PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS

IMG-20150302-WA0000

Toastmasters adalah organisasi nirlaba internasional dari Amerika Serikat dengan misi utama menyiapkan lingkungan dan situasi belajar yang positif untuk menunjang pengembangan kemampuan komunikasi serta kepemimpinan para anggotanya. Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT) merupakan klub afiliasi Toastmasters Internasional yang berfokus pada pengembangan kemampuan komunikasi dalam Bahasa Indonesia. Metode pembelajarannya diadopsi langsung dari program Toastmasters Internasional.

Berlokasi di Menara Kuningan, Jakarta Selatan, berlangsung pertemuan rutin JABAT pada Sabtu, 28 Februari 2015. “Perencanaan” menjadi tema yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Perencanaan merupakan salah satu langkah awal untuk mencapai kesuksesan. Dengan adanya perencanaan, hidup kita menjadi lebih tertata dan tahu target apa yang harus kita capai.

Terdapat 4 sesi dalam pertemuan ini, sesi pidato yang dipersiapkan, sesi pidato dadakan, sesi pendidikan, dan sesi penilaian umum.

Lima orang anggota menjadi pembicara pada sesi pidato yang dipersiapkan. Pertama, “Jangan Berhenti untuk Bermimpi” yang dibawakan oleh Dedy Herdian dari Buku Panduan Dasar (Proyek 1-Mencairkan Kekakuan). Lelaki asal Padang ini menceritakan salah satu mimpinya saat masih kecil, yaitu untuk dapat mengunjungi Inggris. Hingga suatu hari dapat mewujudkan mimpi tersebut. Dia juga berpesan, kita sebagai manusia jangan pernah berhenti untuk bermimpi, melalui kerja keras, rencana, dan doa suatu saat apa yang kita impikan dapat tercapai.

Kedua, persembahan Yohanes Kartika Yudha, anggota baru JABAT ini bercerita kepada audiens melalui pidato berjudul “Antara Yudha dan Blitar”, dari Buku Panduan Dasar (Proyek 1-Mencairkan Kekakuan). Yudha menceritakan tanah kelahirannya yang berasal dari tempat yang sama dengan Bung Karno yaitu di Blitar, Jawa Timur. Menurutnya, banyak hal yang menarik dari Kota Blitar. Seperti kuliner, tempat wisata atau cerita sejarahnya. Karena itu dia mengajak audiens untuk berkunjung ke Kota Blitar.

Ketiga, pidato “Bahagia itu Hidup” oleh Rohmatul Khasanah. Sama halnya seperti pidato pertama dan kedua, pidato tersebut mengacu pada Buku Panduan Dasar (Proyek 1-Mencairkan Kekakuan). Wanita yang biasa dipanggil Ana ini menceritakan perjalanan hidupnya mulai dari kecil di Cirebon hingga saat ini berkarir di Jakarta. Menurut Ana, selalu ada hikmah dari setiap peristiwa yang kita lalui. Hendaknya kita hidup dengan bahagia karena bahagia itu hidup.

Keempat, Iin Maemunah menyampaikan proyek Buku Panduan Dasar (Proyek 2-Menyusun Naskah Pidato) dengan judul “Kulitku Sehat Kulitku Sayang”. Dokter kecantikan ini memberikan tips kepada anggota dan tamu yang hadir tentang bagaimana cara sehat untuk merawat kulit. Menurutnya ada 3 cara untuk mendapatkan kulit yang sehat. Kenali jenis kulit, hindari penggunaan krim secara sembarangan, dan konsumsi makanan serta minuman yang sehat.

Kelima, Diella Dachlan yang membawakan pidato “Penilai Umum yang Tidak Umum” dari Buku Panduan Lanjutan (Proyek 2-Berbicara untuk Menginformasikan). Diella menjelaskan bahwa ketika seseorang berperan sebagai penilai umum dalam pertemuan Toastmasters maka dia melatih 4 kemampuan, yaitu menyimak, mengamati, berpikir kritis serta memberi umpan balik. Dan ketika menjadi penilai umum, hendaknya menjadi penilai umum yang tidak umum agar membuat pertemuan lebih menarik.

Pada sesi kedua yaitu pidato dadakan, pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan mengacu pada tema yang telah ditetapkan. Selain pertanyaan, peserta juga dimintai pendapat terhadap sebuah pernyataan, misalnya “Perencanaan tanpa target hanya berupa angan-angan”.

Di sesi ketiga, Lesmana Nahar selaku Ketua JABAT menyampaikan materi dengan judul “Buat Alur Pidatomu dengan Benar”. Ketika berpidato, kita harus menyusun pidato dengan baik dari awal sampai akhir. Umumnya, sebuah pidato terdiri dari 3 bagian. Pembukaan, isi, dan penutup. Ada beberapa cara untuk membuat isi sebuah pidato menjadi lebih berarti. Katakan apa yang ingin kita katakan, katakan, dan katakan apa yang sudah dikatakan.

Penilaian umum menjadi sesi terakhir dari pertemuan tersebut. Ade Herawan selaku anggota yang bertugas sebagai penilai umum mengemas sesi penilaian dengan sedikit berbeda. Jika biasanya ketika memanggil anggota tim penilai langsung menyebut nama dan peran yang diemban, pada pertemuan ini disisipkan hal-hal yang menjadi ciri khas dari orang yang dipanggil. Seperti, “Pengantin baru ini bekerja sebagai peneliti di sebuah lembaga penelitian. Saya panggil penghitung bunyi tanpa makna hari ini, rekan saya Toastmasters Ucok”. Tak ayal, hal tersebut menimbulkan gelak tawa dari audiens. Membuat acara semakin ramai dan terasa akrab. Selain itu, untuk pertama kalinya anggota tim penilai menjelaskan peran yang diemban tanpa menggunakan teks.

Salah satu tamu yang hadir juga memberikan komentar terhadap pertemuan rutin JABAT ini. “Tiap kali presentasi saya belum dapat mempengaruhi audiens, terasa membosankan menurut atasan saya. Karena itu, saya ingin bergabung dan belajar banyak di sini”, kata Juniar Prayogi.

Pengumuman pembicara terfavorit menjadi penutup pertemuan selama 2 jam tersebut. Diella Dachlan terpilih sebagai pembicara terfavorit pada sesi pidato yang dipersiapkan, Rohmatul Khasanah memenangkan pidato dadakan sedangkan di kategori penilai individu terfavorit diraih oleh Lesmana Nahar.

Advertisements

Posted on March 1, 2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Laporan “pandangan mata” nya sempurna…. 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: