfavorit minggu ini. Diella Dachlan yang tampil sebagai pembicara ketiga berhasil menjadi pemenang terfavorit pidato yang dipersiapkan. Di kategori pidato dadakan terpilih Yohanes Yudha sebagai terfavorit sedangkan Hariadi Suripto sebagai penilai individu terfavorit. Foto bersama oleh seluruh anggota dan tamu yang hadir menjadi akhir dari kegiatan tersebut.