Mengejar Mimpi

Oleh : TM Ade Herawan

Salah satu sesi yang sangat penting dalam setiap pertemuan Klub Toastmasters adalah sesi Pidato yang dipersiapkan, dimana setiap anggota akan menyampaikan pidato yang telah dipersiapkannya sesuai dengan proyek dari buku manual komunikasi handal yang diberikan oleh Toastmasters Internasional.

Pada pertemuan sabtu lalu , TM Ade Herawan anggota baru Klub Jakarta Bahasa Toastmasters menyampaikan pidatonya yang pertama dengan judul “mengejar mimpi” , dengan pidatonya ini TM Ade Herawan terpilih menjadi pembicara terfavorit hari itu.

Berikut ini adalah petikan pidato yang TM Ade Herawan sampaikan  :

“Ingin sukses tapi tidak mau gagal, bagai orang ingin bisa berenang tapi tidak mau basah”

 jabat terfavorit 181014

Pernyataan di atas menurut saya sangat tepat untuk mengawali cerita ini. Kesuksesan dan kegagalan bagaikan dua sisi mata uang. Saling berhubungan satu sama lain dan tak dapat dipisahkan. Jadi sudah menjadi hukum alam, kalau kita ingin meraih kesuksesan harus melalui kegagalan terlebih dahulu. Karena dari kegagalan-kegagalan itulah kita akan mendapat banyak pelajaran. Membuat kita lebih dewasa secara mental, untuk menjadi manusia yang lebih baik di kemudian hari.

Saya akan berbagi salah satu pengalaman pribadi dalam mengejar mimpi. Kisahnya terjadi 8 tahun lalu, ketika saya masih duduk di bangku SMA. Tentang bagaimana perjuangan saya untuk mewujudkan salah satu mimpi yaitu menjadi juara olimpiade. Kalau Thomas Alfa Edision harus melalui 9999 kegagalan sampai akhirnya bisa menemukan lampu pijar, alhamdulillah saya tidak sampai sejauh itu. Saya “hanya” perlu mengalami 4 kali kegagalan untuk dapat meraih mimpi menjadi juara olimpiade.

Kesempatan pertama terbuka saat saya mewakili sekolah untuk menjadi peserta Olimpiade Ekonomi di Universitas Brawijaya pada tahun 2004, hasilnya gagal. Kesempatan kedua saya dapatkan di tahun 2005 dalam acara Olimpiade Akuntansi yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), kembali saya harus menerima kegagalan. Masih di tahun 2005, saya mencoba peruntungan untuk ketiga kalinya melalui Olimpiade SPMB (sekarang SNMPTN) yang diadakan oleh salah satu LBB. Bertempat di Universitas Airlangga, lagi-lagi “makhluk” yang bernama kegagalan masih malas meninggalkan saya. Di awal bulan Maret 2006 terdapat acara Olimpiade Akuntansi di Universitas Brawijaya. Karena masih penasaran dengan kegagalan pertama sampai ketiga, kembali saya memutuskan untuk mengikuti kompetisi ini. Saat itu ekspektasi saya cukup tinggi, sangat berharap pulang dengan membawa piala kemenangan, tapi ternyata Tuhan masih menguji kesabaran saya. Untuk yang kesekian kalinya saya harus pulang dengan tangan hampa.

Tak lama setelah kegagalan dalam Olimpiade Akuntansi di Universitas Brawijaya, saya mendapat informasi tentang lomba olimpiade ekonomi dan ternyata masih di universitas yang sama. Saat itu saya berpikir mungkin ini adalah kesempatan terakhir untuk mewujudkan salah satu cita-cita selama ini. Mempersembahkan piala di bidang akademik bagi sekolah. Karena saat itu belum ada siswa di sekolah saya yang berhasil menjadi juara dalam kompetisi bidang akademik. Siswa di sekolah saya lebih sering mengharumkan almamater lewat prestasi-prestasi di bidang kesenian dan olahraga. Saya ingin menjadi pelopor dalam prestasi bidang akademik bagi sekolah.

Belajar dari kegagalan di perlombaan pertama hingga keempat, saat itu saya tidak ingin gagal lagi. Sebelum membentuk tim, saya mempelajari penyebab kegagalan selama ini. Kegagalan pertama, tidak adanya kekompakan tim. Kegagalan kedua, egoisme masing-masing anggota. Kegagalan ketiga, kurangnya persiapan materi. Kegagalan keempat, pembagian tugas yang tidak fokus.

Berdasarkan pengalaman dari kegagalan tersebut, saya menentukan kriteria ketika akan membentuk tim. 1) Tim tidak harus terdiri dari siswa paling pintar bidang ekonomi di sekolah, yang penting adalah orang yang berkomitmen 2) Adanya kekompakan dan rasa saling memiliki antaranggota tim 3) Pembagian tugas yang jelas. Akhirnya terbentuklah tim kami yang terdiri dari saya dan seorang rekan sekelas saya, satu orang lagi berasal dari kelas sebelah.

Saat itu, ada 3 tim yang akan mewakili sekolah kami dalam perlombaan tersebut. Karena keterbatasan finansial untuk biaya pendaftaran, transportasi, konsumsi serta akomodasi, kami berencana mengajukan permohonan dana kepada pihak sekolah. Perwakilan dari kami pun menghadap ke kepala sekolah, salah seorang diantaranya saya sendiri. Bukannya dukungan dan bantuan dana yang kami dapatkan, tapi justru caci-maki yang dipersembahkan untuk kami. Akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan dana pribadi, meskipun dengan keadaan yang apa adanya.

Perlombaan pun dimulai, pada tanggal 25 Maret 2006, dilaksanakan babak penyisihan berupa soal pilihan ganda. Dari babak ini, diambil 25 tim terbaik menuju babak semifinal. Beruntung 3 tim dari sekolah kami lolos ke babak selanjutnya.

Babak semifinal diadakan keesokan harinya, tepatnya 26 Maret 2006. Di babak semifinal, format kompetisi adalah cerdas cermat. Terdiri dari 5 sesi, tiap sesi diikuti oleh 5 tim semifinalis. Hanya tersedia 5 tempat di babak final dalam olimpiade ekonomi ini. Akhirnya tim saya dinyatakan lolos sebagai finalis. Sayang keberhasilan tim saya tidak diikuti 2 tim lain dari sekolah kami. Bahkan tim saya merupakan satu-satunya perwakilan dari SMA di Sidoarjo yang lolos ke babak final.

Babak final dilaksanakan hari itu juga setelah kami mendapat arahan dari panitia. Format lomba adalah analisis kasus. Tiap tim mendapat satu buah soal hasil undian, diberi waktu 15 menit untuk berdiskusi dengan anggota tim, kemudian mereka melakukan presentasi dan tanya jawab dengan 2 orang juri selama 15 menit. Penentuan juara dari hasil akumulasi nilai mulai babak penyisihan hingga babak final.

Setelah melalui proses seleksi yang panjang dari babak penyisihan hingga babak final, tibalah saat yang paling ditunggu-tunggu. Pengumuman juara lomba olimpiade ekonomi. Suasana tegang terlihat jelas saat itu di antara sesama finalis. Di akhir acara pembawa acara mengumumkan tim saya sebagai Juara II. Sorak gembira dan histeris terdengar dari rekan-rekan satu tim, satu sekolah serta sesama Sidoarjo. Kami tetap puas meskipun tidak keluar sebagai Juara I, karena kami sudah berusaha semaksimal yang kami bisa, mengeluarkan seluruh kemampuan. Saat itu juga saya langsung sujud syukur. Penantian saya selama 2 tahun terbayar sudah hari itu. Saya meraih predikat sebagai Juara II Olimpiade Ekonomi se-Jawa Timur dan Jawa Tengah. Akhirnya saya berhasil mempersembahkan sebuah prestasi bagi almamater.

Mengambil hikmah dari cerita saya di atas, sebenarnya tidak ada kata “kegagalan”. Tuhan hanya ingin kita belajar lebih banyak. Kita baru dikatakan gagal ketika berhenti untuk berusaha. Berhenti untuk berusaha menggapai kesuksesan. Kesuksesan adalah hak setiap orang. Pertanyaan mendasarnya adalah sejauh mana kita mau berjuang untuk meraih kesuksesan tersebut. Yang terpenting bukan berapa kali kita gagal, tapi bagaimana bisa bangkit ketika mengalami kegagalan.

Kebanyakan dari kita sebagai orang Indonesia hanya siap sukses saja, tapi tidak siap ketika mengalami kegagalan. Ketika kita akan mengikuti suatu kompetisi atau ingin menggapai suatu impian, harusnya dari awal sudah tertanam dalam benak kita bahwa akan terlebih dahulu melalui suatu proses yang bernama kegagalan. Sama halnya ketika kita masih balita dulu, tidak mungkin tiba-tiba kita bisa berjalan. Kita harus belajar merangkak terlebih dahulu, merayap, berjalan selangkah demi selangkah, dan disertai dengan jatuh berkali-kali, baru pada akhirnya kita bisa berjalan dengan sempurna.

Saya termasuk tipe orang yang tidak akan pernah berhenti mengejar mimpi sampai berhasil mendapatkannya. Bagi sebagian orang mungkin terkesan ambisius, tapi bagi saya mimpi adalah sesuatu yang harus kita perjuangkan, hingga kita berhasil meraihnya. Karena ketika kita berhasil mendapatkannya, ada suatu kepuasan tersendiri yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Perasaan bangga dan haru bercampur menjadi satu. Bangga karena kita berhasil melewati suatu proses yang tidak semua orang mampu melakukannya. Terharu karena ternyata kita mampu untuk menggapainya. Saya sangat menyukai kalimat salah satu novelis favorit saya Andrea Hirata berikut ini, “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”.

Advertisements

Posted on October 24, 2014, in Event. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: