Monthly Archives: February 2015

KONTES GABUNGAN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS DAN EXCELLENCE TOASTMASTERS

IMG-20150224-WA0001

Sabtu (21/2) bertempat di Pizza Hut Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta Bahasa Toastmasters atau yang familiar disebut JABAT menyelenggarakan kontes gabungan bersama Excellence Toastmasters. Kontes ini terdiri dari 2 lomba, yaitu Lomba Pidato yang Dipersiapkan dan Lomba Pidato Dadakan. Berlangsung mulai pukul 09.00-14.00 WIB, acara yang dihadiri kurang lebih 40 orang ini berlangsung dengan meriah. Selain dihadiri oleh anggota JABAT dan Excellence Toastmasters, hadir pula anggota dari klub Hakkindah Toastmasters. Beberapa pengurus dari Toastmasters juga tampak hadir dalam pertemuan tersebut. Diantaranya Lie Cheulie (Gubernur Area I-2), Eko Prasetyo (Gubernur Area I-4), Niken Setiawati (Gubernur Area J-4), dan Afdal Ritzki (Asisten Gubernur Divisi I Bidang Pendidikan dan Pelatihan).

Kontes ini dipandu oleh Dora Shinta dan Bryan Gunawan. Setelah dibuka oleh pembawa acara, dilanjutkan dengan laporan ketua panitia. Dalam sambutannya Indrijati Pudjilestari selaku ketua panitia mengatakan, “Melalui kontes ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri serta kemampuan berbicara di depan umum bagi peserta. Selain itu, saya harap melalui kontes ini dapat memotivasi anggota Toastmasters untuk menjadi lebih baik”.

Sesi pertama acara ini diawali dengan Lomba Pidato yang Dipersiapkan klub JABAT. Pada sesi ini, audiens mendengarkan pidato dari anggota yang mengajukan diri sebagai peserta kontes. Pidato yang dipersiapkan harus sudah dibuat oleh peserta kontes sebelum hari H lomba. Durasi waktu yang disediakan 5-7 menit. Pidato pada kontes ini mengacu pada Buku Panduan Dasar Toastmasters yaitu Proyek 10-Mengilhami Pendengar. Sesuai dengan temanya, proyek ini bertujuan untuk mengilhami audiens dengan mengajaknya ke tujuan yang baik dan menantang audiens untuk mencapai batas tertinggi dari keberhasilannya.

Ada 4 orang peserta dari klub JABAT yang turut berpartisipasi. Pertama, persembahan Ade Herawan yang berbagi pengalaman kepada audiens melalui pidato berjudul “KUD”. Bercerita tentang pengalamannya untuk mewujudkan mimpi agar bisa berkuliah di perguruan tinggi impiannya meskipun kondisi ekonomi keluarganya sangat tidak memungkinkan. Namun berkat perjuangan yang pantang menyerah, dia akhirnya berhasil mewujudkan mimpi tersebut. Menurut Ade, untuk mencapai kesuksesan kita harus berani bermimpi. Dan ketika sudah mempunyai sebuah mimpi, kita juga harus mempunyai komitmen untuk mencapainya. Melalui strategi KUD yaitu Keyakinan, Usaha, dan Doa. Lajang muda ini menutup pidatonya dengan sebuah kalimat mutiara, “Bermimpilah setinggi langit, kalaupun nanti jatuh setidaknya kita masih bertaburan di antara bintang-bintang.”

Kedua, juga bercerita berdasarkan pengalaman pribadi, Indri Lesmana menyampaikan pidato dengan judul “Sahabat”. Pecinta olahraga futsal ini menginspirasi audiens lewat pengalamannya yang mampu melewati salah satu momen berat dalam hidupnya. Dimana pada bulan Agustus 2013 Indri mengalami sebuah kecelakaan yang mengakibatkan dirinya tak mampu berjalan selama 2 bulan. Berkat kepedulian dari sahabat-sahabatnya, dia mampu melewati itu semua hingga bisa berjalan kembali seperti saat ini. Mulai dari menampung di rumah, mengajak jalan-jalan, menyemangati, hingga mengantarnya ke fisioterapi. Menurutnya, terkadang kita kurang menghargai keberadaan orang-orang di sekitar kita. Tapi, melalui sebuah peristiwa Tuhan telah mengingatkan kita arti penting kehadiran sahabat.

Ketiga, pidato “Kisah Sedih Sang Penyendiri” oleh penggemar makanan pedas bernama Hariadi Suripto. Sama halnya seperti pidato pembicara pertama dan kedua, pidato tersebut juga menceritakan pengalaman pribadi pembicara. Tentang rasa rendah diri yang dimilikinya. Sejak kuliah dia sering menyendiri dan diejek oleh teman-temannya karena cacat mata serta warna kulitnya berbeda dengan orang Indonesia pada umumnya. Hingga suatu hari, saat dirinya menempuh pendidikan pasca sarjana, Hariadi tidak lulus salah satu matakuliah seorang diri di kelas. Saat itu dia merasa sedih dan terpuruk. Beberapa temannya kemudian memberikan perhatian, salah satunya mengatakan, “Meskipun kita sedang susah, jangan pernah menyendiri”. Dari peristiwa tersebut dirinya mulai menyadari, meskipun kita memiliki kekurangan akan banyak orang yang peduli jika kita mau berbaur dengan lingkungan sekitar.

Keempat, Trio Alamsyah yang membawakan pidato “Keunikan Perayaan Imlek”. Lelaki yang baru saja menjadi ayah ini berbagi cerita tentang makna Imlek. Konon di Cina dulu sering terjadi badai. Namun, mendekati Imlek badai tersebut akhirnya berhenti. Sejak kejadian itu, Imlek dirayakan setiap tahun. Trio mengatakan bahwa Imlek bermakna pengharapan. Bagaimana kita bersyukur kepada Tuhan, karena itu tiap kali perayaan salah satu tradisinya adalah berbagi angpao. Hal itu sebagai wujud dari rasa syukur tersebut. Dia juga menceritakan bahwa tiap perayaan Imlek semua keluarga akan berkumpul sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua. Di sini akan disajikan kue-kue bulat yang artinya hubungan, perkumpulan, dan persatuan. Kemudian ada pula kebiasaan foto bersama antaranggota keluarga. Karena itu, menurutnya Imlek adalah kesempatan yang sangat penting untuk berkumpul bersama keluarga.

Setelah istirahat sejenak, acara dilanjutkan sesi kedua yaitu Lomba Pidato yang Dipersiapkan klub Excellence Toastmasters. Dua orang kontestan telah siap menunjukkan kemampuan terbaiknya. Pertama, Evita Mapaye de Vera dengan judul pidato “Melihat Kembali Bintang”. Wanita asli Filipina ini berbagi kisah tentang pergolakan hidupnya ketika segala sesuatu tidak berjalan sesuai dengan yang diinginkan. Salah satunya saat dia bekerja di Qatar. Dimana ketika itu seharusnya dirinya bekerja sebagai guru, namun kenyataannya dia ditugaskan sebagai sopir bus anak-anak. Saat itu dirinya berusaha untuk sabar menjalani kenyataan yang ada. Evita bertekad, kalaupun dia menjadi sopir bus, dia ingin menjadi sopir bus terbaik yang pernah ada. Hingga akhirnya dia sekarang berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah internasional di Jakarta. Karena kinerjanya yang bagus, dirinya berhasil dipromosikan menjadi kepala sekolah.

Kedua, pidato “Dibawah Tekanan” oleh pengacara muda Rama Mahendra. Bercerita salah satu pengalaman unik Rama saat bekerja di salah satu kantor pengacara di Jakarta. Awal bekerja di sana, dirinya sangat santai karena tidak diberi beban pekerjaan yang berat. Sehingga setiap hari dia lebih banyak menghabiskan waktu di kantor untuk tidur ataupun bermain telepon genggam. Hingga suatu hari, pekerjaan di kantornya sangat sibuk. Hal ini membuat dirinya tak bisa lagi bersantai ria seperti biasanya. Namun, di balik semua itu lelaki lajang ini mengambil banyak pelajaran. Selain bisa produktif memaksimalkan waktu, Rama menjadi lebih mengerti bagaimana mengurus legal dokumen atau cara menangani klien dengan baik.

Sesi ketiga dari kontes ini berupa Pidato Dadakan yang dilaksanakan setelah istirahat makan siang. Pada sesi ini peserta kontes memberikan pidato singkat selama 1-2 menit dengan menjawab sebuah pertanyaan dadakan yang diberikan oleh pembawa acara. Manfaat pidato dadakan ini adalah untuk melatih kita memberi sambutan singkat tanpa dipersiapkan dalam sebuah acara. Selain itu juga melatih kita untuk memberi jawaban yang terstruktur dan terarah ketika dimintai pendapat secara tiba-tiba oleh atasan atau dalam menanggapi pertanyaan wawancara kerja.

Semua peserta diberi sebuah pertanyaan yang sama. Karena itu, ketika seorang peserta berpidato, peserta yang lain menunggu di ruangan berbeda. Ada 5 orang peserta dari klub JABAT sedangkan dari Excellence Toastmasters berjumlah 2 orang. Peserta kontes klub JABAT mendapat pertanyaan, “Jika kamu disuruh memilih profesi yang berbeda dari profesimu sekarang, profesi apa yang kamu pilih?”. Lain halnya dengan klub Excellence Toastmasters yang menantang peserta untuk menanggapi pernyataan, “Seseorang yang optimis akan melihat pelajaran setelah hujan”. Beragam jawaban muncul dari kontestan, baik dari klub JABAT maupun Excellence Toastmasters. Begitu dalamnya kualitas jawaban yang dilontarkan, membuat persaingan sesi ini terasa sangat ketat.

Sembari menunggu dewan juri bersidang untuk memutuskan juara lomba, pembawa acara memanggil seluruh kontestan untuk melakukan wawancara ringan. Salah satunya Ade Herawan dari JABAT. Mendapat pertanyaan, “Bagaimana perasaan kamu setelah mengikuti kontes ini?”, bankir asal Sidoarjo ini menjawab, “Luar biasa. Penampilan rekan-rekan sangat bagus. Hal ini menginspirasi saya untuk lebih baik lagi ke depan”.

Kemudian, tibalah saat yang paling ditunggu-tunggu yaitu pengumuman juara. Dibacakan oleh Lie Cheulie selaku ketua dewan juri, Pidato yang Dipersiapkan klub JABAT, Juara I diraih oleh Hariadi Suripto dan Indri Lesmana sebagai Juara II. Untuk Pidato Dadakan dimenangkan oleh Indri Lesmana sebagai Juara I, Hariadi Suripto sebagai Juara II serta Ade Herawan sebagai Juara III. Sedangkan untuk kategori Pidato yang Dipersiapkan klub Excellence Toastmasters Rama Mahendra terpilih menjadi juara dan Evita Mapaye de Vera berhasil menjadi yang terbaik di kategori Pidato Dadakan. Senyum bahagia terlihat jelas di wajah para juara saat menerima piala dan sertifikat penghargaan dari juri. Juara I di tiap kategori akan mewakili klub masing-masing untuk maju dalam kontes pidato level area. Jika berhasil menjadi yang terbaik di level area mereka akan mengikuti seleksi di level divisi, distrik, hingga akhirnya ke kejuaraan dunia. Khusus JABAT, kontes hanya berlangsung hingga level area. Karena di Indonesia klub Toastmasters yang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar hanya JABAT dan Hakkindah Toastmasters.

Acara yang berlangsung dengan penuh kekeluargaan dan inspirasi tersebut berakhir pada pukul 14.00 WIB yang ditandai dengan sesi foto bersama oleh seluruh peserta kontes dan anggota Toastmasters yang hadir.

KONTES GABUNGAN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS DAN EXCELLENCE TOASTMASTERS

IMG-20150217-WA0003

Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT) akan menyelenggarakan kontes gabungan bersama Excellence Toastmasters. Kontes ini terdiri dari 2 lomba, yaitu Lomba Pidato yang Dipersiapkan dan Lomba Pidato Dadakan. Acara akan diadakan pada hari Sabtu, 21 Februari 2015. Bertempat di Pizza Hut Gatot Subroto pada pukul 09.00-15.00 WIB.

PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS

IMG-20150217-WA0002

Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT) sebagai klub yang mempunyai misi mengasah kemampuan komunikasi dan kepemimpinan bagi anggotanya kembali mengadakan pertemuan rutin mingguan. Berlangsung di Menara Kuningan, Jakarta Selatan pada hari Sabtu (14/2), pertemuan tersebut mengambil tema “Menebar Kasih Sayang”. Sedangkan kata acuan yang digunakan adalah “Perhatian”. Kata acuan merupakan kata kunci yang digunakan dalam setiap pertemuan JABAT. Selama berlangsungnya acara setiap anggota dan tamu yang hadir disarankan untuk menggunakan kata acuan yang telah ditetapkan sebanyak-banyaknya.

Karena bertepatan dengan Hari Kasih Sayang, pengarah acara menganjurkan setiap anggota yang hadir menggunakan pakaian khusus. Bagi pria dianjurkan menggunakan pakaian berwarna merah dan warna merah muda untuk wanita. Di akhir acara, akan dipilih anggota atau tamu dengan pakaian terbaik.

Adanya hadiah berupa cokelat dari pengarah acara bagi anggota dan tamu yang dapat menjawab pertanyaan membuat pertemuan menjadi lebih hidup. Tak ayal lagi ketika pengarah acara melontarkan pertanyaan seperti, “Bagaimana sejarah Hari Kasih Sayang?” hampir semua anggota dan tamu yang hadir berebut mengacungkan tangan untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut.

Pada sesi pidato yang dipersiapkan ada 5 orang anggota yang tampil. Pertama, Fauzan Lubis yang membawakan pidato “Perkenalan Hidup” dari Buku Panduan Dasar (Proyek 1-Mencairkan Kekakuan). Bankir muda ini berbagi cerita tentang perjalanan hidupnya, dimana dia pernah menjadi pemuda yang nakal saat masih pelajar. Fauzan mengajak audiens untuk tidak menyesali masa lalu karena tidak dapat kembali. Yang terpenting adalah bagaimana kita menatap masa depan untuk kehidupan yang lebih baik.

Kedua, pidato “Bahagia itu Sederhana” oleh Aji Wibowo. Sama halnya seperti pidato pertama, pidato tersebut mengacu pada Buku Panduan Dasar (Proyek 3-Langsung ke Inti Masalah). Setiap orang pasti ingin bahagia. Dan berbagai cara dilakukan oleh manusia untuk mencapai kebahagiaan. Menurut Aji, untuk menjadi manusia yang bahagia sangat sederhana. Yaitu melalui 3 hal, bersyukur, bersahabat, dan berbagi.

Ketiga, Ade Herawan menyampaikan proyek Buku Panduan Dasar (Proyek 6-Teknik Vokal) dengan judul “Pertarungan Singa Kehidupan”. Pemuda yang mempunyai hobi menulis ini menginspirasi audiens lewat cerita tentang pertarungan kedua “singa” dalam diri manusia, yaitu antara sifat baik dan sifat buruk. Setiap hari kedua “singa” dalam diri manusia selalu bersaing untuk saling menjatuhkan. Dan imbalan yang kita peroleh adalah gambaran dari apa yang telah kita berikan setiap hari kepada “singa” tersebut.

Keempat, persembahan Dora Shinta, bendahara JABAT ini membagikan ilmu kepada anggota dan tamu yang hadir melalui pidato berjudul “Jatuh Cinta vs Memilih Jatuh Cinta”, dari Buku Panduan Lanjutan (Proyek 6-Teknik Vokal). Dora menyarankan agar kita tidak terlalu dalam ketika mencintai seseorang karena akan sangat tersakiti ketika telah berpisah. Menurutnya, memilih jatuh cinta potensi sakit hatinya lebih sedikit daripada jatuh cinta. Karena memilih cinta datang dari kesadaran yang kuat terhadap pasangan yang dipilih.

Kelima, “Kehidupan” yang dibawakan oleh Indri Lesmana dari Buku Panduan Dasar (Proyek 10-Mengilhami Pendengar). Wanita Sunda ini menceritakan perjalanan hidupnya yang berasal dari keluarga tidak mampu. Bagaimana dia berhasil mengubah nasibnya melalui 3 cara, yaitu bekerja keras, terus belajar serta memperluas pergaulan, sehingga saat ini bisa menjadi manusia yang mandiri. Ia juga menambahkan, bahwa kita jangan pernah berhenti berharap dan berjuang untuk mencapai kesuksesan.

Menjelang berakhir acara seperti biasanya salah satu tamu yang hadir diminta untuk menyampaikan kesannya terkait pertemuan tersebut. “Acara ini sangat bagus untuk saya agar dapat menyampaikan pendapat dengan baik dan lancar”, kata Abdul Manap Pulungan sebagai tamu yang berkesempatan menyampaikan pendapatnya.

Sesi terakhir dari pertemuan rutin ini berupa panggung kehormatan. Di sini ketua klub memberikan piala kepada pemenang tiap kategori. Pada sesi pidato yang dipersiapkan Indri Lesmana terpilih sebagai pembicara terfavorit, pidato dadakan dimenangkan oleh Yohanes Yudha sedangkan Diella Dachlan berhasil menjadi yang terfavorit di kategori penilai individu. Dan untuk kategori berbusana terbaik jatuh kepada Safrudiningsih.

JABAT MENYELENGGARAKAN PERTEMUAN RUTIN GABUNGAN DENGAN HAKKINDAH TOASTMASTERS

IMG-20150209-WA0002

Banyak ilmu yang saya dapatkan di sini. Sehingga bisa mendukung pekerjaan saya yang sering mengharuskan presentasi”

Pendapat di atas disampaikan oleh Anna, seorang profesional muda, saat hadir untuk ketiga kalinya sebagai tamu dalam pertemuan rutin Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT). Sedangkan tamu lain bernama Yoshie berkomentar, “Acaranya ramai dan bagus. Saya belajar banyak dari pertemuan hari ini”.

Pada tanggal 7 Februari 2015, JABAT mengadakan pertemuan rutin mingguan di Menara Kuningan, Jakarta Selatan. Sedikit berbeda dengan pertemuan biasanya karena JABAT mengadakan pertemuan gabungan dengan Hakkindah Toastmasters. Klub Toastmasters yang dalam pertemuan rutinnya menggunakan 2 bahasa, yaitu Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Meski berasal dari dua klub berbeda, namun suasana keakraban begitu terasa di antara anggota JABAT dan Hakkindah Toastmasters.

“Menantang Diri Sendiri” merupakan tema yang diangkat pada pertemuan tersebut. Tema ini dibahas dalam rangka menyambut musim lomba pidato diantara sesama klub Toastmasters di Indonesia. Diharapkan melalui pembahasan tersebut dapat semakin memacu semangat anggota klub Toastmasters untuk berpartisipasi dalam lomba.

Pertemuan ini terdiri dari 3 sesi. Sesi pidato yang dipersiapkan, pidato dadakan, dan sesi berbagi.

Pembicara pertama pada sesi pidato yang dipersiapkan adalah Endang, menyampaikan pidato dari Buku Panduan Dasar (Proyek 5-Bahasa Tubuh) dengan judul pidato “Indahnya Perbedaan”. Pidato tersebut bercerita tentang indahnya perbedaan yang dimiliki negara kita tercinta Indonesia melalui keragaman budaya, agama, bahasa, ataupun adat-istiadatnya. Bapak paruh baya itu mengajak audiens untuk bersama membangun bangsa apapun latar belakang profesi kita. Kemudian dilanjutkan Safrudiningsih yang membawakan pidato “Ukuran Sukses” dari Buku Panduan Dasar (Proyek 10-Mengilhami Pendengar). Menurut wanita dengan selera humor tinggi ini, sukses adalah saling memberi, ada kebermanfaatan bagi orang lain. Terdapat 3 ukuran sukses, yaitu lahiriah dan batiniah, kearifan melihat sesuatu dengan hati serta sikap memberi. Penampilan terakhir oleh Trio Alamsyah. Dia menyampaikan proyek Buku Panduan Lanjutan (Proyek 3-Memenangi Penawaran) dengan judul “Transportasi Umum merupakan Solusi”. Trio mengatakan bahwa transportasi umum merupakan solusi untuk mengatasi kemacetan di kota metropolitan seperti Jakarta. Terdapat beberapa manfaat transportasi umum, diantaranya ekonomis, sehat, dan bersosialisasi dengan orang lain.

Berikutnya yaitu sesi pidato dadakan. Beberapa pertanyaan disampaikan kepada setiap peserta pada sesi ini. Salah satunya, “Bagaimana cara memotivasi diri agar selalu semangat menjalani aktivitas setiap hari?”.

Sebelum acara berakhir, disampaikan penilaian umum. Di sini setiap penilai memberikan penilaian secara lisan dan tertulis terhadap penampilan individu di sesi pidato yang dipersiapkan. Di samping itu, juga disampaikan penilaian terhadap jalannya acara dari awal sampai akhir oleh penilai umum.

Tanpa terasa, kegiatan yang berlangsung selama 2 jam ini harus sampai di penghujung acara, yaitu pengumuman pemenang terfavorit. Pemenang terfavorit pidato yang dipersiapkan adalah Safrudiningsih sedangkan untuk kategori pidato dadakan serta penilai individu terfavorit diraih oleh Eni dan Diana Anggraini. Pertemuan pun ditutup dengan foto bersama oleh semua anggota dan tamu yang hadir, baik dari JABAT maupun Hakkindah Toastmasters.

PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS

IMG-20150202-WA0000

Menurut penelitian, ketakutan terbesar manusia bukanlah kematian, bencana alam ataupun terhadap nuklir. Namun, ketakutan terbesar manusia ternyata adalah berbicara di depan umum. Keterampilan berbicara di depan umum sangat penting untuk dimiliki oleh setiap orang. Saat rapat, wawancara kerja ataupun bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, kita perlu menggunakan kemampuan tersebut.

Lesmana Nahar selaku ketua klub Jakarta Bahasa Toastmasters (JABAT) pernah mengatakan, “Kemampuan berbicara di depan umum itu bisa dipelajari. Kunci utamanya adalah sering praktek”. Ia menambahkan, “Kemampuan berbicara di depan umum dibutuhkan oleh semua orang dari berbagai latar belakang profesi. Karena itu penting bagi setiap orang untuk melatihnya”.

Terkait hal itu, JABAT selaku komunitas yang mengajarkan keterampilan berbicara di depan umum serta kepemimpinan, mengadakan pertemuan rutin mingguan. Kegiatan ini diselenggarakan pada Sabtu (31/1) di Menara Kuningan, Jakarta Selatan.

Pertemuan berlangsung dengan meriah, penuh kekeluargaan serta inspirasi. Hal inilah yang membuat JABAT mudah dikenal dan diterima oleh berbagai kalangan. Anggota klub ini terdiri dari berbagai latar belakang profesi, diantaranya bankir, dokter, pengusaha, kontraktor, guru, dan sebagainya. Dengan batas usia minimal anggota 18 tahun, klub ini tidak membatasi usia maksimal bagi anggotanya. Bahkan, salah seorang anggota Toastmasters adalah seorang nenek yang telah berusia 66 tahun.

Terdapat 3 sesi dalam acara ini, sesi pidato yang dipersiapkan, sesi pidato dadakan serta sesi penilaian umum. Di sesi pidato yang dipersiapkan, anggota yang menjadi pembicara diberikan waktu 5-7 menit untuk menyampaikan pidato yang sebelumnya memang sudah dipersiapkan. Sedangkan untuk pidato dadakan, anggota yang mengajukan diri sebagai pembicara, akan menjawab secara langsung sebuah pertanyaan sesuai dengan tema yang ditentukan pada minggu tersebut. Tersedia waktu maksimal 2 menit untuk menjawab pertanyaan yang telah dibacakan. Dan pada sesi penilaian umum, akan disampaikan laporan penilai individu terhadap pembicara yang tampil pada sesi pidato yang dipersiapkan. Serta terdapat pula laporan dari pencatat waktu, pemerhati tata bahasa, penghitung bunyi tanpa makna, dan penilai umum terhadap keseluruhan acara.

Terdapat 4 orang pembicara pada sesi pidato yang dipersiapkan. Pertama, persembahan April yang membagikan ilmu kepada anggota dan tamu yang hadir melalui pidato berjudul “Ketakutan yang Terbalik”, dari Buku Panduan Dasar (Proyek 2-Menyusun Naskah Pidato). Dalam menjalani aktvitas sehari-hari kita pasti pernah mengalami ketakutan terhadap sesuatu. Menurut April, ketika kita bisa membalikkan keadaan dengan melawan ketakutan tersebut, maka kita bisa melakukan sesuatu yang sebelumnya menurut kita sulit untuk dilakukan.

Kedua, kembali bercerita berdasarkan pengalaman pribadi, Titik menyampaikan proyek Buku Panduan Dasar (Proyek 4-Ucapkan dengan Benar) dengan judul “Menunggu itu Indah”. Wanita karir berkaca mata ini menginspirasi audiens lewat pengalamannya yang tidak bosan untuk menunggu. Menunggu merupakan salah satu aktivitas yang membosankan. Tapi bagi Titik, ketika kita dengan ikhlas dan sabar mau untuk menunggu, maka segala sesuatu yang kita tunggu akan indah pada saatnya.

Ketiga, pidato “Perjuangan Hidup” oleh penggemar makanan pedas bernama Ade Herawan. Sama halnya seperti pidato pembicara pertama dan kedua, pidato tersebut mengacu pada Buku Panduan Dasar (Proyek 5-Bahasa Tubuh). Menceritakan pengalaman pribadi yang mengajarkan tentang arti perjuangan hidup. Bahwa hidup adalah sebuah perjuangan yang harus dimenangkan. Keterbatasan fisik atau berbagai hambatan yang menghadang seharusnya tidak menjadi alasan bagi kita untuk menyerah atau meratapi keadaan, karena Tuhan menciptakan kita dengan berbagai anugerah yang luar biasa.

Keempat, Hariadi yang membawakan pidato “Bangsa Tempe” dari Buku Panduan Dasar (Proyek 7-Tunjang dengan Penelitian). Lelaki albino ini berbagi cerita tentang manfaat tempe bagi kesehatan. Diantaranya untuk mencegah penuaan dini serta kandungan proteinnya yang tinggi. Karena itu dia mengajak audiens untuk tidak malu disebut sebagai bangsa tempe hanya karena kita gemar mengkonsumsi tempe.

Sebelum acara ditutup oleh ketua klub, diumumkan pemenang terfavorit minggu ini. Hariadi yang tampil sebagai pembicara keempat berhasil menjadi pemenang terfavorit pidato yang dipersiapkan. Di kategori pidato dadakan terpilih Indri Lesmana sebagai terfavorit sedangkan Lesmana Nahar sebagai penilai individu terfavorit. Foto bersama oleh seluruh anggota dan tamu yang hadir menjadi akhir dari kegiatan tersebut.