PERTEMUAN RUTIN JAKARTA BAHASA TOASTMASTERS

Jakarta Bahasa Toastmasters atau biasa disingkat JABAT, komunitas yang fokus pada pengembangan keterampilan berbicara di depan umum dan kepemimpinan, kembali mengadakan pertemuan rutin mingguan. Berlangsung di Menara Kuningan pada tanggal 29 November 2014, pertemuan tersebut mengambil tema “Budaya Indonesia”. Sedangkan kata acuan yang digunakan adalah “Adat Istiadat”. Kata acuan merupakan kata kunci yang digunakan dalam setiap pertemuan JABAT. Selama berlangsungnya acara setiap anggota dan tamu yang hadir disarankan untuk menggunakan kata acuan yang telah ditetapkan sebanyak-banyaknya. Tentunya kata acuan yang digunakan berhubungan dengan tema yang telah ditentukan. Oleh karena itu, dalam setiap pertemuan JABAT tema dan kata acuan yang digunakan selalu berubah. Hal ini dilakukan agar setiap pertemuan dapat berjalan dengan dinamis.

Karena tema yang digunakan budaya Indonesia, pengarah acara mengharuskan setiap anggota yang hadir menggunakan pakaian batik. Ada yang menarik terkait penggunaan busana batik tersebut. Jika di pertemuan rutin sebelumnya setiap anggota yang hadir bebas menggunakan pakaian yang dikehendaki (tentunya masih dalam koridor kesopanan dan kerapian), maka pertemuan kali ini terasa sedikit berbeda. Para anggota serasa menjadi PNS yang sedang lembur di hari Sabtu, memang selama ini familiar di masyarakat bahwa menggunakan pakaian batik saat bekerja adalah PNS. Saling mengomentari model batik yang digunakan juga menjadi “bumbu” pertemuan. Dan karena begitu eratnya kekeluargaan di klub ini, sampai ada anggota yang rela membawa batik lebih dari 1 buah untuk dipinjamkan ke anggota lain yang hari itu tidak membawa pakaian batik.

IMG-20141202-WA0018

Dan yang paling menarik perhatian dalam pertemuan tersebut adalah adanya hadiah berupa cokelat dari pengarah acara bagi anggota dan tamu yang dapat menjawab pertanyaan. Inovasi tersebut berhasil membuat pertemuan menjadi semakin meriah dan menyenangkan. Tak ayal lagi ketika pengarah acara melontarkan pertanyaan seperti, “Darimana asal alat musik sasando?” hampir semua anggota dan tamu yang hadir berebut mengacungkan tangan untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut. Maka tak heran jika audiens yang cekatan dan pengetahuan budayanya luas bisa membawa pulang cokelat lebih dari satu buah.

Pada sesi pidato yang dipersiapkan ada 4 orang anggota yang tampil. Pertama, Aji Wibowo yang membawakan pidato “Lari Yuk” dari Buku Panduan Dasar (Proyek 2-Menyusun Naskah Pidato). Penggila olahraga lari ini berbagi cerita tentang manfaat lari bagi kesehatan. Lari sebagai olahraga yang murah dan sederhana sangat mudah dilakukan, tergantung dari komitmen tiap individu. Karena itu dia mengajak audiens untuk rajin berlari agar tubuh tetap sehat dan bugar.

Kedua, pidato “Kekuatan Keyakinan” oleh bankir muda asal Sidoarjo bernama Ade Herawan. Sama halnya seperti pidato pertama, pidato tersebut mengacu pada Buku Panduan Dasar (Proyek 2-Menyusun Naskah Pidato). Menceritakan pengalaman pribadi yang mengajarkan tentang pentingnya keyakinan. Bahwa kekuatan keyakinan dapat mengantar seseorang menuju sebuah kesuksesan. Meskipun dalam perjalanan menuju kesuksesan tersebut banyak terdapat rintangan, namun selama seseorang yakin terhadap kemampuan diri sendiri dan pantang menyerah maka hal-hal yang tidak mungkin pun dapat menjadi mungkin untuk dilakukan.

Ketiga, kembali bercerita berdasarkan pengalaman pribadi, Jimmy Syafrizal menyampaikan proyek Buku Panduan Dasar (Proyek 3-Langsung ke Inti Masalah) dengan judul “Berani Menemukan Hal Baru”. Pemuda yang mempunyai hobi mendaki gunung ini menginspirasi audiens lewat pengalamannya yang berani “mendobrak” tradisi keluarga. Dimana mayoritas keluarganya berprofesi sebagai pengajar, tetapi dia berani menemukan hal baru dengan berprofesi sesuai dengan hasratnya yaitu sebagai konsultan teknologi informasi. Awalnya banyak tentangan yang didapat, namun lewat penjelasan-penjelasan yang rasional dia berhasil meyakinkan keluarganya dan membuktikan bahwa menemukan hal baru bukanlah sesuatu yang sulit.

Keempat, persembahan Lesmana Nahar, ketua JABAT sekaligus berprofesi sampingan sebagai motivator membagikan ilmu kepada anggota dan tamu yang hadir melalui pidato berjudul “Mari Hilangkan Budaya Berbantahan”, dari Buku Panduan Lanjutan (Proyek 3-Menghadapi Kritik). Dalam menjalani aktvitas sehari-hari setiap orang pasti tidak bisa lepas dari adanya kritik dari orang lain. Menurut Lesmana ada beberapa tipe orang ketika menghadapi kritik. Meninggalkan orang yang mengkritiknya, mencari alasan, menanggapi balik dengan emosi atau mencari jalan keluar. Solusi paling tepat untuk menghadapi kritik dari orang lain yaitu membiarkan dia menyampaikan kritik, mengucapkan terima kasih atas kritik yang disampaikan, mencari solusi permasalahan kemudian berdamai dengan keadaan.

Menjelang berakhir acara seperti biasanya salah satu tamu yang hadir diminta untuk menyampaikan kesannya terkait pertemuan tersebut. “Menurut saya bagus sekali acara ini. Saya berharap lewat kegiatan ini bisa meningkatkan kemampuan dan kepercayaan diri saya dalam berbicara di depan publik”, kata Ana sebagai tamu yang berkesempatan menyampaikan pendapatnya.

Sesi terakhir dari pertemuan rutin ini berupa panggung kehormatan. Di sini ketua klub akan memberikan piala kepada pemenang tiap kategori. Pada sesi pidato yang dipersiapkan Ade Herawan terpilih sebagai pembicara terfavorit, pidato dadakan dimenangkan oleh Ana sedangkan Diella Dachlan berhasil menjadi yang terfavorit di kategori penilai individu.

 

 

Advertisements

Posted on November 30, 2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: