Monthly Archives: March 2015

PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS

“Saya pertama kali datang dan saya orangnya pemalu. Pengamatan saya tentang acara ini dari awal sampai akhir, banyak ilmu yang saya dapatkan di sini. Bagi saya acara ini sangat menarik sekali”

Pendapat yang disampaikan Rusli Abdulah, seorang peneliti muda, saat menjadi tamu dalam pertemuan rutin Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT). Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 28 Maret 2015 di Menara Kuningan, Jakarta Selatan. Suasana penuh kekeluargaan, meriah serta syarat inspirasi selalu mewarnai setiap kegiatan JABAT. Maka tak heran jika anggota dan tamu yang hadir berasal dari berbagai usia dengan beragam profesi.

Terdapat 3 sesi dalam acara ini, sesi pidato yang dipersiapkan, sesi pidato dadakan serta sesi penilaian umum. Di sesi pidato yang dipersiapkan, anggota yang menjadi pembicara diberikan waktu 5-7 menit untuk menyampaikan pidato yang sebelumnya memang sudah dipersiapkan. Sedangkan untuk pidato dadakan, anggota yang mengajukan diri sebagai pembicara, akan menjawab secara langsung sebuah pertanyaan sesuai dengan tema yang ditentukan pada minggu tersebut. Tersedia waktu maksimal 2 menit untuk menjawab pertanyaan yang telah dibacakan. Dan pada sesi penilaian umum, akan disampaikan laporan penilai individu terhadap pembicara yang tampil pada sesi pidato yang dipersiapkan. Serta terdapat pula laporan dari pencatat waktu, pemerhati tata bahasa, penghitung bunyi tanpa makna, dan penilai umum terhadap keseluruhan acara.

Ada 5 orang pembicara pada sesi pidato yang dipersiapkan. Pertama, Cephi Saepul Rohman yang membawakan pidato “Inilah Saya” dari Buku Panduan Dasar (Proyek 1-Mencairkan Kekakuan). Bankir muda ini berbagi cerita tentang perjalanan hidupnya, mulai dari lahir hingga SMA di tempat kelahirannya Cianjur, Jawa Barat. Kemudian berlanjut saat dia kuliah di Bandung dan sekarang berkarir di Jakarta. Pemuda Sunda ini juga menceritakan salah satu impiannya yaitu membangun bisnis di bidang fesyen.

Kedua, Abdul Manap Pulungan menyampaikan proyek Buku Panduan Dasar (Proyek 2-Menyusun Naskah Pidato) dengan judul “Mari Belajar Ekonomi”. Lelaki yang akan segera menjadi seorang ayah ini mengajak audiens agar tidak enggan belajar ekonomi karena banyak hal yang akan kita dapatkan 1). Ilmu ekonomi merupakan ilmu lengkap, baik dari segi teori maupun praktek 2). Belajar ilmu ekonomi sama artinya terlibat dalam pengambilan keputusan berbangsa dan bernegara 3). Ilmu ekonomi memiliki peluang kerja yang luas serta menjanjikan.

Ketiga, pidato “Tangan di Atas Lebih Baik dari Tangan di Bawah” oleh Dedy Herdian. Sama halnya seperti pidato kedua, pidato tersebut mengacu pada Buku Panduan Dasar (Proyek 2-Menyusun Naskah Pidato). Dalam kehidupan sehari-hari kita memahami bahwa orang yang memberi lebih mulia dari orang yang menerima. Memberi dalam hal ini tidak saja dalam bentuk materi, tetapi jauh lebih luas dari itu. Lelaki paruh baya ini mengajak audiens agar senantiasa memberi, karena Tuhan akan menambah rezeki orang-orang yang suka memberi, berbuat baik, dan suka membantu sesama.

Keempat, persembahan Indri Lesmana, wanita enerjik ini membagikan ilmu kepada anggota dan tamu yang hadir melalui pidato berjudul “Mari Berkenalan”, dari Buku Panduan Lanjutan (Proyek 1-Komunikasi Interpersonal). Menurutnya, seringkali kita merasa kikuk ketika berkenalan dengan orang baru. Namun, apabila kita bisa memahami tekniknya maka hal itu tidak akan menjadi sebuah masalah. Ada 4 level percakapan yang dijelaskan Indri, yaitu 1). Basa-basi 2). Menemukan fakta 3). Opini 4). Akrab.

Kelima, “Jangan Dipendam di Hati” yang dibawakan oleh Lesmana Nahar dari Buku Panduan Lanjutan (Proyek 5-Komunikasi Interpersonal). Bapak asal Padang, Sumatera Barat ini berbagi tips untuk menyampaikan sesuatu yang tidak kita sukai dari orang lain tapi tanpa menyakiti orang tersebut. Yaitu cari waktu yang tepat, muka yang manis (tersenyum) serta nada bicara dan bahasa tubuh yang tepat. Diharapkan melalui strategi ini kita tidak perlu lagi memendam di hati terhadap hal-hal yang membuat kita tidak nyaman.

Sebelum acara ditutup oleh ketua klub, diumumkan pemenang terfavorit minggu ini. Cephi Saepul Rohman yang tampil sebagai pembicara pertama berhasil menjadi pemenang terfavorit pidato yang dipersiapkan. Di kategori pidato dadakan terpilih Pandji Alfi sebagai terfavorit sedangkan Diella Dachlan sebagai penilai individu terfavorit. Foto bersama oleh seluruh anggota dan tamu yang hadir menjadi akhir dari kegiatan tersebut.

IMG-20150330-WA0001

JABAT HADIRI TOASTMASTERS SUMMIT

IMG-20150323-WA0003

Sabtu (21/3) bertempat di Plaza Bapindo, Jakarta Selatan, Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT) hadir dalam acara Toastmasters Summit. Tujuan diadakannya acara ini untuk meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum serta kepemimpinan bagi anggota Toastmasters. Hal ini sejalan dengan visi yang dibawa oleh Toastmasters Internasional, “Menyediakan suasana belajar yang positif bagi para anggotanya sehingga mereka berkesempatan mengasah kecakapan berkomunikasi dan kepemimpinan yang pada akhirnya mempertebal rasa percaya diri dan meningkatnya pertumbuhan pribadi”.

Selain JABAT acara tersebut juga dihadiri klub Toastmasters dari berbagai daerah di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya serta Medan. Jakarta Toastmasters Club, The Innovators Toastmasters, Sinar Mas Toastmasters Club, Excellence Club, Maranatha Toastmasters, merupakan beberapa contoh klub yang hadir. Hadir pula pejabat, mantan pejabat serta pengurus Toastmasters dalam acara ini. Antara lain Wardiman Djojonegoro (Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan-Pendiri JABAT), Steve Kosasih (CEO Transjakarta), Sutarno Kho (Gubernur Distrik 87), Mien Soenari (Mantan Gubernur Distrik 87), Michael Nicholson (Gubernur Divisi I), Zilva Boaz (Gubernur Divisi J), Afdal Ritzki (Asisten Gubernur Divisi I Bidang Pendidikan dan Pelatihan), Thomas Alfiandes (Gubernur Area I-3), Eko Prasetyo (Gubernur Area I-4), Muchamad Irfan (Gubernur Area I-5) serta Ikuyo Saputro Sato (Gubernur Area J-2).

Acara yang diikuti 120 peserta ini berlangsung sangat menarik, meriah, dan penuh dengan rasa kekeluargaan. Hal ini terlihat jelas dari antusiasme peserta selama berlangsungnya acara serta suasana keakraban yang tampak di antara mereka.

Dipandu oleh duo pembawa acara Glenn Djangkar dan Fransiska Purnamasari, acara diawali dengan sesi berbagi oleh Steve Kosasih (CEO Transjakarta). Steve bercerita tentang pengalaman hidupnya selama bergabung di Toastmasters. Banyak pengalaman berharga yang dia dapatkan di sini. Tidak hanya teknik berbicara di depan umum yang baik dan benar, namun juga tentang kepemimpinan. Pasca bergabung di Toastmasters, dia merasa karirnya meningkat pesat. Contoh nyatanya adalah saat ini, dimana dirinya berhasil menjadi CEO Transjakarta termuda. Maka tak heran, meski setiap hari disibukkan dengan urusan kantor, Steve masih aktif dalam kegiatan-kegiatan Toastmasters.

Kemudian dilanjutkan penyampaian materi oleh pembicara utama M. Ariff Azahari (Penasehat Wilayah 14 Toastmasters Internasional yang Membawahi 10 Negara ASEAN-Mantan Juara Lomba Pidato Distrik 87 Toastmasters Internasional) dengan tema “Rahasia Juara Pidato”. Menurut profesional asal Malaysia ini, ada 5 rahasia sukses untuk menjadi juara dalam lomba pidato. Gunakan emosi, banyak latihan, senantiasa tersenyum, gunakan hanya satu ide utama serta gagasan yang disampaikan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan tema di sesi kedua “Berani untuk Memimpin”. Menurut Ariff, sebagai manusia kita hanya diberi kesempatan hidup satu kali, maka gunakan dengan sebaik-baiknya. Salah satunya berani untuk memimpin. Ketika menjadi pemimpin kita belajar untuk mempengaruhi orang lain serta belajar untuk mengubah orang lain. Dan pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki tujuan. Di Toastmasters, dia merasa diajarkan untuk menjadi pemimpin yang baik. Itulah sebabnya dia masih bertahan hingga sekarang meski telah berkecimpung selama 17 tahun. Karena dia merasa banyak perubahan yang terjadi dalam dirinya sejak bergabung di Toastmasters. Salah satunya adalah peningkatan karir yang sangat drastis.

Setelah pembicara utama selesai menyampaikan materinya, tersedia sesi tanya jawab bagi peserta. Selain itu terdapat pula pembagian bingkisan dalam pertemuan ini. Hanya peserta yang bisa menjawab pertanyaan dari pembawa acara yang berhak mendapatkannya. Puluhan bingkisan yang tersedia sontak membuat acara semakin riuh serta semakin menambah semangat peserta untuk saling berebut menjawab pertanyaan. Misalnya, “Toastmasters sudah menyebar ke berapa negara?”. Bagi peserta yang belum berhasil menjawab pertanyaan, sebenarnya mereka pun sudah “beruntung”. Pasalnya, di awal saat mereka melakukan registrasi kehadiran, setiap peserta sudah mendapatkan bingkisan dari panitia, meski acara ini berlangsung gratis. Bingkisan tersebut berupa tas, flashdisk, payung, topi serta buku catatan, selain makanan ringan dan juga makan siang.

Bunbun Fong menjadi pembicara berikutnya dalam acara ini. Juara I Lomba Pidato Humor Divisi I Toastmasters Internasional 2014 ini berbagi cerita kepada audiens manfaat yang dia dapatkan selama bergabung di Toastmasters. Ada 3 manfaat yang didapatnya selama ini. Meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum, kepemimpinan, lingkungan yang bersahabat. Salah satu pengalaman paling berkesan yang dia dapatkan adalah ketika dirinya menyampaikan pidato pertama. Karena penampilannya yang bagus, selesai acara Bunbun mendapatkan tawaran pekerjaan dari salah seorang audiens. “Baru pidato pertama saja saya sudah ditawari pekerjaan. Bagaimana jika saya sudah menyampaikan pidato kesepuluh atau lebih. Bisa jadi saya ditawari menjadi CEO Transjakarta”, kata pemuda yang penuh semangat ini, yang spontan disambut gelak tawa seluruh audiens. Bunbun juga mengatakan bahwa belajar di Toastmasters kita tidak perlu takut. Karena kalaupun melakukan kesalahan kita tetap akan mendapat tepuk tangan, bukannya ejekan seperti halnya yang sering kita dapatkan di kehidupan sehari-hari.

Dunstan Chan (Mantan Gubernur Distrik 51-Mantan Juara Lomba Pidato Distrik 87 Toastmasters Internasional) menjadi pembicara terakhir dalam acara tersebut. Sama halnya dengan pembicara sebelumnya, lelaki berkacamata ini juga bercerita tentang pengalamannya selama bergabung di Toastmasters. “Toastmasters mendorong diri kita untuk terus tumbuh, terus lebih baik karena kita naik ke level yang lebih tinggi”, kata Dunstan kepada audiens. Belajar melalui praktek merupakan salah satu metode yang biasa digunakan di Toastmasters. Menurutnya, sesama anggota Toastmasters kita serasa memiliki satu mimpi, satu keyakinan. Hal itulah yang mendorong adanya ikatan kekeluargaan yang mengglobal di antara sesama anggota. Salah satu pengalaman berkesan yang dialaminya, saat dirinya berkunjung ke New York, Los Angeles, London, dan juga Sydney. Di sana dia menyempatkan diri datang ke pertemuan rutin Toastmasters. Dan Dunstan sangat tersanjung karena dia disambut dengan baik seperti keluarga sendiri. Selain itu, dia juga mengajak audiens agar hadir dalam Konferensi Tahunan Distrik 87 Toastmasters Internasional yang akan berlangsung pada 15-17 Mei 2015 di Kuching, Malaysia.

Selain mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman dari pembicara yang hadir, salah satu yang menarik dari acara Toastmasters Summit ini yaitu adanya tempat foto secara gratis. Di sini peserta dapat berfoto sendiri ataupun bersama-sama dengan berbagai karakter dan kata-kata lucu yang tersedia. Misalnya Topi Pesulap, Rambut Kribo Warna-warni, “Ganteng Ini Sungguh Anugerah” atau “Udah Ada yang Punya”. Setelah puas berfoto, mereka bisa langsung mendapatkan hasil cetakan dan juga softcopy dari panitia.

Dan sudah menjadi tradisi dari Toastmasters, acara yang berlangsung dengan penuh inspirasi ini berakhir dengan ditandai adanya foto bersama oleh seluruh peserta, pembicara serta panitia.

20150321_131146

PERTEMUAN RUTIN JABAT LIBUR SEMENTARA

nyepi-2014

Sehubungan adanya perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1937 maka pertemuan rutin Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT) pada tanggal 21 Maret 2015 diliburkan. Pertemuan rutin akan kembali diadakan tanggal 28 Maret 2015. Setiap hari Sabtu pukul 10.00-12.00 WIB di Menara Kuningan Lantai F3, Jakarta Selatan.

PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS

IMG-20150317-WA0012

“Saya tertarik belajar kemampuan berbicara di depan umum karena pekerjaan mengharuskan untuk sering melakukan presentasi. Acara ini dikemas secara menarik dan humoris. Saya juga terkejut dengan kemampuan rekan-rekan JABAT. Karena itu saya tertarik untuk bergabung di sini”

Kesan Heru Hermawan, pemuda asal Majalengka, Jawa Barat ketika menjadi tamu di pertemuan Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT). Klub JABAT senantiasa rutin mengadakan pertemuan mingguan setiap hari Sabtu pukul 10.00-12.00 WIB di Menara Kuningan, Jakarta Selatan. Tema yang diambil minggu ini “Belajar” dengan kata acuan “Canggung”.

Terdapat 5 orang anggota yang tampil dalam sesi pidato yang dipersiapkan. Pertama, persembahan Rohmatul Khasanah, gadis asal Brebes, Jawa Tengah ini berbagi ilmu melalui pidato berjudul “Mengurai Duka Pasca Bencana”, dari Buku Panduan Dasar (Proyek 2-Menyusun Naskah Pidato). Ana, panggilan akrabnya, menjelaskan untuk mengurai duka anak-anak pasca bencana dapat dilakukan melalui strategi BBM, yaitu Berdongeng, Bermain, dan Menari. Diharapkan, anak-anak dapat tumbuh dalam suasana yang positif dengan melupakan masa lalu sebagai korban bencana.

Kedua, pidato “Belajar dari Hal-hal Sederhana” oleh pemuda yang penuh semangat bernama Yohanes Yudha. Sama halnya seperti pidato pertama, pidato tersebut mengacu pada Buku Panduan Dasar (Proyek 2-Menyusun Naskah Pidato). Lewat pidatonya Yudha mengajak audiens untuk melakukan hal-hal kecil dengan baik dan sepenuh hati. Karena jika hal tersebut dilakukan, maka kita sedang menyiapkan diri terhadap terjadinya hal-hal besar dalam hidup kita.

Ketiga, Indrijati Pudjilestari menyampaikan proyek Buku Panduan Dasar (Proyek 9-Kemampuan Mempengaruhi) dengan judul “Bahasaku Bahasamu Bahasa Kita”. Wanita berjilbab ini menghimbau audiens agar tidak ragu menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. “Mari kita selalu berbahasa Indonesia yang baik dan benar di setiap kesempatan”, ucapnya di akhir pidato.

Keempat, Ade Herawan yang membawakan pidato “Matahariku Mataharimu” dari Buku Panduan Dasar (Proyek 7-Tunjang dengan Penelitian). Menurut Ade, mulai saat ini kita tidak perlu lagi takut dan anti terhadap sinar matahari, terutama sinar matahari pagi karena mempunyai banyak manfaat bagi tubuh. Antara lain untuk merangsang produksi vitamin D dalam tubuh, membunuh bakteri dan memperpanjang usia serta obat anti depresi.

Kelima, “Santan Baik untuk Tubuh” yang dibawakan oleh Trio Alamsyah dari Buku Panduan Lanjutan (Proyek 4-Pidato Membujuk). Trio menjelaskan bahwa banyak manfaat santan untuk tubuh. Misalnya mengandung lemak nabati serta tidak mengandung kolesterol. Karena itu, dia mengajak audiens untuk mengkonsumsi santan secara teratur, tidak hanya digunakan sebagai bahan pelengkap saja dalam bumbu masakan.

Di akhir acara dari pertemuan ini, Yohanes Yudha terpilih sebagai pembicara terfavorit sesi pidato yang dipersiapkan dan pidato dadakan, serta Diella Dachlan sebagai penilai individu terfavorit.

JABAT BORONG 4 GELAR DI KONTES AREA I-2 TOASTMASTERS INTERNASIONAL

IMG-20150313-WA0010

Luar biasa!!! Sebuah kalimat yang menggambarkan keberhasilan yang baru saja diraih oleh Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT) di Kontes Area I-2 Toastmasters Internasional. Dalam kontes tersebut JABAT berhasil melakukan sapu bersih 4 piala yang tersedia. Kemenangan JABAT dipersembahkan oleh Hariadi Suripto (Juara I Lomba Pidato yang Dipersiapkan), Ade Herawan (Juara I Lomba Pidato Dadakan), dan Indri Lesmana (Juara II Lomba Pidato yang Dipersiapkan dan Lomba Pidato Dadakan).

Peserta kontes ini merupakan Juara I dan II seleksi kontes di masing-masing klub. Dapat dikatakan bahwa peserta kontes area ini merupakan terbaik di antara yang baik. Dalam kontes area ini JABAT melawan Hakkindah Toastmasters. Perwakilan dari Hakkindah Toastmasters berhasil meraih Juara III Lomba Pidato yang Dipersiapkan dan Lomba Pidato Dadakan melalui Utami Setianingsih. Berlangsung di Menara World Trade Center, Jakarta Selatan, pada 12 Maret 2015, acara ini berlangsung dengan meriah.

Dibuka oleh Richie Jimmy Walia selaku ketua panitia pada pukul 18.30 WIB, acara ini juga dihadiri oleh pengurus Toastmasters. Antara lain Michael Nicholson (Gubernur Divisi I Distrik 87), Lie Cheulie (Gubernur Area I-2), Thomas Alfiandes (Gubernur Area I-3), Eko Prasetyo (Gubernur Area I-4), serta Ikuyo Saputro Sato (Gubernur Area J-2).

Kontes diawali dengan Lomba Pidato Dadakan. Pada sesi ini, keempat peserta mendapatkan pertanyaan yang sama. Ketika peserta pertama berpidato, ketiga peserta lainnya menunggu di luar ruangan. Pertanyaan yang diajukan kepada peserta, “Ceritakan tentang kehidupan kamu!”.

Kemudian dilanjutkan oleh Lomba Pidato yang Dipersiapkan. Sama halnya dengan Lomba Pidato Dadakan, terdapat 4 orang peserta dalam sesi ini. Pertama, Indri Lesmana yang menyampaikan pidato dengan judul “Sahabat”. Pekerja di bidang pemasaran ini menginspirasi audiens lewat pengalamannya yang mampu melewati salah satu momen berat dalam hidupnya. Dimana pada bulan Agustus 2013 Indri mengalami sebuah kecelakaan yang mengakibatkan dirinya tak mampu berjalan selama 2 bulan. Berkat kepedulian dari sahabat-sahabatnya, dia mampu melewati itu semua hingga bisa berjalan kembali seperti saat ini. Mulai dari menampung di rumah, mengajak jalan-jalan, menyemangati, hingga mengantarnya ke fisioterapi. Menurutnya, terkadang kita kurang menghargai keberadaan orang-orang di sekitar kita. Tapi, melalui sebuah peristiwa Tuhan telah mengingatkan kita arti penting kehadiran sahabat.

Kedua, pidato “Kisah Sedih Sang Penyendiri” oleh lelaki yang sangat teliti bernama Hariadi Suripto. Bercerita salah satu pengalaman pribadi Hariadi. Tentang rasa rendah diri yang dimilikinya. Sejak kuliah dia sering menyendiri dan diejek oleh teman-temannya karena cacat mata serta warna kulitnya berbeda dengan orang Indonesia pada umumnya. Hingga suatu hari, saat dirinya menempuh pendidikan pasca sarjana, Hariadi tidak lulus salah satu matakuliah seorang diri di kelas. Saat itu dia merasa sedih dan terpuruk. Beberapa temannya kemudian memberikan perhatian, salah satunya mengatakan, “Meskipun kita sedang susah, jangan pernah menyendiri”. Dari peristiwa tersebut dirinya mulai menyadari, meskipun kita memiliki kekurangan akan banyak orang yang peduli jika kita mau berbaur dengan lingkungan sekitar.

Ketiga, persembahan Mahmuri yang berbagi pengalaman kepada audiens melalui pidato berjudul “Melestarikan Lingkungan”. Menurutnya, lingkungan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia. Lingkungan yang sejuk akan membuat kita nyaman untuk tinggal. Mahmuri menceritakan salah satu pengalamannya saat berada di kampung halaman tepatnya di Tegal, Jawa Tengah. Lingkungan tempat tinggalnya berada di daerah perbukitan. Suatu hari, salah seorang tetangganya akan menebang pohon yang telah berusia 10 tahun. Saat itu dirinya sudah mengingatkan agar pohon tersebut jangan ditebang, khawatir dapat menimbulkan longsor. Namun saran tersebut diacuhkan oleh tetangganya. Hingga suatu malam, terjadilah bencana longsor, hingga anak dan istri tetangganya tersebut meninggal dunia. Dari kejadian tersebut Mahmuri mengajak kita agar selalu menjaga kelestarian lingkungan demi terwujudnya keseimbangan alam.

Keempat, Utami Setianingsih yang membawakan pidato “Terang Kehidupan”. Wanita ramah ini berbagi cerita ketika dirinya divonis penyakit kanker. Dokter menyarankan dirinya untuk melakukan pembedahan dan kemoterapi. Awal mula mengetahui berita tersebut dirinya sangat terkejut. Saat itu ia merasa seolah-olah langit akan runtuh. Utami merasa kehidupannya gelap seperti tak ada sinar. Namun bersyukur, orang-orang di sekitarnya berhasil menghibur dirinya. Dan melalui pengobatan tradisional akhirnya penyakit tersebut dapat disembuhkan. Pelajaran berharga dari kisah ini, semua yang terjadi dalam kehidupan sudah ada yang mengatur. Serahkan semuanya kepada Tuhan. Dengan ketenangan dan kepasrahan, kita akan memiliki terang dalam kehidupan. Dan sedikit demi sedikit jalan keluar akhirnya terbuka.

Sembari menunggu pengumuman dari dewan juri, tiap peserta mendapat sebuah pertanyaan dari pembawa acara. “Apa saja persiapan kamu untuk menghadapi kontes ini?”. Ade Herawan, salah satu peserta dari JABAT menjawab, “Pertama tentunya persiapan mental. Kedua, selama 1 minggu terakhir, setiap hari saat jam istirahat di kantor saya melakukan simulasi pidato dadakan bersama rekan saya. Baik itu pertanyaan tentang pengembangan diri, pengetahuan umum atau pertanyaan-pertanyaan yang biasa disampaikan dalam sesi pidato dadakan di Toastmasters”.

Setelah pengumuman dari dewan juri, masing-masing pemenang mendapatkan sebuah piala dan sertifikat, serta pengalaman yang tak ternilai harganya. Acara yang selalu dinantikan oleh anggota Toastmasters ini berakhir pada pukul 22.00 WIB. Ditandai dengan foto bersama antara pemenang dan audiens.

PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS

IMG-20150309-WA0000

“Ini pertama kali saya datang. Banyak hal baik sekali yang saya lihat, misalnya apresiasi saat kita berbicara, penilaian ataupun humor”

Komentar Kharisnantyo Adi, salah satu tamu yang hadir dalam pertemuan rutin Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT), komunitas yang didirikan pada 30 Juni 2007. Berlangsung di Menara Kuningan, Jakarta Selatan pada tanggal 7 Maret 2015, pertemuan tersebut mengambil tema “Perempuan”. Sedangkan kata acuan yang digunakan adalah “Wanita”. Tema tersebut diangkat dalam rangka menyambut Hari Perempuan Internasional yang dirayakan setiap tanggal 8 Maret.

Pada sesi pidato yang dipersiapkan ada 4 orang anggota yang tampil. Pertama, Abdul Manap Pulungan yang membawakan pidato “Inilah Saya” dari Buku Panduan Dasar (Proyek 1-Mencairkan Kekakuan). Lelaki yang akrab dipanggil Ucok ini berbagi cerita tentang perjalanan hidupnya mulai dari SD hingga SMA di tanah kelahirannya Padang Sidempuan, Sumatera Utara. Saat dia kuliah di Malang, Jawa Timur hingga saat ini berkarir sebagai peneliti di Jakarta. Dia berbagi kisah bagaimana dirinya harus bisa hidup mandiri dalam perjalanan tersebut.

Kedua, pidato “Indahnya Bersyukur” oleh gadis manis asal Klaten, Jawa Tengah bernama Dwiana Kurniawati. Sama halnya seperti pidato pertama, pidato tersebut mengacu pada Buku Panduan Dasar (Proyek 1-Mencairkan Kekakuan). Menceritakan pengalaman pribadi yang mengajarkan tentang pentingnya bersyukur. Bahwa ketika kita bersyukur maka kita bisa melakukan segala sesuatu dengan ikhlas dan pada akhirnya bisa memperoleh hasil yang maksimal.

Ketiga, kembali bercerita berdasarkan pengalaman pribadi, Aji Wibowo menyampaikan proyek Buku Panduan Dasar (Proyek 4-Ucapkan dengan Benar) dengan judul “Pikirkan Kita Bisa”. Pemuda berkacamata ini menginspirasi audiens lewat pengalamannya 7 tahun silam. Dimana Aji ingin melanjutkan kuliah, namun orang tuanya mengatakan tidak sanggup karena tak ada biaya. Melalui semangat yang membara, dia akhirnya bisa mendapatkan beasiswa sehingga mampu mewujudkan keinginan tersebut. “Jika kita berpikir kita bisa maka kita akan mampu menggapainya. Kejarlah! Raihlah!”, pesan Aji kepada anggota dan tamu yang hadir siang itu.

Keempat, persembahan Lesmana Nahar, ketua JABAT ini berbagi ilmu melalui pidato berjudul “Pidato Tanpa Persiapan”, dari Buku Panduan Lanjutan (Proyek 5-Pidato Khusus). Memang pidato yang disampaikan tanpa persiapan karena ini merupakan proyek khusus. Dari beberapa tema yang ada akhirnya terpilihlah tema tentang “Kewirausahaan”. Lesmana menjelaskan, orang-orang terkaya di dunia adalah mereka yang berprofesi sebagai wirausahawan. Contohnya Bill Gates, Waren Buffet ataupun Michael Hartono. Menurutnya, ada 3 alasan kenapa kita harus berwirausaha. Pendapatan terus meningkat, bisa diwariskan kepada anak cucu, dan bermanfaat bagi orang lain.

Pertemuan rutin ini diakhiri dengan panggung kehormatan. Di sini ketua klub memberikan piala kepada pemenang tiap kategori. Pada sesi pidato yang dipersiapkan Dwiana Kurniawati terpilih sebagai pembicara terfavorit, pidato dadakan dimenangkan oleh Abdul Halim sedangkan Diella Dachlan berhasil menjadi yang terfavorit di kategori penilai individu.

PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS

IMG-20150302-WA0000

Toastmasters adalah organisasi nirlaba internasional dari Amerika Serikat dengan misi utama menyiapkan lingkungan dan situasi belajar yang positif untuk menunjang pengembangan kemampuan komunikasi serta kepemimpinan para anggotanya. Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT) merupakan klub afiliasi Toastmasters Internasional yang berfokus pada pengembangan kemampuan komunikasi dalam Bahasa Indonesia. Metode pembelajarannya diadopsi langsung dari program Toastmasters Internasional.

Berlokasi di Menara Kuningan, Jakarta Selatan, berlangsung pertemuan rutin JABAT pada Sabtu, 28 Februari 2015. “Perencanaan” menjadi tema yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Perencanaan merupakan salah satu langkah awal untuk mencapai kesuksesan. Dengan adanya perencanaan, hidup kita menjadi lebih tertata dan tahu target apa yang harus kita capai.

Terdapat 4 sesi dalam pertemuan ini, sesi pidato yang dipersiapkan, sesi pidato dadakan, sesi pendidikan, dan sesi penilaian umum.

Lima orang anggota menjadi pembicara pada sesi pidato yang dipersiapkan. Pertama, “Jangan Berhenti untuk Bermimpi” yang dibawakan oleh Dedy Herdian dari Buku Panduan Dasar (Proyek 1-Mencairkan Kekakuan). Lelaki asal Padang ini menceritakan salah satu mimpinya saat masih kecil, yaitu untuk dapat mengunjungi Inggris. Hingga suatu hari dapat mewujudkan mimpi tersebut. Dia juga berpesan, kita sebagai manusia jangan pernah berhenti untuk bermimpi, melalui kerja keras, rencana, dan doa suatu saat apa yang kita impikan dapat tercapai.

Kedua, persembahan Yohanes Kartika Yudha, anggota baru JABAT ini bercerita kepada audiens melalui pidato berjudul “Antara Yudha dan Blitar”, dari Buku Panduan Dasar (Proyek 1-Mencairkan Kekakuan). Yudha menceritakan tanah kelahirannya yang berasal dari tempat yang sama dengan Bung Karno yaitu di Blitar, Jawa Timur. Menurutnya, banyak hal yang menarik dari Kota Blitar. Seperti kuliner, tempat wisata atau cerita sejarahnya. Karena itu dia mengajak audiens untuk berkunjung ke Kota Blitar.

Ketiga, pidato “Bahagia itu Hidup” oleh Rohmatul Khasanah. Sama halnya seperti pidato pertama dan kedua, pidato tersebut mengacu pada Buku Panduan Dasar (Proyek 1-Mencairkan Kekakuan). Wanita yang biasa dipanggil Ana ini menceritakan perjalanan hidupnya mulai dari kecil di Cirebon hingga saat ini berkarir di Jakarta. Menurut Ana, selalu ada hikmah dari setiap peristiwa yang kita lalui. Hendaknya kita hidup dengan bahagia karena bahagia itu hidup.

Keempat, Iin Maemunah menyampaikan proyek Buku Panduan Dasar (Proyek 2-Menyusun Naskah Pidato) dengan judul “Kulitku Sehat Kulitku Sayang”. Dokter kecantikan ini memberikan tips kepada anggota dan tamu yang hadir tentang bagaimana cara sehat untuk merawat kulit. Menurutnya ada 3 cara untuk mendapatkan kulit yang sehat. Kenali jenis kulit, hindari penggunaan krim secara sembarangan, dan konsumsi makanan serta minuman yang sehat.

Kelima, Diella Dachlan yang membawakan pidato “Penilai Umum yang Tidak Umum” dari Buku Panduan Lanjutan (Proyek 2-Berbicara untuk Menginformasikan). Diella menjelaskan bahwa ketika seseorang berperan sebagai penilai umum dalam pertemuan Toastmasters maka dia melatih 4 kemampuan, yaitu menyimak, mengamati, berpikir kritis serta memberi umpan balik. Dan ketika menjadi penilai umum, hendaknya menjadi penilai umum yang tidak umum agar membuat pertemuan lebih menarik.

Pada sesi kedua yaitu pidato dadakan, pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan mengacu pada tema yang telah ditetapkan. Selain pertanyaan, peserta juga dimintai pendapat terhadap sebuah pernyataan, misalnya “Perencanaan tanpa target hanya berupa angan-angan”.

Di sesi ketiga, Lesmana Nahar selaku Ketua JABAT menyampaikan materi dengan judul “Buat Alur Pidatomu dengan Benar”. Ketika berpidato, kita harus menyusun pidato dengan baik dari awal sampai akhir. Umumnya, sebuah pidato terdiri dari 3 bagian. Pembukaan, isi, dan penutup. Ada beberapa cara untuk membuat isi sebuah pidato menjadi lebih berarti. Katakan apa yang ingin kita katakan, katakan, dan katakan apa yang sudah dikatakan.

Penilaian umum menjadi sesi terakhir dari pertemuan tersebut. Ade Herawan selaku anggota yang bertugas sebagai penilai umum mengemas sesi penilaian dengan sedikit berbeda. Jika biasanya ketika memanggil anggota tim penilai langsung menyebut nama dan peran yang diemban, pada pertemuan ini disisipkan hal-hal yang menjadi ciri khas dari orang yang dipanggil. Seperti, “Pengantin baru ini bekerja sebagai peneliti di sebuah lembaga penelitian. Saya panggil penghitung bunyi tanpa makna hari ini, rekan saya Toastmasters Ucok”. Tak ayal, hal tersebut menimbulkan gelak tawa dari audiens. Membuat acara semakin ramai dan terasa akrab. Selain itu, untuk pertama kalinya anggota tim penilai menjelaskan peran yang diemban tanpa menggunakan teks.

Salah satu tamu yang hadir juga memberikan komentar terhadap pertemuan rutin JABAT ini. “Tiap kali presentasi saya belum dapat mempengaruhi audiens, terasa membosankan menurut atasan saya. Karena itu, saya ingin bergabung dan belajar banyak di sini”, kata Juniar Prayogi.

Pengumuman pembicara terfavorit menjadi penutup pertemuan selama 2 jam tersebut. Diella Dachlan terpilih sebagai pembicara terfavorit pada sesi pidato yang dipersiapkan, Rohmatul Khasanah memenangkan pidato dadakan sedangkan di kategori penilai individu terfavorit diraih oleh Lesmana Nahar.