PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS

IMG-20150202-WA0000

Menurut penelitian, ketakutan terbesar manusia bukanlah kematian, bencana alam ataupun terhadap nuklir. Namun, ketakutan terbesar manusia ternyata adalah berbicara di depan umum. Keterampilan berbicara di depan umum sangat penting untuk dimiliki oleh setiap orang. Saat rapat, wawancara kerja ataupun bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, kita perlu menggunakan kemampuan tersebut.

Lesmana Nahar selaku ketua klub Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT) pernah mengatakan, “Kemampuan berbicara di depan umum itu bisa dipelajari. Kunci utamanya adalah sering praktek”. Ia menambahkan, “Kemampuan berbicara di depan umum dibutuhkan oleh semua orang dari berbagai latar belakang profesi. Karena itu penting bagi setiap orang untuk melatihnya”.

Terkait hal itu, JABAT selaku komunitas yang mengajarkan keterampilan berbicara di depan umum serta kepemimpinan, mengadakan pertemuan rutin mingguan. Kegiatan ini diselenggarakan pada Sabtu (31/1) di Menara Kuningan, Jakarta Selatan.

Pertemuan berlangsung dengan meriah, penuh kekeluargaan serta inspirasi. Hal inilah yang membuat JABAT mudah dikenal dan diterima oleh berbagai kalangan. Anggota klub ini terdiri dari berbagai latar belakang profesi, diantaranya bankir, dokter, pengusaha, kontraktor, guru, dan sebagainya. Dengan batas usia minimal anggota 18 tahun, klub ini tidak membatasi usia maksimal bagi anggotanya. Bahkan, salah seorang anggota Toastmasters adalah seorang nenek yang telah berusia 66 tahun.

Terdapat 3 sesi dalam acara ini, sesi pidato yang dipersiapkan, sesi pidato dadakan serta sesi penilaian umum. Di sesi pidato yang dipersiapkan, anggota yang menjadi pembicara diberikan waktu 5-7 menit untuk menyampaikan pidato yang sebelumnya memang sudah dipersiapkan. Sedangkan untuk pidato dadakan, anggota yang mengajukan diri sebagai pembicara, akan menjawab secara langsung sebuah pertanyaan sesuai dengan tema yang ditentukan pada minggu tersebut. Tersedia waktu maksimal 2 menit untuk menjawab pertanyaan yang telah dibacakan. Dan pada sesi penilaian umum, akan disampaikan laporan penilai individu terhadap pembicara yang tampil pada sesi pidato yang dipersiapkan. Serta terdapat pula laporan dari pencatat waktu, pemerhati tata bahasa, penghitung bunyi tanpa makna, dan penilai umum terhadap keseluruhan acara.

Terdapat 4 orang pembicara pada sesi pidato yang dipersiapkan. Pertama, persembahan April yang membagikan ilmu kepada anggota dan tamu yang hadir melalui pidato berjudul “Ketakutan yang Terbalik”, dari Buku Panduan Dasar (Proyek 2-Menyusun Naskah Pidato). Dalam menjalani aktvitas sehari-hari kita pasti pernah mengalami ketakutan terhadap sesuatu. Menurut April, ketika kita bisa membalikkan keadaan dengan melawan ketakutan tersebut, maka kita bisa melakukan sesuatu yang sebelumnya menurut kita sulit untuk dilakukan.

Kedua, kembali bercerita berdasarkan pengalaman pribadi, Titik menyampaikan proyek Buku Panduan Dasar (Proyek 4-Ucapkan dengan Benar) dengan judul “Menunggu itu Indah”. Wanita karir berkaca mata ini menginspirasi audiens lewat pengalamannya yang tidak bosan untuk menunggu. Menunggu merupakan salah satu aktivitas yang membosankan. Tapi bagi Titik, ketika kita dengan ikhlas dan sabar mau untuk menunggu, maka segala sesuatu yang kita tunggu akan indah pada saatnya.

Ketiga, pidato “Perjuangan Hidup” oleh penggemar makanan pedas bernama Ade Herawan. Sama halnya seperti pidato pembicara pertama dan kedua, pidato tersebut mengacu pada Buku Panduan Dasar (Proyek 5-Bahasa Tubuh). Menceritakan pengalaman pribadi yang mengajarkan tentang arti perjuangan hidup. Bahwa hidup adalah sebuah perjuangan yang harus dimenangkan. Keterbatasan fisik atau berbagai hambatan yang menghadang seharusnya tidak menjadi alasan bagi kita untuk menyerah atau meratapi keadaan, karena Tuhan menciptakan kita dengan berbagai anugerah yang luar biasa.

Keempat, Hariadi yang membawakan pidato “Bangsa Tempe” dari Buku Panduan Dasar (Proyek 7-Tunjang dengan Penelitian). Lelaki albino ini berbagi cerita tentang manfaat tempe bagi kesehatan. Diantaranya untuk mencegah penuaan dini serta kandungan proteinnya yang tinggi. Karena itu dia mengajak audiens untuk tidak malu disebut sebagai bangsa tempe hanya karena kita gemar mengkonsumsi tempe.

Sebelum acara ditutup oleh ketua klub, diumumkan pemenang terfavorit minggu ini. Hariadi yang tampil sebagai pembicara keempat berhasil menjadi pemenang terfavorit pidato yang dipersiapkan. Di kategori pidato dadakan terpilih Indri Lesmana sebagai terfavorit sedangkan Lesmana Nahar sebagai penilai individu terfavorit. Foto bersama oleh seluruh anggota dan tamu yang hadir menjadi akhir dari kegiatan tersebut.

 

Advertisements

Posted on February 1, 2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Pidato Hariadi dapat memotivasi kita semua. Jangan malu jadi bangsa tempe karena tempe bermanfaat bagi kesehatan, bahkan mencegah penuaan dini dg kandungan proteinnya yang tinggi.
    Ayo, kita makan tempe….!!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: