PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS

“Acara ini benar-benar menarik. Banyak ilmu dan teman-teman yang saya dapatkan di sini. Benar-benar sangat berguna untuk pengembangan diri”

Pendapat Adam Ramon, salah seorang tamu yang hadir dalam pertemuan rutin Jakarta Bahasa Toastmasters atau biasa disingkat JABAT, komunitas yang fokus pada pengembangan keterampilan berbicara di depan umum dan kepemimpinan. Berlangsung di Restoran Rempah Iting, Jakarta Pusat pada tanggal 25 April 2015, pertemuan ini mengambil tema “Tuna Asmara Bermartabat”. Sedangkan kata acuan yang digunakan adalah “Merana”. Kata acuan merupakan kata kunci yang digunakan dalam setiap pertemuan JABAT. Selama berlangsungnya acara setiap anggota dan tamu yang hadir disarankan untuk menggunakan kata acuan yang telah ditetapkan sebanyak-banyaknya. Tentunya kata acuan yang digunakan berhubungan dengan tema yang telah ditentukan. Oleh karena itu, dalam setiap pertemuan JABAT tema dan kata acuan yang digunakan selalu berubah. Hal ini dilakukan agar setiap pertemuan dapat berjalan dengan dinamis.

Ada hal yang sangat menarik dalam pertemuan minggu ini, Ade Herawan selaku pengarah acara berhasil mengemas jalannya acara berbeda dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya. Selain dibuat poster untuk undangan pertemuan, pada hari H ada pula hadiah undian untuk audiens, permainan serta gambar kata-kata unik di dinding terkait tema, misalnya “Tuna Asmara Yah?” atau “Kata Allah Jodohku lagi OTW”. Dan yang paling unik menurut audiens yaitu adanya pemberian mahkota dari daun nangka untuk pembicara dan penilai individu terfavorit. Tentu saja hal itu menimbulkan gelak tawa dari anggota dan tamu yang hadir. Hadir pula sebagai  tamu dalam pertemuan ini adalah perwakilan dari Bhuma Toastmasters, klub Toastmasters yang dalam pertemuan rutinnya menggunakan bahasa pengantar Bahasa Inggris.

foto(5)

Selama jalannya acara, kegiatan yang penuh inspirasi ini juga dipenuhi dengan berbagai candaan untuk menghangatkan suasana. Misalnya saat pengarah acara berkata, “Setiap pria pasti punya wanita idaman, begitu pula dengan saya. Tipe wanita idaman saya itu seperti Raisa contohnya. Tapi sayang sampai sekarang raiso. Raisanya sebenarnya mau sama saya, iya mau muntah”. Ternyata tema tentang tuna asmara atau yang dalam kehidupan sehari-hari lebih kita kenal dengan istilah “Jomblo” sangat menarik untuk diperbincangkan. Bahkan sang pengarah acara pun tak luput dari korban candaan audiens.

Pertemuan minggu ini terdiri dari 4 sesi, yaitu sesi pidato yang dipersiapkan, pidato dadakan, permainan, dan penilaian umum. Pada sesi pidato yang dipersiapkan ada 5 orang anggota yang tampil. Pertama, persembahan Hans Mulyadi Irawan, anggota baru JABAT ini membagikan ilmu kepada anggota dan tamu yang hadir melalui pidato berjudul “Menikmati Hidup”, dari Buku Panduan Dasar (Proyek 1-Mencairkan Kekakuan). Menurutnya, hidup adalah untuk dinikmati, mulai dari tantangan, proses belajar bahkan dari hal-hal kecil yang kita dapatkan setiap hari. Karena sebuah kisah tanpa naik turun serta konflik di dalamnya tidak akan menjadi cerita yang menarik untuk dinikmati.

Kedua, “Merana karena Malarindu” yang dibawakan oleh Cephi Saepul Rohman dari Buku Panduan Dasar (Proyek 2-Menyusun Naskah Pidato). Lajang Sunda ini menjelaskan bahwa hubungan jarak jauh dengan pasangan dapat menimbulkan suatu penyakit yang bernama malarindu. Dan penyakit ini dapat menyebabkan penderitanya merasa merana. Karena itu Cephi menyarankan sebaiknya kita menghindari hubungan jarak jauh jika tidak ingin terserang penyakit ini.

Ketiga, pidato “Tuna Asmara, Siapa Takut?” oleh Dwiana Kurniawati. Sama halnya seperti pidato kedua, pidato tersebut mengacu pada Buku Panduan Dasar (Proyek 2-Menyusun Naskah Pidato). Menurut Nia, panggilan akrabnya, tidak perlu sedih menyandang predikat sebagai tuna asmara. Karena banyak hal positif yang akan kita peroleh, lebih bebas beraktivitas, waktu menjadi lebih efisien, menghemat pengeluaran, dan memiliki banyak waktu untuk mengejar kesuksesan.

Keempat, Yohanes Yudha yang membawakan pidato “Warisan Orangtuaku” dari Buku Panduan Dasar (Proyek 4-Ucapkan dengan Benar). Profesional muda ini berbagi cerita tentang warisan yang diperoleh dari orangtuanya sebagai bekal menjalani kehidupan, berupa akar dan sayap. Akar di sini adalah kasih sayang sedangkan sayap yang dimaksud yaitu semangat melayani, pondasi dasar yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

Kelima, Titik Wahyuningsih menyampaikan proyek Buku Panduan Dasar (Proyek 5-Bahasa Tubuh) dengan judul “Strategi Memuaskan Konsumen”. Wanita karir bidang kontraktor ini menginspirasi audiens lewat cerita tentang bagaimana cara untuk memuaskan konsumen. Melalui 2 strategi, yaitu bertahan dan menyerang. Dalam strategi bertahan kita harus mempertahankan apa yang sudah ada. Sedangkan dalam strategi menyerang ditempuh melalui menjadi yang pertama di pasar bisnis serta menciptakan kategori kita sendiri.

Pada sesi pidato dadakan, Diella Dachlan selaku pengarah acara juga berhasil membuat suatu terobosan. Jika biasanya dalam sesi ini pengarah acara membacakan sebuah pertanyaan lalu dijawab oleh peserta, kali ini Diella membuat sebuah perdebatan, dimana diajukan satu pertanyaan, dua orang peserta akan saling menyampaikan pendapatnya, satu pihak pro sedangkan pihak lain kontra. Pertanyaan yang disampaikan, “Mana yang Anda pilih, hidup sendiri atau berpasangan?”.

Untuk membuat suasana pertemuan semakin cair, pada sesi ketiga pertemuan ini diadakan sebuah permainan. Permainan yang dibawakan saat itu yaitu tembak-tembakan. Sontak adanya permainan ini membuat audiens semakin tertawa lebar dan bersemangat mengikuti acara. Setelah itu dilakukan pengundian hadiah. Lima orang beruntung berhak membawa pulang hadiah yang telah disediakan.

Dan sesi keempat dari pertemuan ini berupa penilaian umum. Masing-masing penilai individu menyampaikan penilaiannya terhadap 5 orang pembicara di sesi pidato yang dipersiapkan. Selain itu terdapat pula laporan dari pencatat waktu, pemerhati tata bahasa, penghitung bunyi tanpa makna serta penilai umum.

Kegiatan terakhir dari pertemuan rutin ini adalah panggung kehormatan. Di sini pemimpin pertemuan memberikan piala kepada pemenang tiap kategori. Pada sesi pidato yang dipersiapkan Dwiana Kurniawati terpilih sebagai pembicara terfavorit, pidato dadakan dimenangkan oleh Dony Purwono sedangkan Diella Dachlan berhasil menjadi yang terfavorit di kategori penilai individu.

foto

 

Advertisements

Posted on April 26, 2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Wah meriah sekali dong acaranya 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: